Tags

Beberapa orang suka pada ramalan. Tidak heran ada yang mempelajari cara untuk meramal dan ada yang gemar mendatangi peramal. Buku-buku tentang ramalan pun banyak beredar di toko-toko buku, apalagi bila tahun baru menjelang.

Minggu pagi, aku jalan-jalan ke Gasibu. Niatnya sih merefresh otak dan mata. Walaupun ternyata berjalan-jalan di Gasibu tidak cukup ampuh buat merefresh diriku. Soalnya tempat ini sangat ramai, jadi ya harus berdesak-desakkan, panas-panasan, pegel-pegelan. Nggak apa-apalah, yang penting beranjak dari depan laptop sejenak.

Nah, saat lagi jalan tiba-tiba ada orang yang mau meraih tanganku. “Cobi bapak tingal panangan-na, Neng,” ujar pria paruh baya yang merumput (maksudnya duduk di atas rumput he he) itu.Kalau nggak salah dia bilangnya begitu, intinya dia mau lihat tanganku.

“Naon? Ramal ya? Punten Pak, enggak,” tolakku sambil berlalu.

Bapak peramal itu terlihat agak kecewa. Kasihan sih, tapi membiarkan diriku diramal olehnya bukanlah cara mengasihani yang bijaksana, setidaknya itu menurutku. Jujur, dalam hati sih pengen juga diramal. Bukan buat apa-apa, iseng saja. Tapi ramal-ramalan nasib kan dekat sama musyrik, jadi aku takut.

Aku dulu pernah diramal orang, dan aku sama sekali nggak mempercayainya. Kupikir orang-orang yang meramalku itu sok tahu saja he he.

“Kamu ada masalah sama pencernaan. Rejeki biasa-biasa aja, tapi nanti setelah menikah jadi kaya soalnya suamimu kaya. Kayaknya kamu jadi istri kedua, bisa jadi istri muda atau suamimu nanti cerai dulu sebelum menikah sama kamu. Karir… agak lama naiknya alias biasa-biasa saja,” ramal temanku beberapa tahun lalu.

Soal pencernaan, emang bener. Kupikir wajar dia tahu, kan aku beberapa kali nggak masuk kerja gara-gara magh-ku kumat. Istri kedua? Hanya gara-gara harta aku jadi istri kedua nih ceritanya? Ya ampun sinetron banget sih (biarpun di kehidupan nyata terjadi juga), naudzubillah. Karir biasa ya… Hmm yang jelas nggak lama setelah diramal aku punya posisi baru yang lebih tinggi, meskipun posisi itu cuma ada di atas kertas, tapi kan artinya ada peningkatan pendapatan juga he he.  Ahh peramal gadungan nih he he.

Di saat yang lain, beberapa tahun sebelumnya…. “Semua yang kamu mau pasti kamu dapatkan ya?” tanya seseorang sambil mengamati telapak tanganku.

“Maksudnya?”

“Ini soal achievement sih. Misale kamu pengen menang lomba x, eh kamu juara.”

“Alhamdulillah sih ada yang begitu. Tapi nggak nggak semua kok. Hebat banget aku kalau semua yang aku mau pasti aku dapat. Emang tanganku ada tulisannya begitu?”

“Ini garis yang di tengah telapak tangan kamu tinggi banget sampai jari tengah (garis yang dia maksud adalah fate line). Nanti, kalaupun kamu nggak jadi presiden, minimal jadi pembantu presiden deh.”

Hmm seneng sih dengernya, tapi nggak serta merta percaya juga. Bukannya hidup ini banyak rahasianya ya? Kok dia hebat banget bisa mengungkap rahasia di hidupku. Eh apa katanya pembantu presiden? Menteri maksudnya? He he diamini aja deh, anggap saja yang dia bilang itu doa (walaupun gak berminat juga jadi menteri). Dan setelah beberapa tahun berlalu, aku beberapa kali keluar masuk kantor menteri (walaupun bukan sebagai menteri he he).

Beberapa waktu lalu saat di Ho Chi Minh City ketemu sama orang Kanada. Kami ngobrol sambil menunggu bus untuk tour datang. Waktu mau berpisah, dia bilang: “You have bright eyes. I’m not a fortune teller, but I see that you will have very bright future.” Ho ho diamini saja.

Untukku, cukup di masa lalu saja mengulurkan telapak tangan untuk diramal. Sudah taubat. Sebab Islam tidak suka dengan ramal-ramalan nasib, yang berarti Allah juga tidak akan suka. Bagaimanapun, yang mengetahui segala sesuatu di muka bumi ini, dan yang mengetahui tentang sesuatu yang ghaib hanyalah Allah.

“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakang-nya.” (Al-Jin: 26-27).

Dia berfirman, “Katakanlah, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.”(An-Naml: 65).

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (Al-An’am: 59).

An-Nasa’i meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa membuat suatu buhul kemudian meniupkan padanya, maka ia telah melakukan sihir; dan barangsiapa yang melakukan sihir, maka ia telah musyrik. Barangsiapa menggantungkan sesuatu, maka dipasrahkan kepadanya.”

Berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ahlus Sunan dari hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, “Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa yang ditu-runkan kepada Muhammad.”

Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari sebagian istri Nabi Shalallaahu alaihi wasalam beliau bersabda, “Barangsiapa mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 malam.”

Esensi tulisan dari: http://www.voa-islam.com