Tags

Ingatkah kau di pagi itu? Pagi yang mengubah statusmu. Pagi yang kemudian membuatmu punya nama panggilan baru. Pagi yang membuat hari-harimu menjadi berbeda dengan sebelumnya. Karena saat itu putri kecilmu yang pertama lahir.

Aku tidak ingat apa kata pertama yang kuucapkan saat aku belajar bicara. Aku hanya ingat harus memanggil sosok besar itu, sosokmu, dengan sebutan ‘Bapak’. Aku bahkan tidak ingat melewatkan ulang tahun pertama, kedua, dan ketigaku di tempat yang tidak ada dirimu. Yang kuingat, kau pernah datang membawa gaun yang sedikit kebesaran sehingga aku harus menunggu beberapa bulan agar pas saat memakainya.

Lalu di tahun-tahun berikutnya, ketika aku mulai mengerti apa itu ulang tahun, kau selalu mengirim ucapan lewat radio. Kau berharap semua orang di kota kecil kita tahu, putri kecilmu beranjak besar. Tak pernah kulupa kecupan di kedua pipi dan keningku yang durasinya sedikit lama dari hari-hari biasa, setiap kali tiba tanggal dan bulan lahirku.

Aku tidak suka pesta dengan semua hiruk pikuknya. Aku terlalu malu harus berdiri di hadapan banyak orang, mendapat tatapan dari puluhan pasang mata. Makanya kau selalu membuat hari istimewa itu khusus buat kita sekeluarga. Makan siang dengan menu pilihanku yang dibeli dari tempat favoritku adalah ritual tahunan buatku.

Ingatkah kau, saat usiaku berubah 17? Tidak ada dirimu di rumah. Saat itu hari-hariku penuh air mata, karena kau berada jauh dari kami lantaran rasa sakit yang kau rasakan. Kau memberiku uang agar bisa makan siang bersama teman-teman sekelas. Kau berharap mereka bisa menghapus sedihku. Ya, sebentar. Tapi setelah itu, aku kembali diterpa badai air mata. Tidak ada hal yang membuatku ceria saat itu selain melihat kita semua berkumpul di rumah dengan sehat dan bahagia.

“Gimana tadi ulang tahunnya?” tanyamu di telepon saat itu.

“Tadi pulang sekolah disiram pakai air selokan. Terus dibedakin sama tepung. Nggak ada yang mau nganterin Mbak Ta pulang soalnya bau banget, jadi naik angkot deh. Udah kayak tikus kecebur selokan gitu.”

Kau tergelak. “Mau kado apa?”

“Bapak sembuh, trus cepet pulang ke rumah,” ujarku dengan suara yang kujaga tetap terdengar ceria.

Hening. “Doakan ya It.”

Seminggu kemudian, saat ulang tahun adek, kau sembuh. Aku senang sekali. Pulang dari kantor kau beli handuk sepak bola: AS Roma dan Spanyol. Aku merajuk karena bukan handuk Juventus yang kau beli. Kau beralasan, di toko olahraga yang kau datangi, handuk Juve tidak dijual. Saat itu pernak-pernik bola memang belum sebanyak sekarang.

Ingatkah kau saat usiaku menjadi 20? Hari itu adalah hari operasimu. Aku benci membayangkanmu tergeletak di meja operasi. Aku benci membaui obat-obatan di kamar rawat inap-mu kala itu. Kau ingat apa kalimat pertamamu setelah terbebas dari pengaruh bius? “Sekarang Vita ulang tahun.”

Itulah terkahir kali kau menjadi saksi berubahnya umurku. Terkahir kali kau tapaki hari yang mengingatkanmu akan perubahan statusmu menjadi seorang ayah. Karena setahun kemudian, kau tidak ada. Juga tahun berikutnya, berikutnya, berikutnya, juga tahun ini.

Buatku ulang tahun diriku sendiri tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Toh tiap hari umurku bertambah sehari. Tapi seperti selalu kubilang, ini bukan soal bertambahnya umur tapi soal memaknai waktu yang telah dianugerahkan-Nya. Dan setiap kali hari itu datang, aku jadi kangen dirimu dengan sangat. Jangan sedih karena celotehku ini ya. Biasalah, putri kecilmu ini kadang sentimentil.

Buon compleanno per me. Tanti auguri per un super compleanno. Questo e un regalo per me.

Selamat Ulang Tahun by Dewa 19

Di keramaian waktu
Rotasi hidupmu
Pecahan emosi
Tertuang kembali membias restunya

Seutas bahagiaku
Cerminan tatanan cinta
Seolah terisolasi
Ditempurung janji Sangkar Bakti

Sebait nada – nadaku Bercak cinta tulus suciku
Kupersembahkan hanya untukmu

Chorus:
Selamat ulang tahun
Dandani hadirnya masa remaja
Semoga panjang umur
Beri arti jejak langkah mudamu

Petuah bijak tersedia
Rangkum dalam jiwa
Seberkas masa lalu
Berita progresmu
Kelopak masa depan

Sebait nada – nadaku Bercak cinta tulus suciku
Kupersembahkan hanya untukmu

Chorus