Tags

,

(Gambar: http://www.discoveronalaska.com)

Saya adalah seorang backpacker pemula. Beberapa buku tentang jalan-jalan ke luar negeri dengan biaya minimal dan cerita-cerita dari beberapa teman menginspirasi saya untuk menjadi backpacker. Pengalaman pertama (dan semoga bukan yang terakhir) adalah awal Februari lalu ketika saya melancong ke salah satu negara Indochina.

Kenapa harus ke luar negeri? Sebenarnya tidak harus ke luar negeri. Saya pun ingin menjelajah Nusantara. Maklum, dari banyaknya gugus pulau di Indonesia, saya hanya pernah menapak di 3 pulau: Jawa (tentunya, karena saya tinggal di sini), Bali, dan Sumatera, ha ha seperti trayek bus AKAP ya. Indonesia dengan segala eksotikanya tentu tidak akan kalah dengan negara lainnya. Jadi, perjalanan wisata domestik tetap menjadi target.

Pergi ke tempat baru (whatever, domestik atau luar negeri) tentu akan memberikan banyak sekali pengalaman. Melihat dunia dari sudut-sudut yang berbeda, mengagumi ciptaan-Nya dari berbagai penjuru, akan menjadi mata pelajaran berharga dalam school of life yang sedang dan akan terus dijalani.

Ketika pergi ke luar negeri, justru itu akan jadi kesempatan untuk menjadi duta pariwisata. Sebab ketika bertemu dengan warga dunia dari belahan yang berbeda-beda, kita bisa mengenalkan Indonesia. Indonesia mungkin berada di daftar atas negara terkorup, masih sering bergaul dengan kekerasan dan anarkhisme, dan memiliki sejumlah besar pe-er lainnya. Tapi toh tidak semuanya buruk. Ada hal-hal yang masih bisa dibanggakan, setidaknya pariwisatanya.

Ketika berada di salah satu negara Indochina itu,  saya bertemu dengan berbagai warga negara asing. Alhamdulillah mereka excited ketika tahu saya dari Indonesia. Ada orang Italia yang dengan bangga bercerita pernah ke Solo dan Jogja beberapa tahun lalu. Ada orang Australia yang segera mempraktekkan Bahasa Indonesia-nya. Ada orang Sri Lanka yang akrab dengan Jakarta dan lumayan fasih berbicara dengan Bahasa Melayu yang bahkan berjanji membantu mengurus visa dan akomodasi bila saya datang ke negaranya. Ada orang Amerika yang segera meminta foto bersama dan menanyakan banyak hal ketika tahu saya dari Indonesia.

Kepada mereka, saya (dan adik saya) mengatakan ada banyak tempat yang menarik: gunung, pantai, taman, hutan, kebun binatang, sungai, danau, museum, kota tua, dan sebagainya (meskipun masih sangat sedikit yang saya datangi, tapi sok tau gitu he he). Adik saya memperlihatkan foto-foto waktu dia ke Makassar dan beberapa daerah lainnya di Tanah Air. Bule-bule itu terkesima saat melihat foto-foto tersebut (nggak jelas sih terkesima lihat foto adik saya apa setting foto itu he he) sampai melompong gitu.

“It’s beautiful,” ucapnya berkali-kali dan kemudian berencana memasukkan Indonesia dalam daftar perjalanan berikutnya.

Mendadak saya melihat mereka seperti melihat dollar ha ha ha. Nggak tahu juga apa mereka akan betul-betul datang ke Indonesia, atau cuma ocehan saja. Yang jelas, ekspresi mereka saat melihat foto-foto itu benar-benar mupeng mau ke Indonesia.

Devisa bukan hanya dari tenaga kerja yang banting tulang di negeri tetangga. Devisa bukan hanya dari utang ke negara lain atau organisasi keuangan internasional. Mereka, orang-orang asing, bisa jadi sumur devisa buat kita. Catatannya, kita serius menggarap potensi pariwisata yang dimiliki plus promosi efektif ke warga internasional. Jangan lupa, masalah keamanan. Inilah yang kerap menjadi batu sandungan dunia pariwisata di manapun.

Saya jadi ingat percakapan dengan teman yang ketemu di pesawat dari negara Indochina itu ke Indonesia. Mungkin sekadar khayalan, tapi saya rasa itu masuk akal.

“Pulau Seribu, Kota Tua, dan lainnya kan bisa digarap tuh ya buat paket tour sehari. Misalnya paket A tuh ke Pulau Seribu, Kota Tua, Monas. Terus Paket B misalnya Museum Nasional, Ragunan, Puncak. Kan seru tuh dibikin paket-paket perjalanan kayak gitu, jadi memudahkan turis-turis yang mau jalan-jalan kayak negara yang kita kunjungi tadi.”