“Ini anak nggak kelihatan lagi tugas akhir ya,” ujar teman sekelas yang lama nggak ketemu.

“Ya ngapain harus kelihatan lagi nulis,” jawabku.

“Enggak, kamu nih masih aja makan dengan enak kayak gitu. Kayak nggak ada beban aja.”

“Yee biarin aja. Ini tuh wujud syukur, menikmati makanan. Banyak lho orang yang susah mau makan.” Aku membela diri sendiri.

“Masih enak makan, ketawa-ketawa mulu, bener-bener deh nih anak.”

“Daripada aku diem aja, cemberut, nggak enak dilihat kan? Boro-boro kalian, semut aja yang matanya kecil juga males kali ngeliriknya.”

He he, tampaknya begitu ya? Masih enak makan? Padahal rasa-rasanya belakangan ini semua makanan rasanya sama. Kayak udah mati rasa, gitu.

Beberapa hari kemudian, di kampus ketemu sama beberapa teman yang sudah lulus. Wuih teman-temanku itu tampak lebih berisi.

“Vita makin kurus ya. Nggak pernah makan ya?” tanya temanku sambil menatapku prihatin karena berat badan dia sudah naik beberapa kg setelah lulus.

“Kelihatan ya? Cuma turun 3 kilo kok. Padahal makan mulu lho. Tengah malam aja makan nasi. Apa aku cacingan ya? Eh tapi kayaknya karena stress aja.”

“Stress? Bisa stress juga? Wong dari tadi cerah begitu, senyum-senyum mulu.”

“Ngitung nggak frekuensi ama durasi senyumku? Ini udah berlebihan lho sebenarnya. Lagian emang aku wonder woman apa, nggak bisa stress.”

“Lho katanya Sailor Moon.”

“Oh iya ya.”

Baguslah kalau nggak tampak under pressure dan masih terlihat secerah langit biru siang itu. Padahal biasanya muka ini gampang banget terbaca kalau lagi menyimpan dan merasakan sesuatu. Ekspresikan dengan senyum itu kayaknya bagus ya. Pas marah, mukanya senyum. Sedih, mukanya senyum. Seneng apalagi, senyum juga. Jadi kayaknya cuma punya 1 ekspresi: senyum! He he he. Asal nggak senyum-senyum sendiri aja, nanti orang-orang pada kabur.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi.
”Tabassumuka Fii Wajhi Akhiika Shodaqoh.”
Artinya, “Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah.”

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi, Al-Husein Radliyallahu’anhu, cucu Rasulullah SAW menuturkan keluhuran budi pekerti Rasulullah. Ia berkata, ”Aku bertanya kepada Ayahku tentang adab dan etika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau. Ayahku menuturkan, ‘Beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa tersenyum, berbudi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja mengharapkan pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas…..” (Riwayat At-Tirmidzi).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan Ad-Dailamy, Rasulullah SAW bersabda:
”Sesungguhnya pintu-pintu kebaikan itu banyak: tasbih, tahmid, takbir, tahlil (dzikir), amar ma’ruf nahyi munkar, menyingkirkan penghalang (duri, batu) dari jalan, menolong orang, sampai senyum kepada saudara pun adalah sedekah.”

Kutipan hadits dari: http://niahidayati.net