Aku bukan orang yang telaten. Aku juga bukan orang yang well organized. Sebaliknya, aku sering pelupa dan serampangan (karenanya aku sering merasa butuh asisten he he). Sangat tidak cocok menjadi perawat. Lalu apa jadinya jika aku menjadi perawat?

Waktu adikku sakit awal Maret lalu, aku jadi perawat dadakan. Niatnya ke Jakarta karena mau datang ke Islamic Book Fair dan wawancara dengan narasumber tulisanku, tapi gara-gara adikku yang tergolek lemah tak berdaya, niat itu kubatalkan. Adikku lebih penting dari tulisanku.

Aku kocar-kacir beli apapun yang adikku inginkan. Misalnya saja biji buah selasih (untuk menurunkan panas). Waktu itu aku sampai muter-muter di Blok M sampai pusing nguing-nguing dan sama sekali tidak menemukan biji-bijian itu. Tapi akhirnya kutemukan juga di Atrium Senen, alhamdulillah. Belum lagi waktu adikku mau makan bubur sum-sum, aku nggak tahu harus beli di mana. Soalnya di toko-toko kue habis atau nggak ada, maklum udah terlalu sore.

Setiap kali mau makan, kusuapi dia. He he rada nggak berperasaan juga aku ini, soalnya aku suapin dia banyak-banyak. Adikku selalu protes dengan sendok makan yang sangat penuh dengan nasi itu. Menurutku, mumpung dia mau makan, maka harus dimasukkin makanan sebanyak-banyaknya.

Capek ya jadi perawat itu. Harus rela dibangunkan tengah malam untuk mengambilkan minum, mengganti kompres, mengipasi kalau kepanasan (kipas angin sengaja dimatikan), juga mengurus baju-baju kotor (mengantar ke laundry sih). Waktu adikku sudah agak sembuh, aku angkat-angkat kasur buat dijemur, mengepel dan merapikan kamarnya sampai bajuku basah semua sama keringat. Ini perawat apa pekerja rumah tangga sih😦

Waktu mbakku sakit campak, aku pun terpanggil untuk jadi perawat lagi. Ini lebih capek lagi. Karena aku harus mencuci dan menyeterika baju sendiri (mana mbakku sering banget ganti baju karena keringatnya banyak banget). Belum lagi ke pasar dan memasak (walaupun masakannya nggak jelas he he). Alhasil selama 10 hari aku nggak bisa melanjutkan tulisanku karena nggak bisa konsentrasi.

Adik dan mbakku agak susah minum obat. Untuk adikku, aku harus memotong-motong pil yang harus diminumnya menjadi kecil-kecil. Sedangkan buat mbakku, terkadang aku harus menggerus pil-pilnya. Aku jadi senang sama diriku sendiri, soalnya aku pinter minum obat, nggak perlu dipotek kecil-kecil atau digerus.

Gara-gara jadi perawat buat mbakku, aku jadi bisa naik sepeda motor model-model Honda Beat itu. Biasanya kan aku naik motor yang pakai gigi. Rada-rada kagok sih awalnya, tapi habis itu lancar. Ternyata gampang ya, kayak naik sepeda. Sepeda motor kopling saja yang belum bisa kutaklukan.

Hmm lumayan juga perawat Titta ini. Biarpun serampangan, tapi yang dirawat sembuh loh he he (padahal kan karena mereka minum obat dokter). Jadi ingat sama Candy (manga Candy Candy) nih, dia kan perawat yang serampangan.