Tanya. Cuma 5 huruf, tapi kadang-kadang susah melakukannya. Kadang-kadang merasa takut buat bertanya, nggak percaya diri, atau bahkan nggak enak. Ada berbagai alasan seseorang tidak bisa bertanya, menanyakan sesuatu sama orang lain.

Tanya. Mungkin sepele bagi sebagian orang. Tapi belum tentu buat sebagian yang lain. Tanya itu jadi bagian kontemplasi-ku beberapa waktu lalu. Kadang waktu lagi nunggu air di kamar mandi penuh, sehabis sholat, mau tidur, bangun tidur, nunggu angkot, waktu lagi di angkot juga, nggak henti-hentinya aku berkontemplasi tentang tanya ini.

Yeah, mungkin ada yang berpendapat ini kontemplasi yang nggak mutu. He he tapi aku sih nggak ambil pusing. Setiap orang bebas untuk berkontemplasi.  Setiap orang merdeka untuk menentukan topik kontemplasinya.

“Kalau kita nggak tanya, kita nggak akan pernah tahu jawabannya ya,” kataku sama temanku.

“Iya. Kok ngomongnya gitu?” Temanku balik tanya.

“Aneh ya?  Sesuatu yang tampaknya gampang itu nggak selalu gampang. Kayak sesuatu yang terlihat, bisa jadi dia nggak terlihat, atau sebaliknya.”

“Lagi berfilosofi ya?”

“Nggak juga. Tapi kadang kita membuat sesuatu yang gampang malah jadi terlihat rumit ya.”

“Kenapa sih?”

“Aku sering pengen tanya sama orang tapi nggak aku tanyain. Kadang nggak enak kalau pertanyaanku ganggu orang itu. Takut kalau pertanyaan itu malah ngerepotin dia. Tapi karena nggak tanya aku jadi nggak tahu harus gimana, harus ke mana.”

“Jadi?” tanya temanku lagi.

“Ya sebaiknya emang memberanikan diri buat bertanya. Soalnya bisa jadi jawabannya itu direction.”

“Kalau ternyata jawabannya menyakitkan?”

“Kita sekarang belum tahu akan menyakitkan atau enggak kalau kita enggak tanya.”

“Terus udah berani tanya?”

“Sama beberapa orang udah.”

“Hasilnya?”

“Aku dapat responden baru.”

“Jadi ini soal responden?”

“Umumnya iya he he he.”