Tags

,

(Gambar: http://www.detikbandung.com)

Di atas Parahyangan, sebuah kisah yang telah berakhir pernah bermula. Di atas Parahyangan ratusan topik pembicaraan mengalir. Di atas Parahyangan kontemplasi dan evaluasi kerap terjadi. Di atas Parahyangan tersimpan banyak kenangan.

Parahyangan. Itulah kereta api jurusan Bandung-Jakarta PP yang begitu akrab denganku hampir dua tahun terakhir ini. KA inilah yang sering kali menjadi pilihanku untuk PP Jakarta-Bandung. Rp 25.000-Rp 30.000 untuk sekali perjalanan kelas bisnis rasanya pas benar untuk kantong mahasiswi seperti aku. Karena relatif murah, saat awal-awal tinggal di Bandung aku sering pergi ke Jakarta. Seminggu sekali pasti aku ke Jakarta. Ya, saat itu aku memang belum betah tinggal di Bandung.

Saat weekend, biasanya KA Parahyangan bakal penuh. Aku kerap beli tiket berdiri karena tiket duduknya sudah terjual habis. Kalau sudah begitu, terpaksa ngampar, berdiri di dekat WC, nyempil duduk bertiga dengan penumpang lain, atau kalau beruntung menemukan kursi kosong.

Pada 27 April nanti, KA Parahyangan akan purna tugas.  Kerugian Rp36 miliar per tahun akibat okupansinya yang tinggal 50 persen yang menjadi alasan penghentian operasi kereta yang mulai dijalankan pada 31 Juli 1971 ini. Kereta yang memberikan layanan kelas bisnis dan eksekutif ini pernah menjadi primadona transportasi untuk melakukan perjalanan Jakarta-Bandung dan sebaliknya. Perjalanan sejauh 173 km ditempuh dengan waktu rata-rata 3 jam. Perjalanan dilakukan dengan menelusuri alam pegunungan Priangan Bagian Barat.

(Pemandangan dari kaca jendela KA Parahyangan Jakarta-Bandung)

Nantinya, kereta eksekutif Argo Gede akan ditambahi gerbong kelas bisnis untuk mengakomodasi penumpang yang terbiasa menggunakan layanan bisnis Parahyangan. Jadi rangkaian KA Argo Gede akan terdiri dari satu lokomotif, empat kereta eksekutif, dua kereta bisnis dan satu kereta makan. Sedangkan KA Parahyangan dialihkan ke jalur Bandung – Malang PP dengan nama baru KA Malabar, yang diambil dari salah satu gunung di Jawa Barat yakni Gunung Malabar di kawasan Kabupaten Bandung Barat.

Purna tugas KA Parahyangan ditandai dengan kegiatan joy ride atau menumpang KA Parahyangan terakhir dari Jakarta ke Bandung yang akan dilakukan dari Stasiun Gambir Jakarta 26 April 2010 pukul 18.30 WIB. Sekadar diketahui, KA Parahyangan mencapai puncak kejayaanya pada 1990-an hingga sebelum 2004. Namun okupansi penumpangnya menurun drastis setelah Tol Cipularang dibuka.

Untuk menggenjot penumpang, sempat dilakukan penurunan tarif semua kereta Bandung-Jakarta. KA Argo Gede turun dari Rp 65.000 menjadi Rp 45.000 (sekarang Rp 55.000). Sedangkan tiket KA Parahyangan kelas eksekutif turun dari Rp 50.000 menjadi Rp 35.000 (sekarang Rp 45.000), kelas bisnis dewasa dari Rp 30.000 menjadi Rp 20.000 (berubah Rp 25.000 saat weekdays dan Rp 30.000 saat weekend, namun kemudian harganya disamakan menjadi Rp 30.000). Dulu bagi penumpang KA Parahyangan bisnis akan mendapat fasilitas permen dan tissue basah yang kemudian diganti air mineral dalam kemasan gelas plastik, lalu layanan ini dihapuskan.

Minat masyarakat menggunakan kereta rute ini semakin menurun lantaran banyak orang yang memilih melewati Tol Purbaleunyi. Artinya jalan raya akan semakin padat oleh kendaraan pribadi, atau oleh mobil-mobil perusahaan travel yang armadanya ditambah.

Minggu 12 April 2010 pukul 06.30 WIB adalah saat terakhirku naik KA Parahyangan. Hmm, rasanya ada sesuatu yang hilang. Dengan adanya KA Parahyangan dan KA Argo Gede, para penumpang jadi punya banyak pilihan waktu untuk melakukan perjalanan Jakarta Bandung dan sebaliknya. Tapi nanti setelah 27 April 2010?

Selamat tinggal KA Parahyangan, sang legenda di dunia perkeretaapian Indonesia.  Dan… juga legenda bagiku.