Tags

,

“Aku pergi sekarang,” kata orang berkaos hitam itu.

“Apa yang kamu cari? Di sini kamu dapat semua yang kamu mau. Kamu bisa mulai mencicil apartemen seperti mereka. Kamu bisa lebih serius melihat ke depan, maksudku untuk menikah,” ujar orang satunya lagi yang berkemeja garis-garis.

“Mungkin. Tapi aku tetap pergi. Bukankah dalam hidup itu ada banyak pilihan. Aku memilih pergi. Aku rela meninggalkan ini.”

Percakapan kedua orang itu terhenti saat  jam dinding menunjukkan angka 12. Ya saat itu sudah tengah malam. Ada kecewa di wajah orang berkemeja garis-garis, dan ada kesedihan yang berbaur dengan optimisme di wajah orang berkaos hitam.

Beberapa hari dan beberapa bulan awal, si Kaos Hitam merasa seperti jetlag. Panjangnya hari tiba-tiba berubah. Dia merasa seperti telah menyeberangi garis meridian sebentuk bulat bola bumi.

Adaptasi memang tidak mudah. Buktinya beberapa binatang punah antara lain karena tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan yang kian berubah. Sekarang ini, bukan evolusi yang dibutuhkan, tapi revolusi. Yang kanan tiba-tiba menjadi kiri, dan yang atas tiba-tiba menjadi bawah. Perubahan cepat itu masih kerap mengagetkan meski telah diperkirakan sebelumnya.

“Pfuh udah ngirit tabungan tetap segini,” keluh si Kaos Hitam tiap kali membandingkan jajaran angka di rekening tabungannya sekarang dengan yang dulu.

“Kita tidak jadi ke Eropa.” Informasi yang terdengar seperti petir di siang bolong. Eropa yang pernah dijanjikan itu hanya tinggal imajinasi.

Kaos Hitam bersungut. Janji Eropa itu adalah salah satu hal yang membuatnya berani meninggalkan dunianya yang cukup gemerlap. Semua tampak seperti oase di tengah gurun pasir yang bila didekati tetaplah lautan pasir. Fatamorgana.

Kesal menggantikan ceria sebagai nama tengahnya. Entah sejak kapan nama tengah itu benar-benar berubah. Tidak ada bubur merah putih sebagai tanda pergantian nama tengah itu.

Waktu terus berdetik. Entah sudah berapa banyak duri yang terinjak dan menempel seperti magnet di kaki Kaos Hitam. Kadang dia begitu menyesali jalan penuh lubang yang dipilihnya. “Tahu rasa kamu, Sok Kuat,” ujarnya menyindir diri sendiri.

“Kadang aku jadi bertanya-tanya, ini stagnasi atau degradasi,” bisik Kaos Hitam pada dirinya sendiri.

Tapi mungkin inilah jalan yang Tuhan berikan buat dia. Jalan yang tampaknya seperti jalan di tempat atau bahkan mungkin turunan tajam yang sepertinya justru membuat dia melangkah mundur. Namun sebenarnya itulah jalan untuk menemukan kembali cinta kepada-Nya.

“Kamu tidak pernah stuck atau mengalami degradasi. Kamu sedang ditumbuhkembangkan menjadi orang yang kaya dan lebih sempurna dari sebelumnya,” nasihat Kaos Putih yang tak pernah bosan mendengar keluh Kaos Hitam.

“Kamu hanya menghibur. Kalau aku tidak meninggalkan jalan itu, aku sudah punya BB seperti mereka. Aku sudah menyicil apartemen atau mungkin rumah atau mobil secara mandiri. Atau bukan mereka yang pergi ke Washington, Sidney, Hongkong, atau Roma, tapi aku. Bahkan Afrika Selatan pada pertengahan tahun,” ucap Kaos Hitam berapi-api.

“Kamu tahu lagi bicara soal apa? Materi. Prestise. It’s not you at all. Kedua hal itu mungkin memang membuatmu stuck atau malah terdegradasi. Tapi bagaimana dengan yang lain? Kehidupan itu tidak melulu dipandang dari satu sisi. Sadarkah kamu kalau semua ini menyelamatkan martabat kamu sebagai orang beriman dan berpendidikan? Kamu bertemu orang baru yang berada di luar ring 1, ring 2, bahkan ring 10-mu. Semua bukan kebetulan. Kamu nggak juga bisa melihat ini sign yang Tuhan beri?” tutur Kaos Putih tak kalah berapi-api.

Kaos Hitam menunduk. Pelan-pelan terc ipta aliran sungai di pipinya.

“Kamu tahu, aku begitu iri sama kamu. Hampir semua yang kamu mau kamu dapatkan. Begitu sayangnya Tuhan sama kamu, membantu kamu dalam melakukan lompatan-lompatan dalam hidupmu. Ini masih belum cukup? Jangan menuntut Tuhan. Kamu nggak punya hak buat itu. Kita ini cuma makhluk-Nya, nggak punya kuasa apa-apa buat menggugat Dia.”

Hampir tengah malam. Kaos Hitam tenggelam dalam dzikrullah. Dia merasa begitu kecil, begitu bodoh, dan begitu lemah di hadapan-Nya. Tapi dia juga merasa begitu diperhatikan dan begitu disayangi. Dzat yang Maha Pengasih itu sama sekali tidak pernah meninggalkannya. Dibentangkannya jalan di hadapan Kaos Hitam, tampaknya begitu buruk, tapi itulah jalan menuju cinta-Nya.

“Apa yang tengah kukerjakan, orang-orang yang kemudian harus kuhubungi untuk menyelesaikan pekerjaan ini, semua benar-benar tidak kusangka akan semakin mendekatkanku pada-Mu. Aku ingin seperti mereka-mereka yang lebih dulu menemukan cinta yang sebenarnya pada-Mu. Aku ingin menikmati indahnya mencintai-Mu. Tolong ajari aku untuk selalu mencintai-Mu,” rintih kaos hitam.

Hidup ini seperti membaca buku cerita “Pilih Sendiri Petualanganmu”. Ada beberapa pilihan yang diberikan. Pilihan A akan membawa ke kondisi A. Pilihan B akan membawa ke kondisi B. Tapi bisa saja pilihan A juga akan berakhir di kondisi B. Pilih saja jalan yang menurutmu terbaik. Melangkahlah dengan langkah-langkah terbaikmu. Lalu, biarkan Tuhan yang membimbingmu dengan tangan-tangan-Nya yang tak terlihat. This is your own way.

***

Kisah pendek untuk Kaos Hitam. Semoga semakin mantab dengan langkahnya. Semoga tidak lelah belajar mencintai-Nya. Percayalah hanya cinta-Nya yang tidak akan membuatmu bertepuk sebelah tangan. Hmm ya , selamat ya, kini ceria sudah kembali jadi nama tengahmu. Ho ho bukan aku yang bilang, tapi dunia.

“Pohon tinggi dapat banyak angin? Kalau Tuan segan menerima banyak angin, jangan jadi pohon tinggi.”
— Pramoedya Ananta Toer (Child of All Nations)

Ini hadiah buat Kaos Hitam.

Maher Zain – Thank You Allah

I was so far from you
Yet to me you were always so close
I wandered lost in the dark
I closed my eyes toward the signs
You put in my way
I walked everyday
Further and further away from you
Ooooo Allah, you brought me home
I thank You with every breath I take.

Alhamdulillah, Alhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah
Alhamdulillah, Alhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah.

I never thought about
All the things you have given to me
I never thanked you once
I was too proud to see the truth
And prostrate to you

Until I took the first step
And that’s when you opened the doors for me
Now Allah, I realized what I was missing
By being far from you.

Alhamdulillah, Alhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah
Alhamdulillah, Alhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah.

Allah, I wanna thank You
I wanna thank you for all the things that you’ve done
You’ve done for me through all my years I’ve been lost
You guided me from all the ways that were wrong
And did you give me hope

O Allah, I wanna thank you
I wanna thank You for all the things that you’ve done
You’ve done for me through all my years I’ve been lost
You guided me from all the ways that were wrong
I wanna thank You for bringing me home

Alhamdulillah, Alhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah
Alhamdulillah, Alhamdulillah
All praises to Allah, All praises to Allah.

Lihat lirik dan dengarkan lagunya