Desember 2009 lalu adalah bulan di mana aku bertemu dengan banyak orang baru. Orang-orang yang tidak kukenal sebelumnya namun kemudian menyumbang potongan mozaik dalam hidupku. Saat bertemu orang-orang baru itu, topik pembicaraan tentang tulisanku, tapi entah kenapa Tuhan hampir selalu menyelip dalam pembicaraan itu.

Misalnya saja waktu aku menemui seorang penulis buku yang juga dosen di Kota Bandung. Hampir dua jam kami berdiskusi tentang salah satu teknik analisa dalam dunia komunikasi. Aku yang waktu itu bingung makin tambah bingung he he.

“Kamu semakin bingung ya? Nggak apa-apa, artinya otak kamu sedang mencerna apa yang sudah kamu baca dan apa yang baru saja kita diskusikan. Nanti kamu pasti bisa mengurainya, saya yakin,” ujar penulis buku itu.

“Mmm mungkin karena saya belum mulai apa-apa, semua masih dipikiran saya, jadi saya belum bisa menguraikannya Pak.”

“Iya. Subhanallah ya, kita bisa ketemu, bisa diskusi. Allah selalu punya cara buat mempertemukan manusia yang satu dengan manusia yang lain.”

“Iya Pak, saya juga nggak nyangka. Saya udah nanya no telp Bapak ke beberapa teman tapi mereka nggak tahu. Eh iseng-iseng saya cari di Google malah ketemu.”

“Oh ya? Subhanallah. Ada cara-cara tak terduga ya.”

Di bulan itu juga aku bertemu seseorang di tempat yang asing bagiku: hotel prodeo. Di tempat itu, aku justru melihat banyak orang yang berusaha mendekatkan diri pada Illahi. Beberapa tahanan asyik melantunkan ayat-ayat Al Qur’an. Mereka salat dhuha dan tenggelam dalam dzikir. Ketika aku melewati para tahanan pria itu, mereka buru-buru menundukkan wajahnya.

“Jihad itu bisa dilakukan dengan banyak cara, Mbak. Melakukan hal-hal yang disukai Allah demi mengalahkan nafsu duniawi kan juga bentuk perjuangan,” ujar seseorang di dalam penjara.

Dicap kriminal oleh masyarakat bukanlah perkara ringan. Mereka bahkan harus tinggal terpisah dari keluarganya. Itu memang konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan mereka. Dalam hidup ini kan ada hukum sebab akibat. Biarpun begitu, adem rasanya melihat tempat di mana berkumpul orang-orang dengan label kriminal justru menyeru asma Allah.

Mmm, rupanya kedatanganku ke tempat itu sangat membekas di benak orang yang kukunjungi. Dia sering mendoakan kebaikan buatku, dan mengkhawatirkan kesehatanku lantaran mobilitasku yang saat itu ampun-ampunan. Tapi dia selalu mengingatkan agar menyerahkan semuanya kepada Allah agar aku lebih tenang.

Enggak lama, aku bertemu orang lain di tempat yang begitu berbeda. Aku sudah beberapa kali ketemu dia sih, tapi baru kali itu saja bisa ngobrol berdua. Di sebuah gedung dingin di tengah Jakarta yang panas. Karena sama-sama lapar, dia mentraktirku makan malam.

“Kita keluar atau makan di sini?” tanya dia saat itu.

“Di sini aja, Mas. Kalau keluar tar kita malah jalan-jalan, nggak jadi ngobrol he he.”

Nggak lama, dua piring makan malam sudah tersaji. Laki-laki di depanku itu tiba-tiba menghentikan aktivitas mengunyah dan memperhatikanku.

“Kamu berdoa?” tanyanya saat aku selesai mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.

“Iya,” jawabku rada-rada takjub dengan pertanyaan itu. Emang salah ya kalau berdoa sebelum makan, bukankan itu sudah selayaknya dilakukan seorang umat.

“Apa doa kamu?”

“Allaahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa qinna’adzaabannar. Intinya biar diberi rahmat dan dijauhkan dari siksa neraka.”

“Kamu percaya Tuhan?”

“Iya. Kehadiranku di dunia ini kan karena Tuhan. Dalam hidupku sering kali ada tangan-tangan gaib yang itu semua pasti campur tangan Tuhan di hidupku. Emang Mas nggak percaya?”

“Soalnya aku belum pernah lihat Dia. Aku mengundangnya jadi teman di FB, tapi dia nggak juga menjadi temanku. Aku memintanya datang waktu aku wisuda, menikah, tapi Dia nggak aku lihat.”

“Karena Dia kan memang ghaib, Mas. Sosok-Nya tidak bisa kita lihat, tapi kita bisa merasakan-Nya.”

“Oh ya?  Kalau orang lagi sedih terus berdoa merasa lebih tenang, itu bukan karena sugesti saja ya. Kekuatan pikiran. Karl Marx bilang agama itu candu.”

“Kalau aku sih meyakini dunia ini ada karena tidak serta merta ada. Ada yang menciptakan. Dan itu Tuhan.”

“Kalau buatku, ya memang beginilah dunia. Kalau kamu mau lulus ujian, maka kamu harus rajin belajar.  Kalau ada perkembangbiakan, maka harus ada proses perkawinan, bla… bla…bla….”

Tapi ada kok, orang yang rajin belajar malah gagal lulus ujian. Lalu apakah semua proses perkawinan akan menghasilkan pembuahan?  Ribuan serbuk sari yang menempel ke kepala putik apakah sudah pasti akan menghasilkan pembuahan? Ribuan sperma yang bergabung dengan sel-sel telur apakah pasti menghasilkan individu-individu baru? Semua terjadi dengan kehendak Tuhan. Tuhan yang Maha Jenius, yang logika-Nya di luar logika manusia, yang diluar jangkauan manusia. Kenapa? Karena Dia Maha Besar, karena Dia Maha Pencipta.

Angin…. Bisakah kita melihatnya? Tapi kita bisa merasakannya. Kita bisa merasakan hasil ‘kerja’ angin. Ini adalah contoh kecil, banyak hal-hal di sekitar kita yang tidak terlihat tapi bisa dirasakan. Angin itu masih hal kecil, tapi Tuhan? Dia yang menciptakan angin. Dia itu Maha Rumit dan Maha Canggih.

Mungkin ada yang masih meragukan-Nya. Tapi aku percaya dan yakin pada-Nya, dengan semua takdir dan janji-Nya.