Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak. Selalu saja begini kalau mau ketemu sama dosen pembimbing. Yeah, dua hari ini nafsu makan itu benar-benar hilang. Dan menjelang bimbingan aku hanya tidur 45 menit dengan selalu terbangun tiap sekitar 5-10 menit.

Tengah malam itu masih SMS-an sama teman seperjuangan. Seminggu nggak ketemu, kayaknya ada banyak cerita yang ingin dibagi. Tapi niat ngobrol via SMS terpaksa dipending karena aku harus menyelesaikan load tulisanku. Kami berencana bimbingan bareng, tapi rupanya kenyataan nggak seindah yang diharapkan.

Temanku itu bangun kesiangan. Gilee dia bangung jam 09.00 WIB-an. Then dosen kami SMS 30 menit kemudian dan minta ketemu jam 10.00 WIB-an. Waduh! Teman aku itu pasti bakal sangat gubrak-gabruk. Dia pasti belum mandi, belum cukur kumis, belum sarapan, mana rumahnya jauh pula.

“Ta, gw suruh beres-beres rumah dulu. Ini juga belom mandi. Pasti ntar nggak keburu,” ujar temanku dalam pesan singkatnya.

Fiuh ya sudah bimbingan sendiri saja. Aku yang bangun dari ayam belum berkokok dan mandi sebelum matahari terbit juga nggak kalah gubrak-gabruk. Soalnya pagi-pagi sudah dapat telepon dari orang yang nangis sehingga menggegerkan dunia persilatan. Menenangkan orang-orang yang paniks kan nggak gampang, butuh waktu yang nggak sedikit.

Untung sampai kampus, dosennya belum datang. Aku menunggu dia sambil main PES 2009. Karena pikiran ke mana-mana, jadi kalah mulu deh mainnya. He he ini sih cuma cari pembenar aja. Tiba-tiba seseorang menyapa dengan suaranya yang begitu crunchy, “Ita, sudah lama?”

Aiiih itulah  dosenku. Menurut telingaku, dia selalu memanggilku Ita. Mungkin dia bingung sebenarnya namaku itu Vita atau Titta. Jadi Ita mungkin yang paling aman he he. Iih nggak penting banget sih hipotesa ini.

Nggak lama prosesi bimbingan akan dimulai. Aku segera keluarkan buku catatan, buku cetak, pensil, dan laptop. Si laptop udah kupencet-pencet tombol buat menghidupkannya kok nggak hidup-hidup juga. Haduh, masak rusak sih. Aku masih keukeuh mencet-mencet tuh tombol hingga menarik perhatian dosenku.

“Kenapa Ita?”

“Ini laptop saya nggak mau nyala. Waduh kenapa ya, Pak,” ujarku sambil mengangkat laptop mau mencopot batre. Astaga, batrenya nggak ada. Aku lupa memasangnya, pantesan lah nggak akan nyala sampai tahun baru kucing juga….

“He he lupa masang batre Pak. Mm tapi saya bawa print draft-nya kok Pak,” kataku sembari mengeluarkan lembaran kertas hasil print dengan tinta yang rada kabur-kabur, soalnya tinta printer sudah hampir habis.

Bla bla bla…. Bimbingan pun berjalan lancar, alhamdulillah. Dosen aku banyak ketawa dan tersenyum, aku kan juga jadi melakukan hal serupa. Eh atau kebalik ya, karena aku banyak ketawa dan senyum, so dosen aku jadi ketularan. Ha ha nggak penting banget.

“Pak, ini tesis kok kayak novel ya. Nggak ngerti deh harus nulis kayak gimana biar nggak kayak novel,” curhatku.

“Kalau menurut saya, bukan novel Ita, tapi kayak lagi baca soal cerita.”

Jadi inget, dulu waktu awal-awal belajar jadi penulis berita khas media online, aku menuliskannya model karya tulis ilmiah. Untuk sebuah artikel berita aku searching teori-teori buat jadi landasan berpikir. Pantesan aku menghabiskan waktu lama buat nulis berita. He he, aku mendapat teguran saat itu. Sekarang pas mau nulis ilmiah, malah bahasanya nggak ilmiah begitu pfuuh….

Finito. Semua sudah dibahas dalam waktu sekitar 60 menit. Saatnya minta tandatangan bukti bimbingan. Eh tapi mana ballpen ya, waduh lupa nggak kubawa. “Bapak, saya nggak bawa ballpen. Bapak bawa enggak?”

“Nah itu Ita nulis pakai apa?”

“Pakai pensil. Bapak tandatangannya pakai ballpen bapak nggak apa-apa kan? Maaf Pak, hari ini saya berantakan banget.”

“Nggak apa-apa. Saya bawa kok.”

Pfuuh hari ini benar-benar gubrak-gabruk day…. Lupa pasang batre laptop, lupa bawa ballpen, lupa isi tinta printer, lupa makan obat, lupa buang sampah, lupa bawa baju kotor ke laundry, lupa ngabarin ke teman seperjuangan lain kalau hari ini ada bimbingan, lupa nge-charge hape cdma, tapi untungnya di antara gubrak-gabruk ini diberi banyak kelancaran….🙂