Tags

,

Sebel dan suka itu bedanya tipis ya. Soalnya saya dulu sebel sama temen saya, eh akhirnya saya suka sama dia. Mmm maksudnya, saya suka berteman sama dia.

Dulu, di mata saya, temen saya itu sok cool, sok gaul. Pokoknya bedalah sama saya yang emang cool dan gaul, ha ha ha kalau begini sih apa bedanya saya sama dia ya. Di mata saya dulu, dia itu enggak cihuy.

Pernah suatu kali pas saya piket malam, temen saya itu belom pulang. Saya lagi sibuk telepon narasumber, juga terima laporan teman-teman di lapangan, eh temen saya itu nyanyi-nyanyi. Mending kalau enak didenger, nah ini malah bikin saya kesel, pusing, bete lah.

Teman saya ini dengan semena-mena sering mengandangkan saya di kantor. Akibatnya apa? Saya kan kehilangan popularitas di lapangan. Ha ha, bukan gitu maksudnya. Saya merasa belum saatnya sosok semuda saya harus menghabiskan waktu di balik meja. Saya lebih cocok di lapangan, karena kadang-kadang saya suka kelebihan energi. Menurut saya, dengan lebih sering di lapangan, saya akan lebih mudah menjalin relasi, dan punya kepuasan sendiri lah.

Pun ketika desk olahraga meminta saya untuk gabung, teman saya itu menghalang-halangi. Waktu itu saya sebel banget. Saya kan ingin tantangan dan pengalaman baru. Rasanya saat itu pengen lemparin temen saya itu pake buku-buku yang berhamburan di meja.

Selain itu masih ada sederet peristiwa, yang menurut saya, dia itu telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan. Tapi…. Kami malah sering teleponan. Kalau siang hari, saat saya di lapangan, dia membuat saya seperti kutu loncat yang harus loncat sana sini di waktu yang sempit, malamnya dia akan minta maaf. Waktu saya sakit (penyakit rakyat kebanyakan sih, demam, magh, diare) dia akan memberi saya wejangan untuk jaga kesehatan.

Kadang dia sangat jahil, melempar tisu bekas ngelap ingus ke arah saya. Kami sering kejar-kejaran di kantor gara-gara dia sering ambil barang-barang saya atau  ngejek-ngejekin saya. Di saat lain dia nyipratin air waktu kami sama-sama mau wudhu. Tapi kadang saya juga jahil, ngumpetin sandal dia sampai dia kebingungan. Yeah tampak kekanak-kanakan, but it was fun.

Tapi, kemudian saya pergi. Nggak lama dia juga pergi. Kami pergi. Kangen teman saya itu. Kangen semua keseriusan dan kekonyolan yang pernah kami lakukan bersama di tempat itu.

“Kangen kelincahan kamu saat terburu-buru, Tetot,” tulis teman saya di SMS malam itu.

“He he, mungkin aku ge-er atau terlalu PD, tapi sekarang aku sudah agak sedikit berubah.”

“Ha ha, sepertinya kamu beneran berubah.”

–Aku bertemu banyak orang, kamu juga. Aku mengalami banyak hal, kamu juga. Aku belajar banyak hal, kamu juga. Sedikit banyak, hal itu membuat kita jadi sosok yang mampu melihat hal-hal tertentu dari sudut pandang yang berbeda. Aku berubah, dan kamu juga. Tapi aku bersyukur, ada yang nggak berubah. Kita tetap berteman.–

(Untuk Ansop. Tengah malam, ditemani (lagi-lagi) Snow Patrol.)