Tags

,

Di kelas saat itu ada 5 orang. Masing-masing baru selesai bimbingan tugas akhir, dan semua kompak melototin laptopnya. Tapi saya rasa kami semua waktu itu nggak ada yang berniat ngetik apa-apa. Buktinya kami malah ngobrol-ngobrol, sambil buka FB, youtube, dan situs berita Tanah Air.

“Saya lagi bosan, nggak mood gitu rasanya,” ujar salah seorang teman.

“Bosan? Nonton dorama saja, Bung,” saran teman yang lain.

“Dorama itu apa?”

“Itu film Jepang. Kan ada orang yang suka manga, nah manga itu ada yang dituangkan dalam bentuk komik, ada yang anime. Nah kalau ini orang-nya (maksudnya dimainkan oleh orang, bukan anime),” terang teman saya.

“Oh saya pikir tadi salah ngomong, diorama jadi dorama.”

“Nggak, dorama. Lumayanlah ngilangin stress, ceritanya kan macem-macem.”

“Ooh gitu, boleh dicoba tuh.”

Dari wikipedia, dorama merupakan kata yang berasal dari bahasa Jepang yang berarti serial drama televisi Jepang. Dorama punya beraneka macam jalan cerita seperti kehidupan sekolah, komedi, misteri, kisah detektif dan lain-lain. Cerita dari dorama memang ada yang diangkat dari kisah manga dalam komik.

Dorama ditayangkan di televisi Jepang selama lebih kurang 3 bulan dan mengikuti 4 musim di Negeri Sakura tersebut, yaitu Musim dingin (Januari – Maret), Musim semi (April – Juni), Musim panas (Juli – September) dan Musim gugur (Oktober – Desember). Setiap musimnya ditayangkan judul dorama yang baru.

Mayoritas dorama ditayangkan mulai pada pukul 21.00, 22.00 atau 23.00. Dorama yang ditayangkan pada malam hari diputar setiap minggunya dan biasanya memiliki jumlah episode antara 9 – 12 setiap musimnya. Sedangkan drama pagi biasa disebut asadora, ditayangkan setiap hari.

Film serial Jepang ya? Hmm, saya dulu jaman-jaman SMP-SMA pernah nonton sih di TV (siang-siang atau sore-sore gitu). Salah satu judul yang saya ingat adalah Under the Same Roof (ups ingetnya juga barusan, setelah sekian lama nggak saya ingat-ingat). Kalau nggak salah itu diputar saat saya kelas 3 SMP, jadi nggak bisa nonton full soalnya ada les di sekolah. Selain itu ada beberapa lagi yang lain tapi nggak inget deh judulnya apa.

Kalau lagi beli DVD, biasanya saya sering ketemu ibu-ibu yang cari-cari serial Jepang atau Korea. Kalau saya sih agak-agak males nonton yang serial soalnya butuh waktu lama. Jadi biarpun ada teman yang heboh serial Jepang atau Korea, biasanya saya nggak terpengaruh.

Teman saya yang mempromosikan dorama tadi sepertinya memang penggemar serial serial drama Jepang. Saya ingat waktu itu saya tanya sama dia film apa yang sedih, soalnya lagi pengen menangisi orang lain heu heu….

“Lo nonton One Litre of Tears aja. Itu sedih deh.”
“Oya?”
“Iya, gw aja nangis.”
“Elo? Lo nangis?” tanya saya nggak percaya.
“Iya, gw aja yang cowok nangis. Lo juga pasti nangis deh.”

He he he, tak terbayangkan deh teman saya itu duduk di depan TV sambil sesenggukan gara-gara drama Jepang. Padahal dia kan seringnya nonton film perang. Karena dia sebegitunya meyakinkan saya kalau dia menangis lantaran film itu, saya jadi agak tergerak hati buat nonton juga. Teman saya itu menyarankan saya nonton sejak akhir tahun lalu, tapi sampai sekarang saya belum juga nonton he he he. Bukan apa-apa, DVD tuh serial belum jadi bagian penghuni kotak DVD saya soalnya.