Dia pria yang sekilas tampak sangat sederhana. Kulitnya kecoklatan. Rambutnya yang agak gondrong diikat ala kadarnya dengan karet gelang. Pagi itu dia mengenakan kaos oblong putih. Cuek. Dekil. Ya begitulah pria itu. Sosok yang kemudian membuatku resah sepanjang waktu, bahkan hingga saat ini.

Sesaat setelah bertemu dengan pria itu, aku jadi nggak enak makan. Bahkan saat bangun tidur, sosok itulah yang teringat pertama kali. Seandainya aku punya nomor teleponnya, pasti saat itu juga kutelepon dia. Tidak diragukan lagi: bukan kirim pesan singkat tapi TELEPON.

Saat bertemu pria itu, dia sedang menghisap barang yang kubenci: rokok. Aku yang duduk di dekatnya saat itu terpaksa batuk-batuk karena asap karbon dari benda kecil tersebut. Tidak ada yang istimewa saat itu. Bahkan aku cenderung sebal sama pria itu karena nggak berhenti merokok.

Siapa pria itu? Yang jelas dia sangat tidak beruntung bertemu denganku pagi itu. Karena pertemuan denganku, dia kehilangan Rp 3.500-nya. Pria itu adalah sopir angkot Cicaheum-Ledeng. Nggak tahu apa yang ada di otakku pagi itu, aku seenaknya aja turun angkot tanpa membayar. Yang lebih nggak masuk akal, sopir angkot itu nggak memanggil atau memakiku karena kesalahan terbesarku sebagai pemakai jasanya yang tidak membayar.

Aku baru ingat belum bayar setelah angkot itu pergi. Hiks, mendadak aku jadi membenci diriku sendiri. Aku merasa bersalah banget sama sopir itu. Aku merasa sangat jahat.

Aku celingukan nyari dia, tapi gimana lagi tuh angkot udah pergi. Setiap kali naik angkot jurusan Cicaheum-Ledeng, pasti selalu kuperhatikan sopirnya. Tapi nggak ada yang berambut gondrong plus kulit coklat seperti ciri-ciri pria yang tengah kucari itu. Parahnya, aku nggak ingat wajahnya, hanya sosok dia dari belakang. Ya Allah, ampuni saya. Tolong beri kesempatan saya untuk bisa mengganti ongkos yang belum saya bayar itu. Amin.