(Gambar: http://aisar.files.wordpress.com/2008/03/shalat1.jpg)

Setiap individu muslim memahami bahwa tujuan dirinya diciptakan ke dunia ini tiada lain dan tiada bukan adalah kecuali untuk beribadah kepada-Nya… Dia yang menciptakan langit, bumi, dan segala isinya… Dia yang telah menerbitkan matahari dari barat dan menenggelamkannya di timur. Dia yang telah mengutus seorang yang mulia di kalangan hamba-Nya… Dia yang menjaga kesucian al Quran dan menjaganya dari tangan-tangan perusak… Dialah Allah Rabbul ‘aalamiin…

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS. Adz Dzaariyaat, 51: 56)

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Ilaah melainkan Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al Anbiyaa, 21: 25)

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”,” (QS. An Nahl, 16: 36)

Peribadahan atau penghambaan atau pengabdian yang sempurna hanyalah untuk Allah semata.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam diin yang hanif.” (QS. Al Bayyinah, 98: 5)

Karenanya, Rasuulullah memberikan contoh kepada kita untuk senantiasa bersumpah dalam setiap shalat kita… Bersumpah untuk memurnikan peribadahan hanya kepada-Nya saja dengan membaca ayat:

“…sesungguhnya shalatku, nusuk-ku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al An’aam, 6: 162)

Itulah penghambaan yang sempurna, menyerahkan kehidupan dan kematian hanya kepada-Nya semata. Maka, tidak ada satu hal pun yang dilakukan kita di dunia ini melainkan dalam rangka menyempurnakan ibadah kita kepada-Nya. Setiap kata yang kita keluarkan dari lisan kita adalah ibadah, setiap duduk kita adalah ibadah, setiap kaki kita melangkah adalah ibadah, setiap mata ini memandang adalah ibadah, setiap kita berbaring adalah ibadah, setiap kita makan adalah ibadah, setiap kita bahagia adalah ibadah, setiap kita sedih adalah ibadah, setiap kita mencinta adalah ibadah, setiap kita membenci adalah ibadah. Setiap detak kehidupan kita adalah ibadah, karena jika tidak, berarti kita telah memalingkah wajah dari Allah. Bukankah dari Allah semua berasal dan kepada-Nya pula akan kembali..? Bukankah hanya Allah yang dapat memberi manfaat dan madharat..? Bukankah Allah pemberi rizqi, pengatur alam, pembuat hukum, yang menghidupkan dan mematikan..? Bukankah Allah yang akan menghisab kita di akhirat..? Itulah alasan mengapa kita harus menyempurnakan pengambaan kita kepada-Nya. Karena Dialah satu-satu-Nya Rabb yang haqq.

Jika kita melakukan sesuatu untuk selain Allah, maka kita telah berbuat syirik dalam peribadahan. Jika kita meyakini bahwa kehidupan dan kematian, manfaat dan madharat, rizqi, aturan atau hukum hadir dari sesuatu selain Allah, maka kita telah menyekutukan Allah dari sisi ke-Rubbubiyahan-Nya. Keduanya adalah syirik. Sedangkan tidak ada dosa yang tidak diampuni kecuali syirik.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisaa’, 4: 48)

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa’, 4: 116)

Ketahuilah, bahwa sebanyak apapun kita beramal shalih, jika masih tersimpan kesyirikan dalam hati kita, amalan tersebut tidak akan diterima di sisi Allah.

“Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, ia bekerja keras lagi kepayahan, ia memasuki api yang sangat panas (neraka),” (Al Ghasyiyah, 88: 2-4)

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’aam, 6: 88)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az Zumar, 39: 65)

Maka dari itu, tiada kata lain kecuali menyempurnakan penghambaan ini hanya kepada-Nya semata. Kita harus beriltizam (komitmen) dengan ikrar dan sumpah yang telah kita ucapkan, yakni Asy Syahadatain (dua kalimat syahadat), sebagai ijab qabul jual beli kita dengan Allah, yakni membeli syurga dan Ridha-Nya dengan harta dan jiwa kita, dengan penghambaan dan jihad kita.

Setelah kita memahami bahwa kita harus mengabdi dengan sempurna, maka sejak saat ini tiada lagi do’a yang akan kita panjatkan kecuali kepada-Nya. Karena “Do’a itu adalah sari ibadah” (HR. Tirmidzi). Sehingga tidak mungkin ada do’a kecuali kepada-Nya, tanpa penghalang dan tanpa perantara.

“Berdo’alah kamu kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang enggan untuk beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka dalam keadaan hina-dina”. (QS. Ghaafir 40: 60).

Maka, tidak ada rasa takut (khauf dan khasy-yah), kecuali kepada-Nya. “Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran, 3 : 175). ”

“Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku.” (QS. Al Baqarah 2: 150).

Tiada pengharapan (ar raja’) kecuali pada-Nya. “Untuk itu barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhanya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (QS Al Kahfi 18: 110). Hanya bertawakkal kepada-Nya. “Dan hanya kepada Allah-lah supaya kamu bertawakkal, jika kamu benarbenar orang yang beriman.” (QS. Al Maa’idah 5: 23).

Menyerahkan raghbah, rahbah, dan khusyu’ (ketundukan) kepada-Nya. “Dan hanya kepada Allah-lah kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. Al Maa’idah 5: 23).

Maka tidak ada inabah (39: 54), memohon pertolongan (1: 4), memohon perlindungan (113: 1 dan 114: 1-3), istighatsah (8: 9), sembelihan (6: 162), nadzar (76: 7), cinta (2: 165) dan benci atau permusuhan (60: 4) kecuali karena Allah semata. Barangsiapa memalingkan sebagian atau keseluruhan, maka ia telah mengkhianati Allah… Maka ia telah berbuat syirik… Maka segala amal shalihnya terhapus seketika, dan ia menjadi orang yang rugi di akhirat.

Menjadi seorang muslim berarti menjadi seorang muwahhid (ahli tauhid), yakni orang-orang yang telah memurnikan penghambaan hanya kepada Allah semata. Sedangkan para pengkhianat itu adalah ahli syirik.

Tidak mungkin dalam satu jiwa terdapat dua sifat ini. Tidak mungkin seseorang menjadi ahli tauhid sekaligus ahli syirik. Jika ia ahli tauhid maka ia bukanlah ahli syirik, jika ia ahli syirik maka ia bukanlah ahli tauhid. Karena tidak mungkin syirik dan tauhid bersatu, sebagaimana tidak mungkin bagi seseorang untuk bergerak sekaligus diam, atau ia berdiri sekaligus berbaring. Tidak mungkin…

Maka, pilihan ada di tangan kita… Menjadi muslim muwahhid atau menjadi musyrik lagi kafir… Wallahu ta’ala a’lam…

Copas dari group Pecinta Islam, ditulis oleh Al Fadhl.