Waktu rasa-rasanya berjalan sangat pelan. Satu menit terasa seperti sewindu. Ya, satu menit yang berarti 60 detik itu rasanya begitu membosankan. Membuat perutku tiba-tiba penuh dan terasa mual.

Kebanyakan dalam hidupku, satu menit itu rasanya begitu cepat. Tapi belakangan ini semenit kok jadi kayak bertahun-tahun ya. Dan aku nggak punya pilihan lain selain tetap menjalani menit-menit itu, dengan tetap memaksa mataku melotot, tangan menulis, dan kuping ditajam-tajamkan.

Bagiku, semenit terasa sewindu ketika harus menganalisa video yang belasan jam itu. Menyesal rasanya memilih analisa video yang ternyata lebih susah dari yang dibayangkan. Gara-gara ingin yang nggak biasa, ingin yang lebih menantang, malah jadi kesusahan sendiri. Hiks….

Video belasan jam ini terbagi dalam 3 CD. CD pertama dan kedua sudah selesai sejak lama. Nah video ketiga ini yang reseh. Aku cuma bisa mengaksesnya sekitar 60 menit, padahal masih ada 5 jam 28 menit tayangan. Untung video baru yang kuperjuangkan dengan semangat 45 bisa diputar hingga selesai meski nggak lancar-lancar amat.

Dari pagi sampai pagi lagi nongkrongin video itu hingga mati gaya. Efek dari kegiatan itu adalah merasa dunia ini bergoyang-goyang. Akupun sampai SMS ke teman-teman untuk menanyakan ada gempa atau enggak.

Tapi setelah merasa muak belasan jam, ada hal yang kembali kupelajari: sabar. Dan aku jadi tersadar, ternyata dalam waktu semenit ada banyak hal yang dilakukan manusia. Dalam semenit ada puluhan bahkan ratusan kata tercipta. Dalam semenit, ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan. Semenit bisa menjadi sejarah dunia. Semenit bisa menjadi titik balik dari sesuatu. Semenit itu begitu berharga ya….