Tags

,

Bumi adalah rumah kita. Selayaknya rumah, maka penghuninya harus pandai-pandai menjaga dan merawat kalau tidak ingin rumahnya rusak dan kumuh. Di Hari Bumi ini, tidak ada salahnya kita berkontemplasi sembari mengevaluasi diri, sudahkah kita menjaga ‘rumah’ dengan baik agar tidak bocor saat hujan, agar tidak retak dindingnya, agar tidak ambruk, melainkan tetap kokoh berdiri dengan asri?

22 April 1970 adalah pertama kalinya Hari Bumi diselenggarakan di Amerika Serikat, atas prakarsa seorang senator bernama Gaylord Nelson. Gagasan Hari Bumi muncul tatkala dia menyampaikan pidato di Seattle tahun 1969, tentang desakan untuk memasukkan isu-isu kontroversial, yakni lingkungan hidup, dalam kurikulum resmi perguruan tinggi mengikuti model teach in mengenai masalah anti perang.Ternyata gagasan Nelson mendapat dukungan yang mencengangkan dari masyarakat sipil. Dukungan ini terus membesar dan memuncak dengan digelarnya peringatan Hari Bumi yang monumental.

Hari Bumi diprakarsai oleh LSM maupun organisasi yang berorientasi kepada pelestarian lingkungan hidup. Sedangkan Konferensi PBB tentang Lingkungan hidup yang telah diselenggarakan pada 5 Juni 1972 di Stockholm, menetapkan tanggal konferensi ini sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Hari Lingkungan Hidup Sedunia bersifat lebih resmi dan diperingati oleh masyarakat dan pemerintah di seluruh dunia. Meski demikian, tujuan kedua peringatan hari tersebut sama yaitu untuk menggugah kepedulian manusia dan masyarakat pada lingkungan hidup yang cenderung semakin rusak.

Di Hari Bumi ini saya merenung sesaat. Apa ya yang bisa saya lakukan sebagai sumbangan untuk merawat bumi ini? Hmm kadang saya tidur dengan lampu dan televisi yang masih menyala. Kantong plastik adalah salah satu sampah terbesar saya. So, yang bisa saya lakukan adalah bergegas mematikan televisi dan lampu saat akan tidur untuk menghemat listrik. Untuk meminimalkan kantong plastik, maka saat membeli nasi bungkus di warung, beli pisang di pasar, dsb saya lebih baik membawa kantong sendiri dari rumah.

Berhubung saya punya banyak kertas yang baru dipakai satu sisinya, maka kalau mau mem-print sesuatu yang tidak resmi, saya pakai saja sisi kertas yang lain untuk mengurangi penggunaan kertas. Soalnya untuk membuat kertas, harus berapa pohon yang harus ditebang ya. Selain itu, tetap membuang sampah pada tempatnya.

Mungkin saya tidak bisa mengubah dunia, tapi setidaknya saya sudah berupaya mengubah dunia dengan mengubah diri saya, bukan cuma saat Hari Bumi tetapi setiap hari. Be nice to the planet is the key. Bagaimana dengan Anda? Pedulikah Anda dengan bumi kita?