Acara keluarga selalu mempertemukanku dengan keluarga besar. Di saat itulah aku bisa bertemu keponakan-keponakanku. Lucu banget melihat mereka yang punya gaya imut masing-masing. Yang ingin kutulis di sini adalah 2 keponakan laki-lakiku, Athar dan Afif.


Athar sekarang sudah 1,5 tahun. Kosakatanya sudah banyak bertambah. Lucu banget melihat dia belajar berbicara, juga melihat dia yang sering mengimitasi hal-hal yang dilakukan orang-orang disekitarnya. Athar suka melafalkan huruf, berhitung, menulis dan menggambar. Kalau dia lagi nangis, seketika langsung diam kalau diajak menulis dan menggambar.

“Mau gambar apa?”

“Bebek,” katanya.

“Bebek?”

“He eh,” ujar Athar sambil menganggukan kepalanya dengan mantab dan bersungguh-sungguh. Ini gaya yang paling saya suka. Lucuuuu banget.

Athar ini juga suka difoto dan bergaya di depan kaca. Benar-benar mirip tante-tantenya he he he. “Pose ganteng gimana?” Athar buru-buru memiringkan kepala sambil meletakkan jari telunjuk di kedua pipinya.

Dia juga lucu kalau lagi takut, soalnya dia akan memeluk kuat-kuat orang yang menggendongnya. “Tate tatut… (Tante takut),” kata dia sambil memeluk leher saya.

“Takut apa?”

“Onyet…. (Monyet).” Iiih kamu lucu banget sih.

Kalau Athar masih batita, Afif sudah besar. Dia sekarang kelas 5 SD. Biarpun masih kelas 5, tapi dia nih pinterrrrrr banget. Kemarin dia cerita tentang pesawat-pesawat yang jadi hobinya. Dia bisa menyebutkan dengan mudah jenis-jenis pesawat komersial, dan bahkan pesawat tempur. Jumlah unit yang dimiliki Indonesia, termasuk produsen, harga, plus kelemahan dan kelebihan masing-masing pesawat dia juga tahu. Gilaaaa.

“Bulek, tahu nggak kenapa kita pakai Sukhoi?” tanya Afif.

“Karena lebih murah, trus kita mau beralih dari US minded ke East Europe minded,” jawabku.

“Iya, selain itu Sukhoi itu bisa dilengkapi sama bla bla bla.” Haduuuh kamu pinter banget ya.

Dalam obrolanku sama Afif, dia juga menyinggung kendaraan tempur stealth, juga anggaran negara buat Dephan. Astaga waktu aku SD, hapal nama-nama menteri, sekjen PBB, sama ibukota negara aja udah hebat. Nah ini, dia sampai tahu alokasi anggaran terbesar di antara 3 matra TNI.

“Kamu bacaannya apa sih? Angkasa ya?”

“Kok Bulek tahu?”

“Ya kan kalau ke toko buku, kadang-kadang aku suka baca Angkasa juga. Tapi lebih suka baca tentang tank daripada pesawat.”

“Kalau aku suka pesawat. Soalnya ya Bulek, negara kita ini kan maritim trus ada hutan-hutannya, pengawasan tapal batas itu lebih maksimal kalau pakai pesawat. Bulek kok dari dulu nggak lulus-lulus? Bulek pasti suka bolos ya? Nggak sekolah tapi main ke mall?”

Eit sembarangan nih bocah. “Eh enak aja…. Rajin sekolah tau. Yang dulu udah lulus, terus sekarang sekolah lagi. Eh aku kan pernah nonton video Lockheed Martin. Keren deh. Kamu udah pernah?”

“Serius Bulek? Aku belom pernah? Kok bisa nonton itu? Aku mau dong.”

“Kan aku sekolahnya juga belajar soal kendaraan tempur, jadi pesawat buat pertahanan juga pernah dibahas biarpun nggak banyak. Tapi itu video punya dosennya, nanti aku cari dulu ya mana tau temen aku ada yang punya.”

“Beneran ya, cariin. Besok kalau udah gede, Bulek kerja di Lockheed Martin aja. Nanti aku perancang pesawatnya ya Bulek.”

Hi hi hi, mo ngapain gue di Lockheed Martin. “Kamu aja deh yang kerja di sana, nanti aku yang nulis pesawat rancangan kamu. Atau nggak kalau pesawatnya dibawa buat perang, nanti aku yang nulis langsung dari medan perangnya deh.”

Biarpun pinter, Afif ini rada penakut. Kalau ditakut-takutin hantu dia langsung keringetan, abis itu dia langsung nyubit orang yang nakut-nakutin dia atau melancarkan jurus smack down-nya. Haduuuh mana dia gede banget, semakin tipislah tante-tantenya.

(Ditulis di Jogja, di tengah insomnia, diiringi detak jam)