Tags

Sebagai manusia biasa tentu pernah melakukan hal-hal konyol dalam hidup. Saya sebagai salah satu manusia biasa di muka bumi ini pun pernah melakukan hal-hal konyol. Hingga kini kalau ingat kekonyolan itu, saya masih suka tertawa sendiri. Kok bisa-bisanya terlintas ide konyol seperti itu ya…

1. Menyetrika rambut

Waktu itu saya sedang menyetrika baju. Di sebelah saya duduk sepupu yang waktu itu masih SMP. Televisi dinyalakan untuk menemani aktivitas menyetrika. Saat itu ada iklan tentang alat setrika rambut, sekali setrika rambut pun lurus dalam sekejap.

“Mbak, kamu kan keriting, sini rambutnya kusetrika,” ujar saya tiba-tiba pada sepupu.

“Pakai apa? Pakai setrika baju?” tanya dia.

“Iya. Kan sama aja sama setrika rambut itu. Kalau kita setrika baju, tadinya keriting jadi alus kan? Sama aja sama setrika rambut itu. Setrika rambut itu kan panas, setrika ini juga panas, jadi sama aja,” terang saya.

Sepupu pun setuju rambutnya saya setrika. Dia meletakkan kepalanya sedemikian rupa di atas meja sehingga saya bisa maksimal menyetrika rambutnya. Agar setrika tidak mengenai kulit kepala, saya menahannya dengan sisir. Kasihan sepupu saya, lehernya pegel dan rambutnya berasap. Setelah berjibaku dengan rambut dan setrika, taraaaa hasilnya pun tampak. Rambut sepupu saya lurus, tapi kaku. Dia pun jadi pusat perhatian seisi rumah. Tapi hanya dua kali praktek salon-salonan, soalnya lurusnya cuma sebentar dan rambut dia semakin kering saja😦

2. “Darah itu berwarna merah, Jendral!”

Setting: di rumah. Kostum: seragam SMP. Situasi: di dalam rumah hanya ada saya dan kedua adik saya. Saat itu saya baru saja pulang sekolah. Belum juga ganti baju, saya malah asyik ngaca karena punya poni baru. Tiba-tiba, kaca meja yang saya pegang jatuh dan pecah. Untung nggak pecah berkeping-keping.

“Apa yang jatuh, Mbak?” tanya adik perempuan saya.

“Ini kaca.” Tiba-tiba saya ngambil pecahan kaca sambil bilang ke adik  saya, “Darah itu berwarna merah, Jendral (ikut-ikutan adegan film G/30 S).”

“Mbak, kamu kenapa? Kamu main-main kan?” tanya adik saya rada-rada takut melihat saya mengatakan kalimat adegan film itu tanpa senyum.

Nggak lama adik perempuan saya kabur sambil menyambar adik bungsu kami yang lagi mainan di lantai. Mereka masuk kamar sambil berteriak-teriak ketakutan. Adik saya mengira saya sedang kesurupan. Saya mengetuk pintu kamar sambil terus melafalkan kalimat film itu. Rupa-rupanya teriakan dan tangisan kedua adik saya mengundang para tetangga. Mereka masuk ke rumah dengan leluasa karena saat itu pintu tidak dikunci.

“Mbak, kenapa? Kok Ivan nangisnya kenceng banget?” tanya salah satu tetangga.

“Eh emm, anu lagi mainan film-film-an,” ujar saya. Asli maluuuuuuuuu banget.

“Ya ampun kirain ada apa. Kok pada teriak sama nangis kenceng banget. Kalau mainan jangan yang serem-serem, Mbak, nanti adiknya pada takut,” nasihat para tetangga yang semakin membuat wajah saya merah kuning ijo di langit yang biru.

3. Nasi goreng a la saya

Waktu itu hari ibu, dan saya masih SMA. Niatnya mau menyenangkan ibu saya dengan memasak sarapan pagi. Ibu pun saya usir dari dapur agar memuluskan prosesi memasak nasi goreng a la saya. Nggak lama jadilah nasi goreng yang tampilannya nggak cantik sama sekali itu.

“Ini nasi goreng kenapa ya, kok kayak ada airnya?” ujar ibu saya dengan wajah seolah-olah mengatakan makanan itu nggak enak.

“Kan aku kasih air,” jawab saya enteng.

“Apa? Wueeek….”

Selain itu masih ada beberapa peristiwa ajaib yang saya ciptakan. Saking ajaibnya, saya sampai malu sendiri he he he… “Kadang-kadang dia memang terlalu kreatif,” ujar ibu suatu kali melihat keajaiban saya.