“Pernahkah kamu berpikir bagaimana jika kita tertidur dan tidak terbangun lagi. Ke manakah kita? Hilang sudah tak berguna lagi.” Demikian status FB salah satu teman beberapa waktu lalu. Hmm ya, bagaimana ya bila waktuku di dunia usai?

“Hah? Dia meninggal? Padahal baru kemarin ngobrol-ngobrol.” Mungkin itu reaksi teman sekelas yang cukup dekat dengan saya saat mendapat kabar itu.

“Dia meninggal? Kapan? Kenapa?” Mungkin itu reaksi teman-teman kantor saya yang dulu.

“Dia meninggal? Padahal aku masih ada tanggungan sama dia.” Ini mungkin reaksi orang yang masih punya utang sama saya.

“Dia meninggal? Padahal kami berencana ketemuan.” Mungkin ini reaksi teman lama saya.

“Dia meninggal? Dia…,” lalu menerawang. Ini mungkin ucapan dan reaksi orang yang pernah menyentuh hidup saya sedikit lebih dalam dari pada orang lain.

“Dia meninggal? Dia yang mana ya?” Atau mungkin begini reaksi orang yang sudah lupa pernah mengenal saya. Lupa akan eksistensi saya.

Mungkin akan ada yang menangis sedih. Ada yang biasa saja. Ada yang butuh waktu lama untuk melupakan kehilangan akan diri saya. Ada yang begitu mudah melupakan kepergian saya. Setelah seseorang pergi dan nggak kembali, akan ada begitu banyak testimoni. Testimoni seperti apa tentang diri saya? Banyak yang positif atau negatif? Setelah itu akankah doa terus mengalir untuk saya?

Setiap hari umur saya bertambah. Artinya semakin dekat hari untuk menghadap-Nya. Saya jadi ingat pertama kali mengetahui arti kematian. Saat itu saya sekitar 3 tahun, TK Kecil. Di depan rumah kebetulan lewat iring-iringan orang yang membawa jenazah untuk dikubur.

“Itu mau ke mana?” tanya saya sama mbak yang mengasuh.

“Ke kuburan. Pak A sudah meninggal, jadi dia mau dikubur.”

“Ditutup pakai tanah?”

“Iya. Dia dimasukin ke lubang terus ditimbun sama tanah.”

“Terus dia ngapain?”

“Dia menghadap Allah.”

“Sama siapa?”

“Sendiri.”

“Anak sama istrinya?”

“Dunianya sudah beda karena dia meninggal. Kalau orang itu sudah meninggal, artinya di dunia ini kita sudah nggak bisa ketemu sama dia.”

“Dia kenapa meninggal?”

“Sakit.”

“Jadi kalau aku nggak sakit aku nggak akan meninggal?”

“Semua orang pasti meninggal. Caranya beda-beda, waktunya juga beda-beda. Ada yang meninggal waktu bayi, tapi ada juga yang meninggal waktu sudah tua.”

“Mbak meninggal juga?”

“Nanti pasti meninggal.”

“Aku juga? Bapak, ibu, adek semua?”

“Semua pasti meninggal.”

“Di dalam tanah orang meninggal ngapain?”

“Dia nunggu hari pembalasan. Nanti amal kita ditimbang. Ada surga buat orang baik, ada neraka buat orang jahat.”

“Kita masuk ke surga kan?”

“Insya Allah.”

Aku lalu berlari masuk kamar dan menangis. Itulah kali pertama aku menyadari tidak ada sesuatu yang abadi (kecuali Allah).  Akan ada perpisahan permanen. Saat di mana aku sadar, hidupku dan orang-orang yang kusayangi bisa saja berakhir kapanpun.

Semoga saat Allah memanggil, kita sudah memiliki bekal cukup. Semoga saat Allah memanggil, kita tengah sibuk mengagungkan nama-Nya dan berjuang di jalan-Nya. Semoga kita menghadapnya dalam keadaan kusnul khotimah. Amin Ya Allah.