Tags

(Gambar: wikipedia)

1 Mei beberapa tahun lalu, aku berada di antara barisan para pekerja yang bergerak menuju Istana Negara dari Bundara Hotel Indonesia. Para pekerja tersebut hendak memperingati May Day alias Hari Buruh Internasional.

Saat itu sebenarnya aku bukan mau ambil bagian dalam pawai tersebut. Memang sih aku termasuk kelompok buruh, tapi waktu itu aku harus ikut sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Nggak disangka aku ketemu teman SMA-ku. Kami sama-sama kaget.

“Ta, ikut demo juga?” tanya dia.

“Enggak. Aku mau ke pengadilan. Kamu sekarang di mana?”

“Di Bekasi.”

“Tukeran no hape dong.”

“Mmm aku nggak ada, Ta.”

“Yaah. Mmm ini kartu nama aku. Kontak-kontak ya,” ujarku sambil mengulurkan kartu.

“Iya. Eh Ta, kamu kerja di sini?” tanyanya sambil memperhatikan kartu nama itu.

“Iya. Masih belajar sih.”

Terus kami berpisah deh. Temanku itu kayaknya enggan cerita banyak sama aku. Padahal dulu kami lumayan dekat. Dia itu pinter fisika, so aku yang lemot fisika ini sering diajarin sama dia. Kami selalu kasih kado kalau ulang tahun. Kami pernah lah gokil-gokilan bareng waktu SMA. Tapi sekarang dia kok beda ya. Kenapa sih ya. Karena profesi aku? Lah kan profesiku halal. Apa dia pernah sakit hati sama orang yang profesinya sama kayak aku ya. Ah nggak tahulah….

Dulu pernah waktu May Day pas lagi di Trans Jakarta. Saat itu aku pas berangkat kerja, jadi masih agak pagi. Karena jalan Medan Merdeka Barat sudah macet oleh pendemo, Trans Jakarta mengambil jalan alternatif lewat Tanah Abang. Pas aku pulang, para demonstran juga baru bubar, jadi waktu itu Trans Jakarta koridor I dan II juga dialihkan sementara jalurnya.

Sedikit tentang May Day, dari wikipedia, 1 Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions karena terinspirasi kesuksesan aksi buruh pada 1872 yang menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat. Tuntutan buruh ini merupakan imbas dari pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik.

Peristiwa berdarah mewarnai perjuangan para buruh untuk mendapatkan hak-haknya. Pada 4 Mei 1886 para demonstran melakukan pawai besar-besaran setelah berpawai sejak 1 Mei.  Polisi Amerika kemudian menembaki para demonstran tersebut sehingga ratusan orang tewas dan para pemimpinnya ditangkap kemudian dihukum mati, para buruh yang meninggal dikenal sebagai martir. Sebelum peristiwa itu, di berbagai negara juga terjadi pemogokan-pemogokan buruh untuk menuntut perlakukan yang lebih adil dari para pemilik modal. Di beberapa negara 1 Mei merupakan hari libur tahunan.

Pada 1920, Indonesia mulai turut memperingati Hari Buruh tanggal 1 Mei. Tapi sejak masa pemerintahan Orde Baru hari Buruh tidak lagi diperingati di Indonesia. Sejak itu, 1 Mei bukan lagi hari libur untuk memperingati peranan buruh dalam masyarakat dan ekonomi. Ini disebabkan karena gerakan buruh dihubungkan dengan gerakan dan paham komunis yang sejak kejadian G30S pada 1965 ditabukan di Indonesia. Semasa Soeharto berkuasa, aksi untuk peringatan May Day masuk kategori aktivitas subversif.

Setelah era Orde Baru berakhir, walaupun bukan hari libur, setiap tanggal 1 Mei kembali marak dirayakan oleh buruh di Indonesia dengan demonstrasi di berbagai kota.