“Bawa barangnya nggak, Ta?” tanya temanku suatu kali.

“Bawa,” ujarku sambil membuka tas.

“Lihat dong.”

Kalau kupikir-pikir kok seperti dialog pengedar narkoba sama pembelinya ya. Dan memang terdengar begitu kalau didengar tanpa melihat aktivitas yang kami lakukan.

“Barangku masih sedikit Vit,” ujar temanku yang lain di saat yang lain.

“Malam ini mau ditambahin?”

“Iya, begadanglah biar besok bisa bawa produk yang bagusan. Punyaku masih 20, Vita berapa?”

“Total kira-kira 60-an tapi nanti pasti nambah lagi.”

Nah kalau yang ini terdengar seperti dialog pedagang atau produsen ya.

He he sebenernya itu barang apa? Yang jelas itu bukan barang haram. Barang yang dimaksud adalah tesis yang belum jadi. Aku dan teman-teman kerap menyebutnya barang atau produk. Padahal nggak apa-apa juga kalau kami langsung menyebutnya tesis atau tulisan sehingga nggak menimbulkan salah sangka. Tapi itulah kebiasaan kami.

Selain ‘barang’, begadang juga menjadi kata yang sering muncul dalam berbagai dialogku dan teman-teman. Entah kenapa, meski kami nggak tinggal serumah sering kali woro-woro kalau mau begadang.

“Aku sekarang mau begadang Vit.”

“Aku juga. Aku udah bikin kopi nih.”

“Oh iya kopi. Sama cemilan juga.”

“Iya. Kopiku pahit banget lho, biar awet meleknya. Ini juga udah siapin CD instrumen musik biar otakku seneng.”

“Ha ha ha, boleh juga tuh. Nanti kalau ngantuk atau mau tidur duluan SMS-an ya.”

He he he, saking kompaknya semua jadi dilaporin.