Ada Apa dengan Cinta (AADC) adalah film di awal 2000-an yang menandai kebangkitan dunia perfilm-an Tanah Air. Film ini mengangkat cerita cinta anak SMA yang dimeriahkan kehadiran beberapa puisi. Tokoh utama film ini adalah Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastro). Waktu menonton film ini untuk pertama kalinya, masih rada-rada abege. Karena suka sama tokoh Cinta, sering kali terpengaruh gaya bicara dia (sepertinya nggak hanya saya saja sih ;p).

Cinta dan teman-temannya sering kali memakai kata-kata ‘tau nggak’ di akhir kalimatnya. Misalnya saja: “Gila, nyebelin banget, tau nggak loe?” Saya dan teman-teman pun kerap ber-‘tau nggak’ dan berkata ‘Ini nggak fair, ini nggak fair’ juga berkata ‘basi!’. Atau mengadopsi kalimat Cinta yang ini: “Bila emosi mengalahkan logika, bener kan banyakan ruginya.”

Saya yang suka puisi pun makin tertarik sama film ini lantaran menghadirkan beberapa puisi yang bagus-bagus. Ini dia
puisi-puisi dalam film tersebut.

Aku Ingin Bersama Selamanya

Ketika tunas ini tumbuh, serupa tubuh yang mengakar
Setiap napas yang terhembus adalah kata
Angan, debur dan emosi bersatu dalam jubah terpautan
Tangan kita terikat, lidah kita menyatu
Maka setiap apa terucap adalah sabda pendita ratu
Ah, di luar itu pasir, di luar itu debu
Hanya angin meniup saja, lalu hilang terbang tak ada
Tapi kita tetap menari, menari cuma kita yang tahu
Jiwa ini tandu, maka duduk saja
Maka akan kita bawa semua
Karena kita adalah satu


Tentang Seseorang

Kulari ke hutan kemudian menyanyiku
Kulari ke pantai kemudian teriakku
Sepi, sepi dan sendiri aku benci
Aku ingin bingar, aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika kusendiri
Pecahkan saja gelasnya biar ramai
Biar mengaduh sampai gaduh
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang
Di tembok keraton putih
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya biar terdera
Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?

Ada Apa dengan Cinta?
Oleh: Rako Prijanto

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
Yang berdinding kelam dan kedingainan
Ada apa dengannya? Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku melihat karya surga dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta?
Tapi aku pasti kembali dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya, bukan untuk siapa
Tapi untukku karena aku ingin kamu
Itu saja…

Berikut beberapa dialog favorit dalam film yang disutradarai Rudi Sudjarwo itu.

1. Setting : di sekolah.
Deskripsi suasana : Rangga mengucapkan terima kasih kepada Cinta yang telah menemukan dan mengembalikan bukunya.
Rangga : Cinta.
Cinta     : Manggil? Kenapa? Mau ngajak berantem lagi?
Rangga : Ah, nggak. Saya mau ngucapin terima kasih sama kamu. Sempet kebingungan juga nyarinya. Buku langka soalnya.
Cinta     : Lalu?
Rangga : Lalu, kok senyum?
Cinta     : Lalu apa?
Rangga : Ya udah, gitu aja. Makasih ya.
Cinta     : Hei, kamu itu kalo lagi kebingungan tu lebih nyenengin ya? Kamu bingung aja terus.
Rangga : Kamu?
Cinta      : Ha?
Rangga  : Ya kamu. Biasanya ngomongnya loe-gue?

2. Deskripsi suasana: pertengkaran Cinta dan Rangga.
Rangga : Cinta! Kamu nggak pa-pa? kenapa sih?
Cinta     : Rangga, kayaknya kita nggak usah ketemu-ketemu lagi.
Rangga : Maksud kamu?
Cinta     : Pokoknya berhenti deketin saya lagi!
Rangga : Ndeketin kamu? Kayaknya ada yang gak jelas deh.
Cinta     : Sejak gue ketemu loe, gue berubah jadi orang yang beda. Orang yang nggak bener.
Rangga : Inget ya Ta, salah satu diantara kita, itu siapa yang lebih punya hati atau nggak punya otak? Tapi kamu nggak punya kedua-duanya deh. Asal kamu tau Ta, kalau diperlakukan kayak gini sih, saya sudah biasa. Tapi satu, nggak usah ada maaf-maafan lagi. Saya setuju kita nggak usah berhubungan lagi.

3. Setting : di bandara saat Rangga dan ayahnya akan pergi ke Amerika
Deskripsi Suasana : Rangga ragu tentang sikapnya yang pergi tanpa pamit kepada Cinta.
Bapak Rangga : Yakin, kamu nggak mau nelpon Cinta?
Rangga              : Nggak.
Bapak Rangga : Sekedar say goodbye?
Rangga              : Dia dah say goodbye duluan.
Bapak Rangga : Uh payah. Gitu aja nyerah.

4. Masih di Bandara, menjelang ending cerita.
Cinta     : (berlari) Rangga!
Rangga : Cinta?
Cinta      : Rangga, waktu terakhir saya ketemu sama kamu. Saya nggak marah sama kamu. Saya marah sama diri saya sendiri. Rangga, maafin saya. Saya nggak mau kamu ninggalin saya.
Rangga : Maksud kamu?
Cinta      : Saya sayang banget sama kamu.
Rangga  : Saya juga sayang banget sama kamu, Ta. Sayang sekali.
Cinta      : Kamu nggak jadi pergi kan?
Rangga  : Saya harus pergi, Ta.
Cinta       : Semua ini nggak fair. Ini nggak fair.
Bapak Rangga : Rangga! (menunjuk jam tangan)
Rangga   : Sebentar, Yah. Baca halaman terakhir.

Transkripsi film diambil dari
http://lubisgrafura.wordpress.com/2007/06/21/transkripsi-naskah-film-“ada-apa-dengan-cinta”/