Hari itu kali pertama aku dan keluarga pergi ke Pelabuhan Ratu. Wuah meni jauh pisan euy. Karena memulai perjalanan dari Bandung, aku hanya menikmati perjalanan sekitar 6 jam. Tapi keluargaku yang berangkat dari Jogja, mereka harus rela duduk sekitar 16-17 jam di kendaraan.

Kami pergi ke Pelabuhan Ratu bukan dalam rangka piknik keluarga, tapi karena ada acara unduh manten. Beginilah tradisi di DIY dan Jawa Tengah. Yang mau di-unduh manten itu mbakku. Dia menikah pertengahan tahun lalu. Tapi karena ada banyak hal yang harus dilakukan dan dipersiapkan, unduh mantennya baru dilakukan 8 bulan kemudian.

(Raja dan ratu sehari bersama para pagar ayu-nya)

Keluargaku banyak yang mabok di jalan gara-gara jalannya yang meliuk-liuk. Maklum, kebanyakan perjalanan terjauh mereka cuma dari Jogja sampai Cilacap yang jalannya lumayan lurus-lurus saja.

Kendaraan rombongan kami dijemput tepat di pintu masuk Pelabuhan Ratu. Kami kira, perjalanan-nya nggak lama lagi. Ternyata masih 24 km lagi. Jalan berbatu-batu menyambut kami untuk masuk hingga ke rumah kakak ipar.

“Mbaknya itu ketemu suaminya di Facebook ya, Mbak?” tanya sopir bus pariwisata yang disewa keluargaku.

“Kenapa emangnya, Pak?” tanya kami.

“Kok bisa kenal sama orang yang rumahnya jauh banget begini.”

Haduh pak, namanya juga jodoh. Biarpun yang satu tinggal di gunung yang satu tinggal di pantai, kalau udah jodoh ya jodoh aja. Mereka ketemu di tempat kerja kok dengan cerita yang begitu unik he he.

Begitu sampai di dekat rumah kakak ipar, tetangga-tetangganya pada keluar rumah. Iiih malu banget jadi pusat perhatian. Apalagi MC yang emang lebay banget dalam menyambut kami. Kayak nyambut artis ibukota gitu deh. Tapi salah satu kalimat MC yang nyantol banget adalah: “Selamat datang di dieu para tamu dari Kota Jawa.”

Hi hi emang ada ya Kota Jawa. Orang Jabar dan DKI memang sering salah kaprah. Mereka menyebut Jogja dan sekitarnya itu Jawa. Sering banget denger begini, “Mau pulang ke Jawa ya?” Lah DKI dan Jabar juga kan masih di Pulau Jawa. Mentang-mentang kami berbahasa Jawa, langsung aja disebut mau pulang ke Jawa.

“Silakan para tamu langsung masuk ke bumi,” lanjut sang MC.

Wah keluargaku terbengong-bengong tuh. “Hah masuk ke bumi? Gimana caranya?”

Aku yang hampir dua tahun hidup di lingkungan berbahasa Sunda ngerti sedikitlah. Maksudnya si MC adalah masuk ke rumah, bukan bumi yang berarti Planet Bumi hi hi.

(Iih Mas, kamu laper ya kok ngelirik-ngelirik makanan he he)

Sayangnya kami nggak sempat jalan-jalan di tempat wisatanya, soalnya udah kesorean. Padahal tadinya berencana mau berendam di air panas. Baju buat berendam pun dibawa pulang lagi dalam keadaan keringūüė¶

Nggak tahu deh kapan ada kesempatan berendam bersama di sana. Soalnya keluargaku kayaknya udah kapok mengunjungi rumah kakak ipar. “Cari jodoh yang dekat rumah saja ya, biar gak bikin mabok begini,” pesan tante-tante pada kami-kami yang status di KTP-nya masih belum menikah.

Tahu pada mabok di jalan, kakak iparku malah menghina dina. “Wah pada kampungan nih, masak ke sini aja pada mabok.”

“Eh tolong ya, siapa sih yang rumahnya di kampung begini, sampai bikin mabok,” ujar kami nggak mau kalah.