Tags

(Gambar: http://i647.photobucket.com/albums/uu194/joquano1/sendal/image001.jpg)

Hiks hiks, sedih banget ya kalau putus. Apalagi kalau putusnya bertubi-tubi. Hari ini putus, selang beberapa hari putus lagi. Eh nggak lama putus lagi. Mungkin memang cukup sampai di situ. Tidak perlu lebih lama. Tidak perlu diperbaiki, karena sepertinya jadi nggak indah lagi.

Ini bukan putus cinta, tapi sandal saya yang pada putus talinya alias rusak. Bermula dari sandal kamar mandi warna biru yang belum lama saya beli. Nggak lama, sandal kamar mandi saya yang motifnya seperti tikar. Sandal ini memang sudah cukup tua, tapi enak dipakai buat ke kamar mandi.

Beberapa hari kemudian, sandal silver yang sering saya pakai ke mana-mana. Itu sandal dibeliin bapak saya beberapa tahun lalu. Awet banget, padahal dia sudah menempuh segala macam medan, tapi umurnya cukup panjang. Harga emang gak bohong he he.

Terus yang terakhir, sandal yang dibeli menjelang lebaran tahun lalu. Sandal ini lumayan mahal tapi umurnya pendek. Kalau ini, harga udah bohongin saya…. Mungkin salah saya juga ya, sandal ini rada-rada ‘manis’ tapi dipakai jalan di antara batu-batu terjal, lumpur, kubangan, tempat sampah, ombak, badai (ha ha mulai lebay) jadi ya umurnya pendek.

Untunglah masih ada sandal buat ke kamar mandi, juga sandal buat pergi yang dibeli 2 tahun lalu. Sandal buat pergi ini brisik banget. Kata sodara saya, kalau saya jalan kedengaran seperti seorang kapiten ha ha ha.

Btw soal sandal, sebagian besar sandal saya itu model flip-flops alias sandal jepit. Tentu saja kalau sandal buat pergi bukan sandal jepit ala kamar mandi, tapi jepit yang rada bagus dikit (ha ha, kata rada dan dikit mengapit kata bagus. Artinya: sedikit lebih bagus dari sandal kamar mandi).

Sejarah Sandal

Sandal berasal dari kata sandalion (bahasa Yunani) yang diserap ke dalam bahasa Latin (sandalium), bahasa Perancis (sandale), dan seterusnya. Sandal bermula dari alas kaki orang Yunani dan Romawi kuno. Pada waktu itu, sol dibuat dari gabus, sedangkan bagian penutup dibuat dari kulit yang disatukan dengan bagian alas dengan cara menjahitnya. Bagian jari kaki dibiarkan terbuka, dan dilengkapi dengan sabuk atau tali agar tidak terlepas dari kaki pemakai. Pada perkembangannya, pendeta Katolik mengenakan kaus kaki dengan bordir yang disebut sandal.

Sandal atau sendal adalah salah satu model alas kaki yang terbuka pada bagian jari kaki tumit pemakainya. Bagian alas (sol) dihubungkan dengan tali atau sabuk yang berfungsi sebagai penjepit (penahan) di bagian jari, punggung kaki, atau pergelangan kaki agar sandal tidak terlepas dari kaki pemakainya. Sandal dengan penutup di bagian punggung dan jemari, tetapi terbuka di bagian tumit dan pergelangan kaki disebut selop.

Sandal jepit atau sandal Jepang adalah sandal berwarna-warni dari karet atau plastik. Sandal jepit memiliki tali penjepit berbentuk huruf “v” menghubungkan bagian depan dengan bagian belakang sandal. Sandal dari ban bekas disebut sandal bandol (kependekan dari ban bodhol atau ban bekas) sedangkan sandal yang mirip sepatu disebut sepatu sandal atau sandal gunung. Sandal merupakan salah satu home industri / home industries.

Bagian alas sandal bisa dibuat dari karet, plastik, kayu, ban bekas, anyaman tali, atau anyaman rumput. Bagian tumit (hak) sandal wanita umumnya dibuat lebih tinggi daripada bagian depan agar postur tubuh pemakainya terlihat lebih bagus. Berbeda dengan sandal yang hanya dipakai laki-laki untuk kesempatan santai, wanita sering memakai sepatu sandal ketika menghadiri kesempatan resmi. Dalam kebudayaan Barat, pria biasanya tidak mengenakan kaus kaki bila sedang memakai sandal atau selop. ( Sumber: http://id.88db.com)