Tadinya saya nggak terlalu peduli soal memasukkan uang di kotak infaq masjid. Kalau saya ingat ya saya masukin uang, kalau nggak ingat ya sudah. Dan saya sebagai orang yang malas ribet, terlalu malas buat mengingat-ingat harus memasukan uang ke kotak itu setiap kali saya selesai sholat di masjid.

Hingga malam itu, kata-kata Aa Gym begitu menohok. “Pernah tidak menghitung biaya yang sudah kita habiskan di masjid? Wudhu, berarti ada airnya. Ada biaya air. Lalu mendengarkan pengajian, ada sound system. Ada biaya listrik. Ternyata ibadah kita itu disubsidi.”

Iya ya, benar juga. Kalau saya nggak masukin uang ke kotak infaq masjid itu, artinya biaya ibadah saya masih disubsidi. Padahal kalau hanya Rp 1.000-2.000, insya Allah selalu ada di dompet khusus ongkos angkot. Uang segitu juga nggak akan membuat saya miskin, meskipun saya juga bukan orang yang kaya raya he he.

“Kalau bisa, janganlah kita disubsidi orang, malah kalau bisa lagi kitalah yang mensubsidi orang lain,” ujar Aa’ saat itu.

Sejak itu, otomatis selalu teringat buat masukin uang ke kotak masjid setiap kali selesai sholat. Ya, mungkin belum bisa mensubsidi orang lain, tapi seenggaknya sudah membiayai sendiri ibadah saya.

Btw ngomongin Aa Gym jadi ingat masjid Daarut Tauhid. Saya sependapat sama teman saya kalau masjid ini baik banget. Soalnya ada petugas penata sandal. Jadi sandal para jamaah berbaris rapi, dan semua sandal kompak menghadap ke jalan, sehingga para jamaah nggak perlu susah-susah membolak-balik sandal dan posisi kaki.

“Kok ada ya masjid yang baik banget begitu,” celetuk teman saya.

“He eh, gw juga takjub kok sandal aja rapi banget.”

“Itu natainnya kan pake tongkat gitu.”

“Kok lo tau, wah ketahuan lo, bukannya dengerin pengajian malah ngeliatin sandal mulu.”

“Eh enggak, gw nggak sengaja liat pintu, ada orang yang pakai tongkat natain sandal.”

“Ah boong. Jangan-jangan lo mau nukar sandal ha ha ha.”