Alkisah ada seseorang yang memiliki masalah dengan ketek (ketiak)-nya. Sebut saja namanya Ronron. Ketek Ronron bau sekali. Itulah alasan orang-orang enggan berlama-lama berdekatan dengan Ronron.

Ronron adalah orang yang sangat yakin bahwa segala hal pasti ada akhirnya. Seperti gelap malam yang berakhir saat pagi menjelang. Seperti hujan deras yang pada waktunya akan berhenti, dan juga seperti badai yang akan berlalu bila saatnya tiba. Ronron percaya, bila saat ini banyak orang yang menjauhi dia, maka hal itu pasti akan berakhir pada saatnya nanti.

Sayangnya Ronron hanya menunggu saat itu tiba tanpa melihat dirinya sendiri, tanpa melihat akar persoalan, tanpa berikhtiar. Jika demikian maka situasi yang dihadapi Ronron akan berakhir dalam kondisi semakin tidak ada orang yang mau dekat-dekat dengannya.

Mungkin Ronron bisa mendatangi orang-orang satu demi satu sambil bilang, “Menurut kamu aku nggak bau kan? Ketekku nggak bau kan? Kalau kamu bilang bau, saya pukul kamu!!” Atau dia memilih berkata lebih lembut, “Tolong dong jangan jauhi saya. Mau ya dekat-dekat saya.”

Tapi hal tersebut bukanlah jalan keluar karena Ronron tidak menyentuh akar masalah sama sekali. Ancaman atau rayuan yang dilakukan Ronron tidak mengubah keadaan: keteknya tetap bau. Akan lebih baik jika dia melihat dirinya sendiri sembari mencari penyebab masalah untuk selanjutnya dijadikan dasar penentuan jalan keluar. “Kenapa ya aku ketekku bau? Oh mungkin karena aku mandinya sebulan sekali.” “Kenapa ya ketekku bau? Mungkin karena aku nggak ganti-ganti baju padahal sudah sebulan.” Nah, ikhtiar yang bisa dilakukan Ronron antara lain mandi dan berganti pakaian tiap hari.

Dari kisah ketek bau itu dapat diambil pelajaran, jangan hanya menunggu sesuatu datang tanpa ikhtiar. Semua memang soal waktu, dan Allah telah memiliki ketetapan, tetapi manusia pun diberi kesempatan untuk menentukan pilihan dan merancang skenario versinya sendiri.

Pelajaran ketek bau itu disampaikan AA Gym dalam pengajian di Masjid Darut Tauhid, Bandung, Kamis (26/2/2010).