Tags

,


(Gambar: http://www.detikbandung.com)

Di sana kita bisa melintasi masa melalui barisan abjad penuh makna. Ditemani asap tipis yang mengepul dari wadah-wadah fragile. Dilengkapi sesuatu abstrak temuan militer Amerika. Di sana, buku dipadukan dengan kopi dan internet untuk memanjakan para raja dan ratu-nya.

Hu hu kalimat-kalimat pembuka yang rada lebay. Kali ini saya ingin menulis sebuah tempat yang sering saya sambangi selama saya menjadi bagian dari Kota Bandung. Yup, tempat itu adalah Reading Lights (RL). Suatu tempat yang menjual used books,  imported  magazine, sekaligus juga menyediakan berbagai minuman dan aneka sandwich. Tidak hanya itu, RL juga menyediakan tempat bagi yang ingin menyelenggarakan event semacam diskusi. Knitting, writing, dan paper-cut circle menjadi kegiatan reguler yang digelar di function room-nya RL.

Ada berbagai buku di sini, baik fiksi maupun non fiksi. Harganya pun cukup terjangkau, sebab harga yang dipasang mulai dari Rp 3000 hingga 100.000. Sebuah buku ensiklopedi dunia (memang sih sudah berusia 17 tahun-an) dijual dengan harga sekitar Rp 70.000. Novel-novel karya pengarang dunia seperti Sidney Sheldon juga menghuni rak-rak kayu RL dengan harga mulai Rp 10.000 hingga sekitar Rp 50.000. Meskipun buku dan majalah bekas, namun kondisinya masih cukup baik.

Di RL tidak harus membeli buku, para pengunjung bisa membaca buku-buku yang ada di ruang baca maupun di kursi-kursi yang ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa nyaman. Berbagai kopi, dari black coffee hingga yang dicampur-campur dengan coklat, susu, dan sebagainya ditawarkan di sana.

Bagi yang tidak suka kopi, ada juga berbagai macam teh dan minuman lainnya. Aneka sandwich dan kue panggang siap disajikan bagi pengunjung yang lapar. Internet adalah fasilitas lain yang ditawarkan RL melalui hot spot-nya. Suasana makin nyaman dengan lantunan jazz.

Jejakku

Entah sudah berapa kali saya dan syndikate (sebutan kelompok di kelas) ‘mengacak-acak RL. Kami sering datang paling awal dan pergi paling akhir gara-gara harus mengerjakan tugas kelompok. RL sengaja kami pilih karena ada internet-nya.

Ketika syndicate tak lagi memiliki eksistensi, saya pun masih menjejak RL. Sering kali menghabiskan waktu di sana bersama teman seperjuangan menulis tugas akhir. Kadang kami memang perlu suasana berbeda untuk menulis, tidak melulu kamar dan kampus. Memang sih di sini kami nggak mengetik terus sepanjang waktu duduk. Sesekali kami melihat-lihat dan membaca buku, mengobrol sambil menikmati makanan dan minuman, atau merokok (hanya teman saya).

( Gambar: http://www.dove-sisterhood.com)

Biasanya di tempat yang berlokasi di Jalan Siliwangi, Bandung, ini saya memesan teh ukuran reguler (teh yang dipakai adalah dilmah), black coffee atau capuchino (yang berkafein lah pokoknya) dan cheesy toast. Sepiring cheesy toast cukup bisa mengganjal perut kami berdua hingga selesai aktivitas menulis.

Terakhir kali ke RL beberapa hari lalu, saya memesan camomile tea tanpa kafein. Eh saya malah menguap melulu, jadinya tidak bisa konsen ke tulisan. Maklum, RL-nya sejuk jadi pengen bobok deh he he he.

–Midnight with In Too Deep (SUM 41) and Spirit Carries On (Dream Theater)–