“Nanti adeknya diajak main ya, soalnya Ibu mau ngelayat,” pesan budheku suatu kali. (Aku biasa menyebut budhe dengan panggilan ibu. Buat aku, dia sudah seperti my second mom).

“Tadi adeknya udah maem belom?” tanya budhe di saat yang lain.

Adek yang dimaksud budheku ini adalah Athar yang tidak lain adalah anaknya mbak-ku. Artinya, Athar itu adalah keponakanku. Kalau melihat dari jarak umur antara aku dan Athar, malah Athar itu sangat pantas menjadi anakku. Kok budhe-ku itu selalu membahasakan adek dan bukan keponakan atau anak kepadaku buat menyebut status Athar ya. Entahlah, tapi itu yang membuatku merasa jauhhhhhhh lebih muda hua ha ha.

Yang membuatku merasa jauh lebih muda lagi adalah bila dikasih uang saku sama mami, budhe, mbak, juga nenekku. Sudah 4 tahun aku hidup mandiri secara finansial. Ketika menyandang lagi status mahasiswa, sebenarnya aku juga masih bisa mandiri secara finansial, secara tiap bulan dapat jadup. Tapi entah kenapa mami dll selalu kasih uang saku tiap kali aku aku mau balik ke Bandung.

“Ini buat jajan di jalan.”

“Ini buat beli buku.”

“Ini buat beli tiket.”

Kata-kata itu selalu menyertai berpindah tangannya lembar uang dari tangan mereka ke tanganku. Malu banget sebenernya, masih dikasih uang saku begitu. Setiap kali mendapat perlakuan seperti itu jadi inget jaman-jaman sekolah berseragam dulu.

Juga selalu merasa lebih muda kalau kenalan sama orang di jalan. Soalnya hampir selalu ditanya begini:

“Di Bandung kuliah?”

“Iya.”

“Baru masuk ya?”

“Udah semester 4 sih.”

“Iya itu sih masih baru.”

He he gak tau dia aku udah seperampat abad lebih sedikit… Eh tapi diem aja ah, biar disangka masih sangat muda hua ha ha. Alhamdulillah sering disangka lebih muda dari umurnya🙂