Tags

Di kampus ada pusat bahasa yang menyelenggarakan beberapa kursus bahasa asing. Ada kelas bahasa Inggris, Jerman, Perancis, juga Italia. Sedari awal aku tercatat sebagai mahasiswi di kampus berlambang Ganesha ini, aku sudah berniat akan ikut les Italia. Selain tentornya adalah penutur asli Italia, biaya lesnya juga murah, hanya Rp 100.000.

Awal-awal les, aku agak paling pinter he he. Maklum, aku kan sebelumnya juga pernah ikut les serupa di Jakarta. Tentorku itu namanya Maurizio. Dia adalah pria Italia yang ber-hometown di Sardinia. Dia itu lucu deh, mukanya suka cemong-cemong kena spidol.

Suatu kali, cemongan spidol pernah membentuk kumis di bawah hidungnya. “Ta, ada Hitler,” bisik temanku sambil cekikikan.

“He he Hitler apa Jojon tuh,” kataku sambil cekikikan juga.

Pokoknya kalau kelas Italia, aku dan teman-temanku suka cekikikan sendiri. Mungkin Maurizio bingung, kami ini gila atau apa. Abisnya sih, dia lucu.

“Ada yang mau tania?” tanya Maurizio.

“Pin, tuh lo mau Tania enggak? Cewek cantik kali tuh,” bisikku ke temanku.

Padahal maksud Maurizio, bukan tania nama orang, tapi tanya; bertanya. Maurizio juga sulit membedakan menyanyi dan menangis. Kadang dia melafalkan menangis dengan menyanyis. Hi hi hi.

Di saat lain kita belajar memasak makanan Italia. “Goreng kentangnya sampai berwarna emas,” ucap Maurizio yang membuatku terpingkal-pingkal. Ha ha maksudnya coklat kali, bukan emas. Masak kentang warnanya bisa jadi emas.

Dia hafal benar aku tuh seorang Juventini sejati yang menyukai Alessio Tacchinardi. Dia kerap menanyakan kabar Juve dalam bahasa Italia. Kalau dilihat-lihat si Maurizio ini kok mirip Del Piero ya, padahal Maurizio itu botak sedangkan Alex kriwil. Kata temanku, mataku makin hari makin nggak beres ha ha ha.

Maurizio ini perhatian banget deh. Kalau di kelas aku nggak pakai kacamata, dia pasti nanya di mana kaca mataku. Soalnya aku rada kesulitan baca tulisan di papan tulis. Kalau dia tahu kacamataku ketinggalan dia langsung meng-zoom tulisannya jadi segede gajah.

Suatu kali pernah tuh aku dan teman teman dekatku ketawa mulu. Maurizio penasaran, dan bertanyalah dia pada kami, apa yang kami tertawakan. Temanku tanpa ba bi bu malah cuci tangan dan melemparkan tuh masalah di tanganku seorang diri.

“Itu si Titta, signore,” ujar temanku.

“Hih, apaan sih lo Pin, kan kita ketawa bareng-bareng,” bisikku. Payah emang kalau jadi orang yang saraf ketawanya gampang terusik. Ada yang lucu dikit langsung ketawa nggak berhenti-berhenti.

“Come?”

“Mmm itu kata-kata kerja dari partire kayak nama orang Indonesia. Orang Indonesia kan namanya ada yang parto, parti, partono,” ucapku yang disambut cekakakan peserta les yang lain.

Partire artinya to come. Setiap subjek punya kata kerja masing-masing. Misalnya saja subjek Io (saya) dipasangkan dengan kata kerja parto. Tu (kamu) berpasangan dengan parti. Loro (kalian) berpasangan dengan partono. Agak ribet memang bahasa Italia itu, selain tiap subjek beda-beda kata kerjanya, dikenal juga kalimat kala lampau jauh, kala lampau kini, juga futuro. Dulu lumayan agak pinter, sekarang udah rada lupa karena jarang dipakai.

Yang gampang, apa yang ditulis ya itu yang dibaca (berlaku untuk huruf vokal). Misalnya saja come (apa) dibaca kome. Untuk para penutur asli bahasa Inggris agak susah, mereka pasti akan membaca come dengan kam.

Di kampus, aku cuma belajar bahasa Italia sampai level b2, soalnya nggak dibuka lagi kelas lanjutannya. Padahal pengen banget belajar Italiano lagi. Tahun lalu sebenarnya apply beasiswa buat belajar Italiano di Siena untuk tahun ini, tapi kok nggak ada tanda-tanda aku bakal dihubungi pihak Istituto Italiano di Cultura ya. Padahal udah jungkir balik ngurus syarat-syaratnya, sedih dehūüė¶