(Gambar: http://www.happyspork.com/images/picture2004.jpg)

Hati adalah bermuaranya niat. Semua orang bisa melakukan hal yang sama, contohnya menolong korban bencana, tetapi belum tentu punya niat yang sama. Mungkin ada yang memang benar-benar berniat menolong atau karena berniat mendapat sanjungan masyarakat. Kalau tentang niat, hanya manusia itu sendiri dan Tuhan yang tahu.

Ada kisah tentang sandal dan hati. Sandal berfungsi sebagai alas kaki saat berjalan, sehingga tidak perlu membawanya sampai ke hati. Bila sandal sudah masuk ke hati, maka yang memakai akan sengaja berjalan melenggak-lenggok dan sebagainya sehingga perhatian orang lain tertuju pada sandal yang sedang dipakainya (mungkin dia berlaku demikian karena sandalnya mahal, bermerk terkenal, rancangan perancang sandal terkenal, atau beli di luar negeri). Jika sudah begitu, niatnya pasti pamer.

Suatu kali ada seseorang yang pergi ke masjid dan meninggalkan sandalnya di luar pintu masjid. Saat sholat, dia tidak khusyuk karena teringat terus pada sandalnya yang wah tersebut. Ketika ruku’, bahkan dia mencuri-curi melihat ke arah pintu masjid sambil berharap bisa melihat keberadaan sandalnya di sana. Astaghfirullah, hanya karena sandal, dia meminggirkan perhatian yang seharusnya untuk Allah.

Usai shalat, si pemilik sandal (sebut saja namanya A) mencari-cari sandalnya. Dia begitu panik mengetahui sandal wah-nya tidak ada di tempat. “Ya ampun di mana sandal saya. Padahal sandal itu banyak kenangannya, harganya mahal lagi, dibeli di Paris pula,” ucapnya gusar dan dibumbui maki-makian. Padahal meski banyak kenangan, sandal itu sudah berkali-kali menginjak kotoran binatang, bahkan pada saat hilang pun di bawah sandal masih menempel kotoran kucing.

Ada orang lain juga yang kehilangan sandal sekeluarnya dari masjid (sebut saja namanya B). Karena sandalnya hilang, dia pun mengambil sandal milik orang lain untuk dibawa pulang.

Nasib serupa juga dialami C. Saat keluar masjid, sandalnya tidak ada. Dia menunggu sambil berharap ada orang yang khilaf mengambil sandal sehingga tertukar. Hingga seluruh jamaah pulang, tidak ada satupun sandal yang tersisa. “Inalillahi, sandal saya hilang. Tapi saya ikhlas Ya Allah, karena semua adalah milik-Mu. Mungkin ada orang yang tidak sengaja membawa dua pasang sandal. Kalau ada yang sengaja mengambil saya ikhlaskan itu buat dia, semoga ini terakhir kalinya dia mengambil sandal orang lain,” ujarnya sambil berjalan tanpa alas kaki meninggalkan masjid.

Kalau kita jadi oarang yang kehilangan sandal itu apa yang kita lakukan? Mungkin kita bisa memaki-maki pencuri yang tidak kita tahu itu. Mungkin puas bisa mengeluarkan semua kata-kata kasar, tapi sandal kita toh tetap hilang. Kita hanya akan menambah dosa saja telah mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Mungkin kita bisa mengambil sandal orang lain, tapi kalau begini apa bedanya kita dengan si pencuri sandal kita.

Jawaban terbijak mungkin kita akan mengikhlaskannya seperti yang dilakukan C. Dalam hati kita hanya ada Allah. Sehingga apa yang kita lakukan hanya untuk Allah. Sandal, rumah, baju, mobil, bahkan nyawa kita adalah milik Allah. Jadi ketika Allah meminta kembali apa yang dititipkannya pada kita, seharusnya kita tidak boleh marah. Ikhlas memang gampang diucapkan tapi tidak gampang dilakukan. Ya, perlu banyak belajar untuk itu.

Sepertinya enteng sekali menjalani hidup kalau dalam hati kita hanya ada Allah. Rasanya ringan sekali hidup ini kalau selalu mengingat kita semua sama, dan semua yang ada adalah milik Allah.

“Kok kamu hitam sih?” tanya D.

“Ya suka-suka Allah dong mau kasih saya warna apa. Kan saya ciptaan Allah,” ujar E sambil tersenyum.

“Kok kamu mau sih jadi guru di kampung kecil begini?” tanya D.

“Ah nggak apa-apa, murid saya dan murid guru-guru di kota itu juga sama kok, ciptaan Allah,” jawab E.

“Rumah kontrakan kamu kecil ya?” komentar D.

“Nggak apa-apa. Kontrakan kecil atau rumah besar itu sama saja kok, sama-sama punya Allah,” sahut E.

Niat yang ikhlas karena Allah, insya Allah akan banyak manfaatnya daripada mudharatnya.

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (QS. Huud : 15-16).

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya maka Allah akan menjadikan urusannya kacau dan kefakiran senantiasa berada di kedua matanya serta dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai niat/tujuannya maka Allah akan mengumpulkan baginya urusannya dan Allah menjadikan kekayaan pada hatinya serta dunia akan datang kepadanya dengan tunduk dan menyerahkan diri” (HR. Ibnu Majah).

“Barang siapa yang akhirat menjadi harapannya, Allah akan menjadikan rasa cukup didalam hatinya serta mempersatukan (mempermudah –pentj.) urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan patuh dan hina. Tetapi siapa yang dunia menjadi harapannya, Allah akan menjadikan kefakiran berada didepan matanya serta mencerai beraikan urusannya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sekadar apa yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi).

Dari Abu Hurairah t berkata: Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah namun dia tidak menuntutnya melainkan mendapatkan sesuatu dari benda duniawi maka dia tidak mencium bau surga di hari Kiamat” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
Wallahu a’lam bish-shawabi.

Semua dari hati menjadi substansi pengajian AA Gym di Masjid Darut Tauhid pada Kamis (26/2/2010).