Ketika mencintai sesuatu (misalnya binatang) atau seseorang, kita cenderung membuat sesuatu atau seseorang itu senang dan nyaman. Kita tidak peduli orang lain mau bilang apa yang penting dia senang.

Ya, seharusnya begitulah kita melakukan apapun dalam hidup, semata-mata untuk membuat Dia senang. Dia siapa? Dia Allah, yang telah menciptakan kita. Sang Maha Pencipta.

“Allah lebih senang sama seseorang yang nilai UN-nya kecil tapi tidak mencontek, dibandingkan orang yang nilainya tinggi tapi curang,” kata Aa Gym dalam pengajian di Masjid Daarut Tauhid Bandung, Kamis (1/4/2010).

“Tapi kalau sudah terlanjur mencontek bagaimana? Segeralah bertaubat.”

Aa’ melanjutkan, pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara biasanya senang berdua-duaan (serasa dunia milik berdua), bergandengan tangan malah sampai peluk-pelukan segala, atau nonton film di biskop (apalagi filmnya yang banyak mengumbar aurat dan memancing birahi, naudzubillah). Apakah Allah suka? Mungkin kita suka, tapi Allah tidak.

“Hei akhwat, tadi ke sini pada bonceng siapa? Allah suka tidak kalau lihat ikhwan dan akhwat yang bukan muhrim bonceng-boncengan?” tanya Aa’.

Waduh, saya pergi ke Masjid DT itu ngebonceng anaknya ibu kos yang notabene seorang ikhwan. Tapi kan kami nggak ngapa-ngapain. Boro-boro, pegangan baju anak ibu kos itu aja enggak. Pokoknya dia serasa ngeboncengin karung beras deh he he. Apapun yang terjadi, si karung beras ini nggak akan pegangan. Dia lebih memilih terguling daripada pegang-pegangan.

“Kalau bonceng-boncengan, bawa triplek ya buat hijab,” canda Aa’.

Saya nggak perlu triplek sih. Tas saya yang penuh berisi itu sudah cukup menjadi pembatas. Allah pasti tahu saya tidak berniat menggoda anak ibu kos, saya kan cuma nebeng, nggak ada niat lain. Allah juga pasti tahu niat anak ibu kos cuma memberi tumpangan ke saya, tidak lebih.

Aa’ cerita, dulu ketika awal-awal Masjid DT menata sandal jamaahnya, berniat mau difoto dan mungkin dipublikasikan ke khalayak. Tapi hal itu tidak jadi dilakukan. “Buat apa? Kan yang kita lakukan cuma buat Allah senang. Ya, seperti yang dilakukan seseorang yang rajin membersihkan rumah kontrakan dan lingkungannya karena Allah suka sekarapihan dan kebersihan. Kalau suatu saat penghuni kontrakan itu dapat penghargaan kontrakan terbersih, ya disyukuri saja, tapi bukan itu tujuan utamanya.”

“Kalau melakukan sesuatu kebaikan, lakukan saja untuk membuat Allah senang. Jangan berpikir balasannya. Nanti kalau berpikir balasannya, kita jadi menunggu-nunggu kapan ya balasan itu datang, kan kalau berbuat baik nanti ada balasannya. Jadi sekarang kalau mau berbuat baik, lakukan saja.”

“Kalau mau tersenyum ya tersenyum saja, karena Allah suka. Jangan tersenyum biar dibilang ramah, atau tersenyum biar dibilang manis. Lakukan saja, karena Allah.”

Aa’ kemudian mengisahkan pria pedagang jeruk. Si pedagan selalu memeriksa timbangannya agar benar-benar adil, karena Allah suka keadilan. Jeruk-jeruk dibersihkan dan ditata dengan apik. Jeruk yang sudah tua dipisahkan dari yang masih muda lagi ranum. Sebelum berangkat si pedagang juga memakai wewangian, karena Rasul pun melakukannya. Lalu jalan di depan dia berjualan disapu hingga benar-benar bersih.

Kemudian datanglah orang yang akan beli. “Jeruknya sekilo berapa?” tanya calon pembeli.

“Rp 10.000.”

“Mahal. Rp 2.500 saja ya.”

“Wah belum dapat. Saya beli sekilo Rp 7.200.”

“Ya sudah Rp 2.000 kalau gitu.”

“Maaf belum bisa. Mungkin bisa cari di pedagang lain yang harganya cocok.”

Pergilah si calon pembeli. Lalu datang lagi calon pembeli yang lain. Dia pun menawar-menawar seperti yang dilakukan calon pembeli pertama.

“Jeruknya manis tidak?” tanya calon pembeli.

“Saya hanya mencicipi yang ini. Yang ini agak manis, tidak tahu yang lain. Mungkin kalau dari satu pohon rasanya sama, agak manis.”

“Kamu jujur sekali,” ujar calon pembeli.

“Iya, karena Allah suka sama orang yang jujur.”

“Ya sudah, selamat berjualan ya,” kata calon pembeli sambil berlalu tanpa membeli.

Tidak lama datanglah seorang ibu penyapu jalan.

“Saya ingin beli jeruk tapi saya tidak punya uang,” kata si ibu.

“Kalau gitu ambil saja yang Ibu mau.”

“Tapi nanti kamu rugi.”

“Kalau Ibu senang, itu sudah jadi rejeki buat saya.”

Subhanallah, kayaknya adem dan anteng banget ya tukang jeruk itu. Dia benar-benar percaya sama Allah dan begitu mencintai-Nya, sehingga berusaha sekuat tenaga membuat Allah senang.

Aa’ bilang, untuk mengetahui sesuatu yang kita lakukan itu baik atau tidak, maka ada baiknya diadukan dengan mati. “Kalau kita lagi nonton film maksiyat, coba adukan dengan mati. Mau tidak mati saat nonton film maksiyat? Saat pacaran, berdua-duaan, mau tidak mati waktu pacaran? Akan sangat indah jika Dia mengambil kita saat kita sedang sibuk membuat-Nya senang.”

Sekadar renungan buatku, agar terus belajar mencintai-Nya.