Tags

Kau duduk di sudut ruangan seperti malam-malam lalu
Tumpukan kertas menggenangi meja kayu mahoni hitam yang kita beli bertahun lalu
Pena berkuas mengangguk-angguk seiring anggukan kepalamu
Mengukir kata dengan cipratan tinta

Kau menulis apa, tanyaku
Kau mendongak menatap mataku dengan sorot kosong
Sama kosongnya dengan gelas kaca di depanmu
Lalu kau tersenyum
dengan senyuman paling kering
Sekering ranting pohon jambu kita yang meranggas
Puisi, katamu kemudian
lalu menulis lagi.

Kenapa di atas kertas hitam, tanyaku.
Kau mendongak sambil menarik nafas berat
Karena ini puisi hitam, jawabmu.
Sehitam asaku padamu yang perlahan mati
Sehitam cintaku padamu yang hampir busuk
Sehitam malam-malam panjang penantianku
akan dirimu yang tak pernah berakhir pelangi
Sehitam waktuku yang lelah membuatmu mengerti
segala hal tidak selalu sama seperti pikirmu.

Aku tidak mengerti, ucapku.
Kau menatapku nanar dengan bola matamu yang entah sejak kapan menjadi kelabu
Karena kau tidak pernah berusaha untuk mengerti, katamu sinis
Karena kau menjadi rumit dan tinggi hati
untuk sekadar menaburkan kata dalam nafasku.

Puisi hitam ini tentang aku, tanyaku
Ya, desismu
Kau menjadi demikian hitam dalam hidupku
Hingga segalanya muram dan tak terbaca.

Maafkan aku, kataku penuh sesal.
Kau menggeleng
Terlambat, puisi ini hampir usai
Kau lantas menyeringai
hingga tampak gigi-gigi hitammu

Lalu kau baca baris kata puisi hitammu
tentangku dengan suara parau.

(Seperti pernah kutulis di Padang Ilalang-ku)