Tags

Adek. Begitulah aku memanggil adik perempuanku. Kami hanya terpaut setahun jadi ya seperti layaknya teman sebaya saja. Begitu banyak hal yang dia sukai juga kusukai, sebaliknya yang kusukai juga disukainya. Beberapa waktu yang lalu dia sakit. Menjaganya saat tergolek lemah mengingatkan saat-saat dulu kami masih sangat ‘berjaya’ he he he.

Waktu itu adek demam tinggi. Ada kekhawatiran dia terkena tipus or DBD sehingga direncanakan buat cek darah. Dia takut RS dan jarum suntik, karenanya sampai kebawa-bawa mimpi. “Aaah sakit… sakit….,” ujarnya tiba-tiba di tengah malam.

“Dek, kenapa? Hei bangun.”

“Aaah sakit, ini udah diambil darahnya, masak di dua tangan. Dokternya gila.”

“Lah ngigo nih bocah. Kamu kan belum periksa darah.”

“Udah. Ini nih barusan disuntik, sakit Mbak.”

Aku pukulin aja tangannya. Maksudku biar dia sadar. Eh dia malah marah-marah.

“Sakit tahu. Abis disuntik malah dipukulin… Nyam nyam…” Dia tidur lagi. Dasar aneh….

Aku baru benar-benar mengenal adikku ini saat umurku 3 tahun (masa batitaku tidak bersamanya). Gadis kecil bergelang banyak yang sangat lucu (dalam arti sebenarnya kalau nggak mau dikatakan wagu) kalau pakai rok. Dulu aku nggak suka sama dia, soalnya dia sombong dan punya gelang banyak ha ha ha. Kami sering berantem. Jambak-jambakan, cakar-cakaran, sampai gigit-gigitan. Di mataku, kadang dulu dia sangat menjijikkan. Bayangkan, dia tidur dengan mulut masih penuh nasi. Hii aku pengen munmun ngeliatnya.

Tapi kemudian dia jadi orang yang sangat aku sayangi, soalnya dia itu sering mengekor aku, jadi serasa punya pengikut gitu. Setiap kali aku pergi, selalu keingetan dia. Alhasil aku selalu beli sesuatu buat dia, dan nyaris tidak beli apa-apa buatku sendiri.

Dia pinter, dan aku yang bodoh ini sering memanfaatkannya he he he. Waktu ada pe-er menggambar saat SMP dia kusuruh menggambar dan aku yang mewarnai. Waktu ada pe-er bikin mozaik dari biji-bijian, adikku ini tanpa disuruh membantu menempel biji-bijian membentuk Donald bebek besar. Bahkan waktu aku enak-enakan tidur siang, adek malah mengerjakan pe-er mozaik itu. Saat SMA, dia juga yang mengerjakan pe-er akuntasi-ku. Adek memang bisa diandalkan.

Saat kami berencana membuat kliping dari koran, maka dialah yang sibuk menggunting dan mengelem. Sedangkan kakaknya ini cuma bekerja di awal, soalnya gampang bosan. Pun saat berencana bikin baju buat boneka, adeklah yang menjahit-jahit sendiri dengan tangan mungilnya. Sebab si kakak putus asa lantaran celana panjang bikinannya buat si boneka nggak bisa dipakai.

Waktu kecil dia bukan orang yang suka tidur siang. Dia pasti sibuk sendiri saat orang-orang di rumah tidur siang. Ada saja yang dia lakukan: berkebun (dia membuat taman super mini dengan tanaman yang ditanam membentuk abjad penyusun namanya), membuat kartu ucapan (dia hobi ngirim kartu ke acara musik simphoni di SCTV dan beberapa kali dapat hadiah), membersihkan selokan (padahal kalau sengaja disuruh sering nggak mau), dll. Yah walaupun sekarang dia tumbuh jadi orang pelor heu heu.

(Adek n aku, 17 Agustus-an, kelas 3 dan 4 SD. Iiih aku nih siap grak banget sih. Di foto ini, adek ngegandeng tanganku yang sedang dalam posisi sangat siap kayak komandan upacara ha ha).

“Mbak, kamu ingat nggak pernah kesel sama bapak gara-gara foto-foto di rumah kamu kasih bunga?” tanya adikku sambil cekikikan di tengah sakitnya. He he aku senang lihat dia ketawa, yah meskipun menertawakan kebodohanku waktu kecil.

Hmm ya, aku ingat. Waktu itu mami pulang kondangan bawa mawar imitasi banyak banget. Jiwa seniku pun menggelegak. Semua bingkai foto di rumah, baik yang ditempel di dinding maupun yang teronggok di lemari kuhias dengan mawar-mawar itu. Tapi apa yang dikatakan bapak?

“Ini siapa sih yang ngasih-ngasih bunga di foto? Kayak orang udah mati aja. Kamu ya It? Copotin!”

Aku sedih dan merasa nggak dihargai. Menurutku bapak sudah mematikan kreatifitas yang dimiliki seorang anak yang tengah tumbuh dewasa. Tapi mendadak aku merasa geli. Iya ya, konyol banget naroh-naroh bunga di pigura. Besoknya bapak beli beberapa vas bunga. “Bunganya ditata di vas tuh It, nanti taroh di ruang tamu.”

Di  saat yang lain, aku dan adikku pernah dikejar orang gila  lagi-lagi karena kekonyolanku. Waktu itu aku dan adik mau ke warung, nah di depan kita ada orang gila.

“Kasihan ya orang gila itu nggak pernah disapa orang, nggak pernah disenyumin. Padahal kan dia juga nggak minta gila. Kasihan banget,” ujarku.

“Ya udah sana kamu sapa,” respons adek.

“Pak, mari Pak,” kataku super ramah ke si orang gila.

Orang itu membalas senyumku. Dia lalu berdiri sambil bilang “Cah ayu… cah ayu….” dan berusaha meraih tangan aku dan adek. Wuah kami langsung ambil langkah seribu balik ke rumah dan mengunci pintu. Orang gila itu pergi setelah diusir bapak. Pfuuuhhh.

Ada yang berbeda dari adek. Sekarang tidak semua hal dia share ke aku. Bukan hal baru sih, sejak dia lebih serius dengan seseorang yang waktu itu dan yang sekarang ini, aku berasumsi dia lebih banyak berbagi sama orang lain itu. Nggak apa-apa, aku menghargai itu.

Meski banyak menyukai hal yang sama, tapi aku dan adek sering juga beda pendapat. Kalau beda pendapat udah sangat meruncing, langsung perang dingin deh. Tapi dia yang selalu mengalah buat aku. Kalau saat begini, aku jadi bertanya-tanya sebenernya siapa yang kakak siapa yang adik sih. Sekarang dia lagi berupaya keras mewujudkan sesuatu yang udah sejak lama jadi mimpinya. Sesuatu yang kerap membuatnya terpuruk juga. Aku sebel kalau dia lagi down, suka nggak mau dengar nasihat siapapun. Kalau sudah begini, kata ‘terserah’ selalu jadi kata terakhirku sebelum mengunci mulut rapat-rapat.

“Tembakkan aja peluru sebanyak-banyaknya, soalnya kita nggak tahu peluru mana yang bakal mengenai seekor burung. Tapi tetep, waktu kami lagi nembak, ambil senjata, peluru, dan posisi terbaik. Next pekerjaan Tuhan.”