Bismilahirrohmanirrohiim

Assalamu’alaikumwarohmatullohiwabarakatuh….

Saudaraku…..

Semoga Allah Yang Mahabesar memberi kesempatan pada kita untuk mengenal diri agar kita tidak tertipu dengan topeng duniawi. Saudaraku, mengenal diri adalah syarat untuk menjadi lebih baik. Tidak mungkin kita bisa memperbaiki orang lain, kalau kita tidak bisa memperbaiki diri. Tidak mungkin kita bisa memperbaiki diri, kalau kita tidak berani jujur terhadap diri sendiri.

Allah adalah Al-Kabir; Dzat Yang Mahabesar. Jagat raya yang demikian besar sepenuhnya ada dalam genggaman Allah. Demikian pula galaksi, matahari, planet, bumi, dan manusia yang menghuninya ada dalam genggaman Allah SWT. Dalam pandangan Allah semua itu sangat kecil dan tidak ada harganya. We are nothing, termasuk harta, pangkat, kepandaian, ataupun ketenaran. Kalau dunia ini seharga sayap nyamuk saja, niscaya Allah tidak akan memberikan kekayaan kepada orang-orang kafir. Dunia ini, demi Allah, tidak ada harganya sama sekali bagi Allah. Manusia hanya sekadar mengaku-ngaku saja. Dunia hanya tempat singgah sementara. Itulah sedikit makna Allahu Akbar; Allah Yang Mahabesar.

Karena itu, tatkala kita mendengar kumandang adzan, semua urusan duniawi menjadi kecil. Bisnis, rapat, pekerjaan, atau uang semuanya menjadi kecil. Allahlah Yang Mahabesar, hingga kita bersegera menuju panggilan tersebut. Begitu pun saat berperang. Seruan Allahu Akbar seharusnya menjadikan musuh-musuh kita menjadi kecil. Dengan memaknai Allahu Akbar tidak akan terlintas dalam diri kita untuk menjadi pengecut dan mundur dari pertempuran. Musuh adalah bonus yang diberikan Allah kepada kita. Musuh adalah ladang amal. Orang yang mengenal Allah akan menjadikan kalimat laa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanun; tidak ada yang ditakuti kecuali Allah, sebagai prinsip hidup.

Menganggap dunia kecil, bukan berarti kita harus meremehkannya. Tujuannya, kita harus mengantisipasi agar tidak menjadi penjilat. Salah satu ciri pribadi bermutu adalah pribadi yang tidak menjilat kepada manusia. Boleh kita bergaul rapat dengan manusia, tapi hati kita jangan pernah berharap dari mereka. Harapan kita hanya kepada Allah semata. Mungkin kita tidak punya harta, rumah, atau jabatan yang berharga, tapi kita harus punya harga diri yang berharga dan terus dijaga. Kemuliaan harga diri, inilah harta kita sesungguhnya.

Bila kita mengenal Allah Dzat Yang Mahabesar, maka tidak ada tempat bagi kita untuk merasa besar. Konsekuensinya seperti pipa U. Semakin kita mengangkat diri, maka akan semakin jatuh pula kita dibuatnya. Sebaliknya, semakin kita menekan diri ke bawah (rendah hati), maka akan semakin naik pula harga diri kita. Allah SWT sudah mendesain hati kita untuk tidak menyukai kesombongan dan menyukai orang rendah hati. Pertanyaannya, kita termasuk orang yang mana?

Saudaraku, kenikmatan yang hakiki adalah ketika kita bisa memberikan manfaat bagi orang lain, bukan mendapatkan dari orang lain. Sebuah pohon yang akarnya menghujam ke bumi, akan menjadi pohon yang kokoh.Tapi pohon yang akarnya tidak menghujam ke bumi, niscaya akan menjadi pohon yang rapuh. Demikian pula dengan manusia. Pribadi yang kokoh dalam hidup — walau dicari maki, difitnah, dibenci — adalah pribadi yang pribadinya menghujam ke bumi rendah hati. Sebaliknya, pribadi yang rapuh adalah pribadi yang sombong dan terlalu berharap dari orang lain. Kebahagiaan yang sejati tidak datang dari orang kepada kita, tapi datang tatkala kita bisa berbuat untuk orang lain.

Bukankah ingin dihormati adalah standar dari manusia? Benar, tapi kita harus berusaha membelokkannya. Bagi kita cukuplah pujian dan penilaian Allah saja. Semakin kita tidak condong kepada dunia, maka kita akan semakin bahagia dalam hidup. Saya teringat sebuah pesan dari seorang alim. “Kamu akan nikmat dalam hidup dan dicukupi kebutuhannya. Satu saja syaratnya, jangan pernah berharap kepada makhluk”. Karena itu, sesulit apapun situasi yang kita hadapi, kita harus mati-matian menjaga kehormatan diri. Kalau kita sudah menengadahkan tangan kepada manusia, pasti jatuh harga diri kita. Boleh saja kita terbatas ekonominya, tapi jangan sekali-kali kita membatasi harga diri kita.

Saudaraku, inilah kekuatan iman. Kita harus menjalani setiap langkah dengan penuh perhitungan, penuh perencanaan, dan penuh kemuliaan. Bila kita sanggup melakukan hal ini, kita tidak perlu takut mati kapan pun, karena itulah keberuntungan kita. Takutlah kita bila hidup tergadai kemuliaannya. Kita harus berani tampil apa adanya. Bolehkah kita memiliki topeng yang bagus? Boleh, tapi pastikan diri kita jauh lebih bagus daripada topengnya. Tatkala topeng diambil, maka orang akan terkesan pada kita.

Setiap kali kita mendapatkan sesuatu, maka pastikan harga diri kita lebih bernilai dari apa yang kita dapatkan. Saat kita mendapatkan uang, pastikan kemuliaan kita jauh lebih tinggi dari uang tersebut. Uang itu tidak lama, tapi kehormatannya akan terus melekat. Kita pun jangan tersiksa oleh keinginan. Keinginan yang ideal itu harus sesuai dengan keperluan dan sesuai kemampuan.

Keyakinan pada Allah harus kita buktikan dengan selalu menjaga kehormatan. Moto kita adalah melakukan yang terbaik bagi dunia dan bermanfaat bagi akhirat. Sekecil apapun kebaikan pasti akan kembali kepada pembuatnya. Tidak ada alasan bagi kita untuk hidup sebagai seorang pengecut.

Inilah yang saya maksud dengan marifatullah; mengenal Allah. Marifatullah bukan tempat menyembunyikan kemalasan kita. Jangan menyembunyikan kelemahan dan kemalasan diri di balik kata sabar, tawakal, ridha, dan lainnya. Keimanan pada Allah harus diwujudkan dalam bentuk produktifitasnya. Ya tujuan hidup kita adalah mati di jalan Allah dengan terhormat. Wallahu a’lam bish-shawab.

( Abdullah Gymnastiar )

Wassalamu’alaikum…..