Tags

Sandal. Itulah topik percakapan kami sore itu. Bukan tentang membeli sandal baru, atau membincangkan model sandal yang ingin dibeli. Tapi tentang sandal sebagai analogi dari sesuatu.

“Lihat sandal ini, yang kanan tidak dibuat sama dengan yang kiri,” ujar temanku saat itu.

“Ya kan kaki kanan nggak sama ama yang kiri,” timpalku.

“Tapi kalaupun dibuat sama-sama kotak dengan panjang dan lebar yang sama, sandal itu masih bisa dipakai buat jalan.”

“Sengaja dibuat berbeda yang kanan dan yang kiri karena mengikuti bentuk kaki biar lebih nyaman dipakai buat berjalan,” imbuhku.

“Itu poinnya. Nyaman dipakai. Ukuran sandal juga harus pas benar di kaki, kalau kegedean nanti kayak naik kapal. Kalau kekecilan juga bikin kaki jadi sakit. Sandal yang nyaman buatku belum tentu nyaman buat kamu dan sebaliknya. Masing-masing orang punya perasaan dan kondisi yang berbeda-beda untuk merasa nyaman,” lanjut temanku.

“Mmm iya juga sih.”

“Coba sandal yang kanan dan yang kiri kita hadap-hadapkan. Seperti lagi bercermin kan? Sepertinya yang kanan mirip sama yang kiri, tapi sebenarnya mereka berbeda.”

“Jadi apa artinya?”

“Terkadang kita seperti bercermin kalau melihat pasangan hidup kita. Ada hal-hal dari dia yang sama dengan hal-hal dari kita. Mungkin kita punya kesukaan yang sama, hobi yang sama, pekerjaan yang sama, atau sudut pandang yang sama tentang sesuatu. Tapi dia dan kita jelas berbeda. Meskipun banyak kesamaan, tapi banyak juga perbedaan. Justru perbedaan itu yang akan saling melengkapi, yang membuat dia dan kita menjadi sempurna bersama-sama,” jelas temanku.

“Dia dan kita seperti sandal. Dibuat berbeda agar nyaman dipakai. Sepasang sandal yang bekerjasama untuk membantu kaki melangkah ke suatu tujuan,” ucap temanku lagi.