Tags

“Mengenang cinta monyet waktu SD wkwkwkwkwkwk.” Itulah status Facebook teman SMP saya. Hi hi, cinta monyet dia itu ada di daftar teman FB-nya lho. He he apa reaksi tuh cowok ya kalau baca status teman saya itu.

Cinta monyet (cimon)…. Kenapa ya namanya cinta monyet? Padahal kan lebih bagus kalau namanya cinta kucing, cinta kelinci, atau cinta ikan. Kenapa harus monyet ya? Yang mencetuskan istilah itu buat pertama kalinya siapa sih?

Teman saya itu ganjen banget ya, udah suka-sukaan dari jaman SD. Mungkin waktu itu dia masih ngompol, ingusan, ileran, dan makannya juga masih berantakan. He he, padahal saya juga mengalami cinta monyet waktu SD. Dan ternyata, orang-orang yang hidupnya semasa sama saya, banyak sekali yang terkena virus cinta monyet saat masih berseragam putih merah. Ada apa gerangan sama generasi saya ini ya.

Nggak tanggung-tanggung, virus ini melanda ketika saya kelas 2 SD. Siapa yang ketiban sial dapat cinta monyet saya? Dialah si… emm… si… sebut saja Rocky (bukan nama sebenarnya). Awalnya yang sebel-sebel gitu, gara-gara sering digodain sama si Rocky akhirnya jadi suka deh. Nggak lama saya memproklamirkan sama mbak yang mengasuh saya kalau suka sama tuh cowok. Hua ha ha, kocak banget.

Nggak tahu kenapa ibu guru sering mempasangkan kami berdua buat duduk sebangku (sampai kelas 6). Terus suka jeles-jelesan nggak jelas gitu. Malu-malu nggak penting juga. Dulu dia sering berkeliaran di dekat rumah saya dengan geng sepedanya, juga nungguin saya pulang les (he he emang nungguin atau kebetulan aja ya dia n the gank nogkrong di pojok jalan itu).

Dan suatu pagi yang cerah, kala mentari belum lama menampakkan dirinya di ufuk timur, tiba-tiba dia memeluk saya. Tidaaaaaaaaaaaaaakkkk. Ya ampun ni bocah bacaannya apa sih, kok kepikir buat meluk cewek. Langsung saya nguber dia ke seluruh penjuru sekolah sambil bawa sapu.

Wuah lucu bangetlah…. Saat-saat masih sangat hijau (seperti hamparan rumput di lapangan sepak bola), masih polos, bebas mengatakan dan bertindak apapun (namanya juga anak-anak), dan nggak kenal yang namanya istilah jaga image. Iya, waktu itu kalau ingusan ya ingusan aja. Nggak perlu berubah jadi sosok yang tiba-tiba nggak ingusan. Bersyukur punya kepingan dalam berbagai warna di fase ‘kecebong’ saya.

Hmmm cimon, cilok, cimol, cireng, lho kenapa jadi makanan he he. Yeah cimon ini memang selalu bisa mengundang saya buat ketawa. Haduuuhh ini blog kok isinya jadi nostalgila melulu ya.