Kelas kami beranggotakan 31 orang, dan telah ada 6 orang yang akan segera wisuda bulan depan. Beberapa dari kami memang terlambat start, termasuk aku. Beberapa dari kami memang nggak gampang dapat bahan-bahan buat tugas akhir, termasuk aku. He he pledoi-ku tuh….

Meskipun yang lulus itu baru sebagian kecil, tapi aku dan beberapa teman desperate juga. Gimana ya, kadang kita mau lari kencang tapi ada aja obstacle-nya. Sakit, urusan keluarga, ngurus anak, nara sumber yang susah, dosen pembimbing yang susah ditemui, perbedaan pendapat sama dosen pembimbing, plus masalah-masalah lainnya yang mau gak mau menyita perhatian juga.

Dan para desperado-desperado itu kadang-kadang melakukan pertemuan di atas tanah. Rabu siang ini juga terjadi pertemuan seklumit desperado tanpa sengaja. Awalnya kami mau menyerahkan surat pemberitahuan tahunan (SPT)  karena kami-kami ini pemegang NPWP. Tanggal terakhir penyerahan 31 Maret 2010, karena udah dekat deadline, para wajib pajak pun aktif mencari info di mana letak drop box.

“Jadi ngumpulin SPT sekarang Vit?” tanya temanku via telepon.

“Iya, nanti aku ke BTC aja. Di sana katanya ada drop box-nya.”

“Oh bisa ya, oke ketemuan di sana ya.”

Sebenarnya ini kali kedua aku ke BTC, tapi aku udah lupa cara ke sana. Sedangkan instruksi dari temen aku yang dikirim via SMS juga agak lucu hi hi: “Ke BTC dari kampus naik yang ungu dulu. Trus sambung Cicaheum-Ciroyom. Trus yang biru muda, Vit.”

Binun, binun, binun. Terpaksa deh tanya ke mamas-mamas tukang fotocopy. Tapi penjelasannya rada-rada ajaib. Dia nih nervous-nervous gitu waktu kasih penjelasan, kan aku jadi ketularan nervous. Haduuuh mau nyerahin SPT aja pakai nervous. Setelah sempat salah naik angkot dan nanya orang di pinggir jalan, akhirnya sampai juga ke BTC.

Then, ketemulah aku sama dua teman senasib sepenanggungan di food court BTC. Mmm sehari sebelumnya aku juga ketemu sama desperado yang lain, cuma berdua sih, mana kami kejebak hujan pas mau pulang. Jadi ya dua hari berturut-turut aku mengikuti pertemuan desperado.

Karena senasib, kami bisa lebih leluasa curhat dan mengeluarkan uneg-uneg. “Aku nih sering banget nggak nyentuh tulisan, jadi mau bimbingan apa? Nggak ada barang yang bisa dibawa buat bimbingan. Di rumah aku udah capek ngepel, nyuci. Kalau udah capek kan enaknya nge-game,” curhat temanku.

“Aku ini suka tidur siang, bangun udah sore langsung nongkrong di luar. Masuk rumah udah malem, trus di dalem rumah ngelamun lama banget. Kalau udah makin malem main poker. Untung istriku nggak di sini, jadi nggak tahu kelakuan suaminya ha ha ha,” tutur temanku yang lain.

“Aku tiap kali ketemu dosen, berubah mulu tulisannya. Aku kan bosen. Jadi ya gitu malah baca-baca yang lain, main game juga, atau download apa aja yang bisa di-download. Mana gara-gara minum obat aku jadi ngantukan,” kataku.

Nggak lama, topik pembicaraan beralih ke kasus dugaan markus di tubuh Mabes Polri yang didengungkan Susno Duaji, soal terorisme, dan soal teman-teman kami.

“Eh gimana kabar si X? Pernah ketemu X nggak?” tanya temanku.
“Nggak.”
“X itu hidupnya misterius ya?”
“Hi hi, lebay ih kamu. Nggak misterius kok, kamu-nya aja yang nggak tahu.”
“Lebay? Saya kan cowok alay hi hi hi.”

Setelah puas mengeluarkan semua ketidakpuasan, kendala, dll, kami pun menelorkan rencana baru dan semangat baru. Semoga para desperado-desperado ini segera berubah statusnya. Teman-teman, di depan kita selalu ada batu, tapi tergantung kita mau bagaimana menghadapinya. Menghadapi batu itu sebagai rintangan atau justru sebagai pijakan. He he he mengutip kata-kata Mario Teguh.

Aku nggak sendiri, kamu nggak sendiri, kita selalu bersama. Kita saling menguatkan, berbagi amunisi, dan pinjam meminjam tameng di battlefield yang tidak sekalipun berwajah ramah. Itu karena kita berteman.