Tags

,

Kontrak beasiswa yang ditandatangani para mahasiswa Studi Pertahanan dengan masing-masing sponsornya berakhir pertengahan tahun ini. Namun sebelum kontrak berakhir, 7 dari 31 mahasiswa telah berhasil lulus. Horeee.

Aku bukan salah satu dari ketujuh orang itu. Tapi aku tetap ikut bersorak gembira saat mereka dinyatakan lulus dan akan diwisuda pada 10 April ini.

“Vita, di mana? Besok siang ikut makan-makan ya.” Itulah SMS dari teman paling senior di kelas yang dikirim kemarin. Aku langsung merespons positif undangan tersebut.

Usai bimbingan aku menunggu teman-temanku yang sudah pada lulus itu. Wah itu mereka…. Iih kangen banget. Kami langsung salam-salaman, menanyakan kabar, dan saling menggoda (ejek-ejekan) seperti biasa. Juga memberi semangat.

“Vitooong, cepet diselesein tesisnya biar cepet nyusul kita.”

“Jangan ikut-ikutan para pemalas ya.”

“Ayo Vita cepet lulus biar syndicate 1 makin banyak yang lulus.”

Hmm Syndicate 1. Itulah kelompok tugas yang menyatukanku dan 6 pria di kelas. Karena aku perempuan sendiri plus yang paling muda, sering kali aku semaunya kalau mau menumpahkan emosi. Soalnya mereka berenam pasti akan berlomba-lomba membuatku tersenyum lagi kalau aku kesel dan sedih.

“Kamu inget nggak kamu marah-marah waktu kami tinggalin pergi ke rumah Bang E. Trus semua sibuk nelponin kamu, jemput kamu di pinggir jalan. Kami yang udah kelaperan nggak makan sampai kamu datang,” kenang teman satu sindikatku.

“Ingat kan, kita berdua ngerjain tugas di kos lama kamu sampai malam. Kadang kesel-kesel sendiri, marah-marah sendiri. Kalau nggak ada kamu, mungkin udah lama aku tumpahin marah-marahku ke orang-orang,” curhat temanku itu.

“Iya, soalnya kan kamu nggak mungkin tega marah-marah ke cewek. Atau kamu gengsi mau marah-marah soalnya ada aku,” ujarku.

Lagi asyik-asyik ngobrol tiba-tiba ‘bleb’ mukaku ditutup pakai topi. Ih bau banget sih topinya. Huh ternyata itu ulah temanku yang memang hobi banget ngejahilin aku. Dulu, kalau aku maju presentasi pasti dia sengaja bikin aku panik atau bikin aku merasa geli sama tingkahnya yang kocak n nggak banget, so aku malah cekikikan di depan kelas.

“Kiye mening bocah siji, usile ora ketulungan. Topine mambu banget mening, ora tau dikumbah ya? Awas ya mening-mening nutupi raiku kambi topi mampu, tek wei kaos kaki mambu sisan lah,” omelku pakai bahasa Banyumas.

He he, mereka pasti pada ketawa kalau dengar aku ngomong pakai bahasa daerahku. Mungkin karena aku nggak pernah benar-benar marah kalau diusilin atau mungkin caraku ngambek lucu, jadi teman-teman selalu datang padaku kalau jahilnya lagi kumat. Tapi mereka juga maklum kalau aku udah bilang, “Aku hari ini lagi nggak mau becanda,” dengan wajah super serius.

Nggak ada lagi belajar bareng kalau mau ujian, diskusi tugas kelompok, berebut komputer di ruang komputer dan internet, bercengkrama saat menunggu kuliah pagi, dan sejumlah ritual yang akrab dalam waktu hampir dua tahun ini. Selanjutnya apa? Ada yang kembali ke satuan tugasnya, ada yang terjun ke dunia baru, ada yang siap-siap mau kuliah lagi, dan ada yang masih berkutat sama tesisnya. Apapun semoga semua berjalan lancar.