Seandainya aku bisa bilang: “Aku nggak mau tahu, aku mau sekarang. Terserah gimanapun caranya.”

Kalau saja aku bisa bilang: “Itu sih masalah lo, jangan seret-seret gw ke masalah elo.”

Andaikan aku bisa bilang: “Gw nggak pernah lihat ada itikad baik lo nyelesein masalah lo ama gw.”

Jika saja aku bisa bilang: “Kamu jahat. Seenaknya sendiri! Kamu hidup dengan nurani yang udah mati!”

Bila saja aku bisa bilang: “Pembohong! Banyak alesan! Emangnya aku Emak kamu?”

Seandainya aku bisa bilang: “Makanya kalau mau ngapa-ngapain tuh mikir dulu. Kalau kayak gini yang susah siapa? Gw, dodol!”

Wajar kalau marah. Sebab ITIKAD BAIK itu tidak terlihat. Selalu dipinggirkan dengan urusan yang nggak prinsip. Diam bukan karena nggak tahu, tapi karena udah bener-bener nggak mau tahu. Capek sama pembohong. Nambah-nambahin beban pikiran aja. Sudahlah kuserahkan urusan kamu sama Allah. Terserah bagaimana Dia akan menyelesaikannya, dengan cara baik-baik, karma, atau azab, semua terserah….

(Lagi marah! Jelang siang dengan Assassin-nya Muse.)