Beberapa waktu lalu saya lagi suka mengingat-ingat di balik berita yang saya tulis/ laporkan. Sebenarnya sudah dipublikasikan di blog yang lain, tapi karena ingin penulisan satu pintu, saya pindahkan beberapa tulisan dari blog lain itu ke blog ini. Dan inilah dibalik berita DCA Tidak Dibahas SBY-Loong.

Presiden SBY telah bertemu 4 mata dengan PM Singapura Lee Hsien Loong. Namun soal Defence Cooperation Agreement (DCA) sama sekali tak disinggung-singgung.

SBY mengatakan, DCA dan perjanjian ekstradisi sudah selesai disusun, meski dalam perjalanannya ada hal-hal yang masih perlu dirampungkan. “Kita sepakat untuk tidak buru-buru sehingga konstruktif, tidak emosional, dan rasional,” ujar SBY.

Hal itu disampaikan dia dalam keterangan pers di Raffles the Plaza Hotel, Singapura, Kamis (22/11/2007).

“Dalam kerja sama ini pasti ada kepentingan negara kita,” lanjut SBY. Dia menambahkan, kedua kepala pemerintahan itu akan secepatnya mencari kesempatan untuk segera memberlakukannya.

Meski DCA belum berlaku, namun sebenarnya, Indonesia dan Singapura telah memiliki kerja sama kemiliteran sejak 1970-an.

Di balik beritanya:

Aku membuat berita ini di pesawat dalam perjalanan dari Singapura ke Tanah Air. Yup, November 2007 aku memang ikut rombongan SBY ke Singapura. 4 Hari yang melelahkan. Kupikir aku bisa rada santai tapi nyatanya, nggak!!

Selama liputan KTT ASEAN itu, aku harus laporan buanyak banget coz emang banyak banget yang musti dilaporin. Ekonomi, lingkungan, politik…. Ngetik pakai stilus PDA kan nggak secepat kalau ngetik pakai keyboard komputer. Udah itu, selesai wawancara si A, ada lagi acara yang harus diikuti. Jadi laporan numpuk. Alhasil, tiap kali semua agenda berakhir, aku ngejogrok di media center hingga larut malam. Nggak sendiri sih. Banyak wartawan asing dan lokal (macam Kompas, Koran Tempo, Bisnis Indonesia) yang sibuk di press room.

Suatu kali pernah tuh, aku bener-bener sampai malam sama sebagian kecil rekan jurnalis lokal di press room. Aku sampai pusing, mana dulu laporan yang harus dikirim. “Kamu, mau jalan-jalan nggak?” tanya pegawai Biro Istana.

“Sekarang? Waduh pengen banget. Tapi gimana ya Mas, kerjaanku masih banyak banget. Mmm, tinggalin aja deh,” kataku dengan berat hati. Yach, aku kan dikirim buat liputan, buat nulis and kirim berita. Jadi ya, memang harus itu yang kulakukan. Kalau ada jalan-jalannya ya berarti bonus.

Pfuuh aku juga jadi inget gimana persiapanku ke Singapura. Pertama, paspor. Meski udah disuruh kantor bikin paspor sejak lama, aku selalu menunda-nunda. Hingga suatu siang yang terik, Biro Istana Presiden menelpon dan menanyakan pasporku. Akhirnya ditengah kesibukan kerja aku mondar-mandir ke Kantor Imigrasi Jaksel.

Akhirnya, di hari terakhir aku harus ngumpulin copy-an paspor and foto, aku harus bekerja mati-matian. Aku inget banget, waktu itu aku piket malem. Aku piket dengan memakai kemeja, membawa blazer, memaki celana bahan, dan bersepatu (biasanya cuma pakai kaos, jeans belel, dan sendal jepit) coz esok harinya aku harus foto dan menyerahkan semua persyaratan ke Istana.

Semaleman nggak tidur dan tanpa sarapan adalah bekalku mengurus segala persyaratan yang tinggal finishing touch. Setelah ngantre untuk foto dan wawancara di Kantor Imigrasi, aku nyari studio foto. Di tempat foto juga nggak smooth. Ada kendala teknis waktu itu. Tapi untung semua kelar.

Aku ke Istana naik TransJ dan turun di Harmoni. Ya ampun, aku udah lemes banget, apalagi sebelumnya udah naik turun jembatan penyeberangan. Mungkin tampangku udah ancuuuur buanget. Mana panasnya nggak ketulungan.

Selesai nyerahin persyaratan itu, temenku yang juga ngepos di Istana menelpon. “Vit, di mana?”
“Di busway, mo pulang. Sorry Fay, gw nggak mampir press room, udah lemes banget nih. Gw abis piket malem soale, trus langsung ngurus-ngurus.”

“Wah padahal ada makan siang nih buat elo. Oh ya udah kalau gitu. Lo nggak tidur semaleman ya. Mmm ati-ati ya,” pesan temanku itu.

Dan… penderitaan belum berakhir dong. Waktu aku sampai di Indonesia, koperku ternyata masih di Singapura. OMG!