Tags

(Gambar: www.lecentreculturel.com)

Jam-jam di kamar saya menunjuk angka 9, artinya sudah pukul 21.00 WIB. Tiba-tiba ada SMS masuk, yang isinya memberitahukan kalau salah satu teman sekelas kami hilang. Ya hilang, karena dia sama sekali tidak bisa dikontak. Istri dan anaknya cemas, karena menurut saksi mata di kelas, teman saya itu sudah meninggalkan kampus sejak pukul 16.00 WIB. Kemana dia?

Panic attack. Saya nggak mau berpikiran buruk, tapi tanpa saya undang, pikiran buruk itu berseliweran juga di otak saya. Dengan sedikit gemetar saya telepon hape temen saya itu. Nggak nyambung. Telepon lagi. Nggak nyambung lagi. Telepon lagi. Nyambung. Akhirnya….

“Hallo,” sapa suara di seberang.

“Hallo, ini hape Bang E bukan?” tanya saya.

“Iya. Siapa ini?”

“Aku Bang, pake no aku yang lain. Abang nggak apa-apa? Abang di mana? Abang sehat?” Saya memberondongnya dengan pertanyaan.

“Eh saya di rumah. Saya baik-baik saja kok. Kenapa emang?” tanyanya seperti tanpa dosa.

“Ya ampun Bang, kami panik nyari Abang. Emang Abang tadi kemana? Syukur deh kalau baik-baik aja.”

“Tadi saya nonton 2012 di 21 BIP. Terpaksa nggak ngomong istri, kalau ngomong nanti nggak boleh, nanti ditelepon terus juga sama anak he he he.”

“Apa? Nonton 2012? Ya ampun, semua sampai pada panik loh.”

“Wah maaf ya, nggak maksud bikin panik semua orang. Soalnya saya penasaran sama 2012. Waktu itu kan kalian pada nonton nggak ngajakin saya.”

Pfuhh gara-gara 2012, teman saya ‘mengabaikan’ keluarganya. Ada-ada aja sih Bang E ini.

Cerita lainnya datang dari teman satu angkatan tapi beda jurusan. Dia ini seorang cowok, abdi negara gitu lah. Satu-satunya persamaan saya dengan dia adalah bimbingan tesis sama dosen yang sama.  Teman saya ini punya alergi aneh. Dia alergi dosen. Setiap kali kuliah sama dosen itu, dia ini langsung diare dan muntah-muntah. Makanya dari sejumlah kuliah dengan dosen itu, dia cuma masuk 2 atau 3 kali. Kok bisa ya alergi sama orang?

Cerita lainnya dari teman beda jurusan juga. Dia ini seorang cewek. Kepada saya dia cerita proses lamaran dan pernikahannya yang rada unik. Dia dilamar sama teman sekelasnya waktu kuliah S1 dulu. Mereka ini sebelumnya nggak ada hubungan apa-apa. Temen sekelas biasa. Tapi mungkin cowok yang jadi suaminya sekarang ini udah lama suka sama temen saya. Semuanya serba kilat. Dari lamaran sampai resepsi (yang katanya ala kadarnya) cuma makan waktu 3 hari. Saat resepsi juga masakan dari warteg-lah yang diangkut ke rumah teman saya ini untuk menjamu para tamu. Ck ck ck….

Selanjutnya adalah teman sekelas yang hobi tunjuk jari tanpa melihat situasi dan kondisi. Tapi ya gitu, cepat tunjuk jari, cepat pula menarik kembali tangannya. Kadang-kadang dosen kan sibuk utak-atik power point di laptop, nah temen saya ini langsung deh tunjuk jari. Nggak jelas apa maksudnya. Kadang-kadang kalau sekelas lagi ketawa sama joke dosen bule, temen saya ini nyeletuk, “Halah Sir.. Sir… kowe ki ngomong opo. Opo lucune (Anda itu bilang apa. Apa lucunya),” sambil tertawa ngakak. Aneh iih… hi hi hi…