Tags

,

(Globe, Mom, Kakak (ketutupan Mom), dan aku. Sedang seminar tentang Afrika Selatan)

“Hai adik. Apa kabarmu cengeng?” Itulah sapaan di e-mail yang dikirim sahabatku beberapa tahun lalu. Nggak sengaja baca lagi tuh e-mail gara-gara nyari data di e-mail lama. Aku nggak inget ih pernah baca e-mail ini. Hiks, jadi keinget ama ketiga sahabatku: Kakak, Globe, dan Mom.

Ha ha, e-mail itu lucu juga. Isinya menceritakan kegiatan mereka sesaat setelah aku hidup terpisah dari mereka.

“Globe sedang mengusahakan mengejar Shar Rukh Khannya, sementara Kakak yang tidak bisa ikut tes CPNS berhasil mendapatkan seorang PNS. Sampai hari ini, hubungan mereka dibiayai negara. Pria yang sangat beruntung dan korup ini adalah seorang petugas PLN yang mendata tagihan listrik dari rumah ke rumah. Aku, Globe, kesal sekali harus mendengarnya berbicara dalam telepon hingga 7 kali dalam sehari dalam kurun waktu kurang dari 1x 24 jam.”

“Sedangkan Mom jadi model panas di internet, padahal kami hanya berniat mengirim foto “Hina”nya itu, ternyata sudah ada yang mendahului. Coba aja cek di xxx.xx, gitulah kira-kira. Kami tidak berhasil melacaknya, sepertinya disembunyikan olehnya. Atau untuk melihat Mom dalam wajah Alim dan Bertobat, click saja di xxx.xx.”

“Sekarang kami mencoba mencari pekerjaan di sebuah LSM di Yogya. Untuk mencari informasi, kami berpura-pura menjadi bule bernama Cathy supaya cepat dibalas. Ini dikarenakan, sewaktu kami ke LSM tersebut, Kakak mengganggu rapat Direkturnya dan memanggil seorang pria karyawan di sana dengan sebutan ‘Mbak’.”

“Salam buat R, pria yang kurang gesit sepertinya dia tidak akan diterima di keluarga kita. Suruh dia banyak latihan, mungkin kami akan berbelok arah :p dan menerima kembali. Jangan lupa CV lengkap!” Pesan sahabat-sahabatku di akhir e-mail.

Kami terbiasa bareng sejak semester awal kuliah. Selalu sekelas dan nyambung kalau ngobrol menjadikan kami berempat senang melewatkan waktu bersama. Kadang kami motor-motoran ke Kali Urang. Di saat lain kami cuma makan bareng di warung remang-remang itu. Dalam ‘geng’ ini akulah yang paling muda, jadi ya gitu, mendapat perhatian layaknya seorang adik dari 3 kakaknya. Dan sebaliknya, adik yang selalu bermanja pada ketiga kakaknya.

Di antara kami berempat, aku dan Mom yang duluan lulus. Disusul Globe 3 bulan kemudian, dan Kakak 6 bulan kemudian. Perpisahan diawali kepergian Mom ke Jakarta sesaat setelah lulus. Nggak lama, aku pun harus meninggalkan Jogja untuk mengadu nasib di Ibukota. Beberapa tahun kemudian, Kakak mendapat kerjaan di Jakarta. Dan Globe kuliah lagi di India.

Beberapa tahun kemudian, Kakak harus pulang ke Medan buat melanjutkan usaha keluarga. Globe yang sudah selesai kuliah juga pulang ke Bali. Mom tahun lalu memutuskan pulang kampung juga ke Bengkulu. Sedangkan aku? Hanya aku sendiri yang tidak mengabdikan diri buat kampung halamanku.

Kami berempat tercerai berai secara geografis. Sesuatu yang dulu terasa lucu dan seru saat diperbincangkan mungkin sekarang nggak begitu lagi. Idealisme masa lalu mungkin sudah kian samar dan digantikan idealisme baru yang entah sejak kapan menemukan eksistensinya. Orientasi hidup kini juga tidak lagi sama. Tapi semoga persahabatan kita nggak akan pernah berubah (yaah meskipun intensitas kontak-kontakan kita nggak sekerap dulu). Jadi ingat, kami dulu pernah punya ide membuat novel tentang persahabatan iniūüôā