Tags

, ,

Aku menyukai klub sepakbola Italia, Juventus, bersamaan dengan saat menyukai salah satu pemainnya, Alessio Tacchinardi. Kala itu Tacchinardi masih memakai nomor punggung 20. Saat itu dia masih muda. Umurnya awal 20-an.

Ketika teman-teman cewek sebayaku sibuk beli baju-baju girly, alat-alat make-up sederhana, atau pernak-pernik khas cewek, aku malah sibuk membeli tabloid sepakbola (saat itu ada GO, Bola, Soccer, Libero) juga majalah sepakbola (Liga Italia, Hai Soccer, Sportif, Bola Vaganza). Saat teman-teman cewek sebayaku menjaga kemulusan kulitnya, aku malah nggak peduli bakal luka-luka dan memar-memar gara-gara main sepakbola (termasuk main bareng anak-anak cowok).

Majalah Liga Italia edisi perdana benar-benar keren. Soalnya menampilkan wawancara dengan Alessio Tacchinardi. Dari situ aku tahu, dia punya nama panggilan lain: Tacchella. Itulah nama yang diberikan oleh striker Juve asal Paraguay kala itu, Daniel Fonseca.

Gara-gara Tacchi dan Juve, aku belajar Italiano. Awalnya belajar otodidak dengan membeli buku Kencan dalam Bahasa Italia dan Tata Bahasa Italia. Maklum, di kota tempat aku sekolah dan kuliah tidak ada tempat buat kursus bahasa Italia. Dulu pernah kirim surat ke Kedutaan Italia, oleh mereka dikirimkanlah buku dan fotocopy buku sejarah kota Roma.

Dulu, aku rajin mengumpulkan gambar dan artikel Tacchi dari tabloid. Sekecil apapun gambar atau artikelnya, pasti aku gunting dan kukumpulkan, termasuk rapor pemain yang biasa dibuat tabloid Bola. Bahkan pernah memungut potongan koran bekas di pasar gara-gara ada gambar pria kelahiran Crema 23 Juli 1975 itu. Di saat lain, mengirimkan surat buat Tacchi via markas Juve. 3 Kali aku mengirim surat tapi nggak pernah dibalas, hiks. Kekecewaanku terobati dengan balasan e-mail dari Tacchi yang dikirim hingga 4 kali (meskipun mungkin yang membalas bukan Tacchi sendiri).

(Potongan koran dengan gambar inilah yang kupungut di pasar)

Kangen sama sang co-captain. Kangen sama sang jenderal lapangan tengah. Kangen sama si pemilik tendangan super power. Kangen sama si ‘binal’ yang setia kawan. Kangen sama sang facia d’angelo. Kangen sama si family oriented. Kangen sama si penggemar pizza mozarella. Kangen sama kamu, Alessio. Alessio mi manchi troppo.

(Poster Tacchi pertamaku)