Tags

,

Sebuah pesta pernikahan rasanya tak lengkap tanpa wedding cake. Menjelang 7/7/2007, tak heran jika pengusaha wedding cake banjir order.

Saking banyaknya permintaan wedding cake pada 7 Juli 2007, sejumlah pengusaha terpaksa menolak beberapa order.

“Untuk 7 Juli, kami sudah tidak menerima pemesanan. Sehari, maksimal 40 wedding cakes,” ujar Nova, karyawan Justin Wedding Cake.

Hal itu disampaikan dia dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (20/6/2007).

Toko kue yang mengambil lokasi usaha di Gadjah Mada Plaza, Jakarta Pusat ini mematok harga yang berbeda-beda untuk wedding cake yang dijual.

“Antara Rp 3 juta sampai Rp 10 juta untuk tiap cake,” tukas Nova.

Billiechick Wedding Cake yang berlokasi di Taman Ratu Indah Jakarta juga cukup sibuk. Di hari bertabur angka 7 itu, perusahaan tersebut dapat 5 order.

“Ada 5 yang sudah pesan. Ini sudah cukup banyak,” kata Linda, pegawai perusahaan itu.

Menolak order terpaksa harus dilakukan Harum Sari Wedding Cake. Sebab tanggal 7 bulan 7 tahun 2007, pemesanan wedding cake sudah membludak.

“Kami sudah tidak terima pemesanan karena di 7 Juli sudah banyak pesanan,” kata Candra dari Harum Sari.

Pria yang kental Bahasa Jawanya ini enggan membeberkan berapa jumlah order yang diterimanya. “Kurang dari 10, tapi ini sudah cukup banyak untuk satu hari,” jelas dia.

Tidak jauh berbeda dengan toko dan perusahaan wedding cake lainnya, Harum Sari membanderol harga mulai Rp 1 juta.

“Dalam pengantin, sebenarnya kue pengantin yang harganya relatif lebih murah daripada yang lain,” tukas Candra.

Sedangkan Hova Cake yang berlokasi di Tomang, Jakarta Barat, baru menerima pesanan 3 wedding cake.

“Kami masih terima pesanan untuk 7/7/2007. Harganya bervariasi dari Rp 1,5 juta hingga Rp 9 juta,” jelas Jiman dari Hova Cake.

Ini dibalik berita itu:

Aku sudah menjelaskan siapa aku sebelum memulai wawancara via telepon. Tapi entah kenapa, ada seorang penjual kue yang malah nanya begini:

“Mbaknya mau nikahnya kapan? Mending pesan sekarang saja, daripada nanti-nanti. Kapan Mbak?”

Tweew…. Waduh kok malah dia pikir aku mau pesen kue nikah. Ya sudahlah aku ikuti saja pertanyaannya.

“Saya kayaknya tanggal 7 itu, Bu. Ini lagi bandingin harga. Nanti deh, saya telepon Ibu lagi,” kataku sambil cengar-cengir. Untung aja pakai telepon, jadi dia nggak lihat mukaku.

“Oh gitu. Nanti kuenya mau ditulis nama Mbaknya sama calon suaminya?”

“Ya, boleh, Bu. Itu harganya berapa ya?”

“Rp 1,5 juta sih sudah bisa. Tapi buat Mbak Vita ya, nanti saya kasih diskon deh buat pelanggan baru. Namanya nanti Vita dan siapa?”

“Oh nama calon saya sih _ _ _. Ya sudah ya Bu, nanti saya hubungi Ibu lagi.” Aku buru-buru nutup telepon. Karena aku cekikikan sendiri di kantor, teman-teman di sekitarku pun pada penasaran jadinya.

Selain telepon ke toko kue, aku juga nelponin KUA. Salah satu petugas KUA malah nanya-nanya dan ngasih wejangan-wejangan seputar percintaan gitulah. Haduuuh bapak, saya mau wawancara bukan konsultasi.