Bila melihat orang sakit, aku selalu merasa begitu besar sayang-Nya padaku. Aku sering telat, bahkan malas makan. Aku kerap makan makanan yang super duper pedas, sering pula tidur dengan waktu yang tidak jelas, dan sering juga jajan sembarangan. Meski begitu, aku masih saja diberi sehat.

Memang sih, aku kadang-kadang diare atau magh, tapi buatku itu bukan penyakit yang harus membuatku bed rest berhari-hari. Tapi aku kok sering nggak sadar ya kalau penyakit yang kuanggap ringan itu sentilan. Bagaimanapun juga, kalau aku nggak memperbaiki pola makan, penyakit kecil akan menjadi besar.

Begitu baiknya Dia menjagaku, meski aku sering kali nakal. Tapi beberapa waktu lalu Dia membuatku mengerang sepanjang waktu. Sakiiiit sekali. Saking sakitnya sampai hampir pingsan. Kata orang-orang, aku terlihat pucat, meski aku berusaha beraktivitas biasa, dan menampilkan senyum terbaikku pada dunia he he. Kalau dibilang pucat, aku malah berpikir apa aku pakai bedaknya ketebalan ya, atau mungkin beberapa hari ini aku agak putihan…

Alhamdulillah setelah pergi ke dokter, aku merasa lebih baik dan jauh lebih baik. Tapi semua belum selesai. Bukan sakit berat, tapi membuatku takut sekali. Menanti saat bergumul di RS yang bau obat, darah, dan dimeriahkan dentingan alat-alat medis yang kubenci.

Di saat begini, aku bersyukur banyak yang memberikan kekuatan buatku. Sedikit banyak, semua itu membantuku mendirikan pondasi keberanian buat menghadapi kemungkinan terburuk yang akan kuhadapi.

“Moga lekas sembuh ya Titta, jangan lupa minum obat n istirahat yang cukup.”

“Vita gak boleh sedih. Pokoknya apapun yang terjadi insya Allah aku akan selalu ada di samping Vita. Aku sayang Vita.”

“Makan yang banyak ya, biar kuat.”

“Jangan makan yang pedes-pedes dulu ya. Kan jalan keluarnya udah tahu, jadi jangan takut. Nggak usah stress.”

“Jangan mikirin yang lain dulu, Say. Pokoknya harus fokus sama kesehatan lo dulu.”

“Gw gak akan tanya apa-apa, tapi kabar-kabari kondisi lo ya Ta. Semoga lekas sembuh.”

Terimakasih telah Kau kirim malaikat-malaikat tanpa sayap. Kuharap Kau berikan keajaiban agar aku tidak masuk dan terkapar di tempat yang kubenci itu. Tapi seandainya memang itu yang harus kujalani, kuharap Kau berkenan mengubah takutku jadi ribuan voltage energi positif. Aku benci membuat mereka khawatir karena celoteh ketakutanku. Terimakasih Ya Allah.

(Hampir tengah malam di atas Bandung Express, ditemani Thank You-nya Alanis Morissette dan This Bitter Pill-nya Dashboard Confessional.)