Tags

, ,

(Gambar: http://cyberwoman.cbn.net.id)

Jalan tanah panjang itu menghubungkan Ciumbeuleuit dan Lembang. Di sepanjang jalan tersebut ada banyak orang yang menjajakan berbagai macam barang dagangannya. Itulah Punclut (kadang disebut juga Puncrut), salah satu titik di Kota Bandung (puncak Ciumbeuleuit Utara) yang masih asri. Dari Punclut, kecantikan panorama dataran tinggi Bandung terlihat jelas.

Punclut merupakan dataran tertinggi terdekat di Kota Bandung. Jaraknya 7 kilometer dari pusat Kota Bandung. Atau, 3 km dari kawasan belanja Cihampelas. Banyak kalangan urban Bandung yang menghabiskan Ahad paginya untuk berjalan-jalan di daerah ini sambil menghirup udara yang masih begitu segar.

Ketika baru beberapa hari menjadi bagian dari warga Bandung, ada teman yang mengajak ke Punclut. Saya langsung mengiyakan, karena kata teman saya, di Punclut kita bisa makan nasi ungu. Sejak bersiap-siap untuk migrasi dari Jakarta ke Bandung, saya memang penasaran berat sama nasi ungu.

(Ini pertama kalinya kami mencicipi nasi timbel ungu)

Di Punclut ada beberapa tempat makan yang menjual nasi timbel lengkap dengan berbagai variasi lauk (andalannya pepes, karenanya disediakan aneka jenis pepes seperti tahu, jamur, ayam, peda, dan teri). Nasi timbelnya ada yang berwarna ungu (masyarakat setempat menyebutnya nasi hideung (nasi hitam) dan nasi merah). Nasi ini rasanya lebih tawar daripada nasi putih yang biasa kita makan, karena kandungan glukosanya yang memang lebih sedikit.

(Gambar: http://cyberwoman.cbn.net.id)

Barang kelontong, sayuran,  pakaian, kacamata, meja, makanan kecil, DVD, marmut, ikan hias, tanaman hias, barang elektronik, dan berbagai kerajinan dijual di sepanjang jalan tanah Punclut setiap Ahad pagi. Daerah itu sangat berbeda jauh dengan kemodernan pusat Kota Bandung. Suasana alam pedesaan benar-benar terasa. Jalan di tempat tersebut agak menanjak, jadi cocok juga untuk sekalian berolahraga. Nah, nanti di Punclut atas, kita bisa melihat keindahan dataran tinggi Bandung yang begitu hijau.

Jika tidak kuat berjalan, Anda bisa naik kuda tunggang. Ya, di Bandung memang masih banyak kuda untuk dijadikan transportasi hiburan. Tidak hanya di Punclut, di sekitar Dago dan Ganeca, banyak dijumpai para ‘ksatria’ penunggang kuda putih, ups kudanya juga ada yang berwana coklat dan hitam juga deng.

Dari Punclut atas, bisa melihat dengan bebas pemandangan Kota Bandung dan pegunungan yang mengelilinginya. Menatap ke arah selatan, kita bisa melihat deretan pegunungan Malabar, Patuha, dan Waringin layaknya benteng yang mengurung Bandung. Jika beruntung, cuaca tengah cerah, plus mata Anda masih bagus, kita dapat menyaksikan landmark Kota Bandung macam Jembatan Layang Surapati dan Menara Kembar Masjid Raya Jabar di Alun-alun Kota. Semua itu dapat dinikmati tanpa pungutan biaya apapun alias gratis.

Di Punclut, ada beberapa spot yang strategis untuk melihat pemandangan. Antara lain, di tebing Tanjakan Punclut, tebing Pemancar RRI, dan ladang jagung di kanan jalan (300 meter setelah RRI). Di Punclut juga terdapat lokasi untuk menonton kebolehan crosser -crosser IMI Jabar yang berlatih di trek khusus seluas 1,5 hektar.

Pertama kali saya ke Punclut, tidak berjalan sampai atas, sehingga yang saya lihat hanyalah pengunjung yang menyemut dan ratusan pedagang. Pada kesempatan kedualah, saya baru bisa berjalan sampai atas dan melihat keindahan Bandung. Halimun atau kabut yang masih bergentayangan membuat suasana terasa romantis alias rokok makan gratis ha ha ha.

(Pemandangan dari tempat saya makan di Punclut atas)

Sebenarnya, saat itu saya dan teman saya tidak ingin berhenti di Punclut atas saja tapi melanjutkan perjalanan ke Lembang atau melewati Cipicung Hilir dan tembus ke Dago Pakar. Karena meninggalkan sepeda motor di bawah, keinginan itu terpaksa di-pending dan tidak (atau tepatnya belum, tapi sepertinya tidak akan) direalisasikan hingga sekarang. Teman saya saat itu mengajak naik kuda, tapi karena saya tidak ingin tampak seperti pendekar-pendekar (karena mungkin saja saya punya bakat ngebut bersama kuda yang tidak saya ketahui he he), saya pun menolak.

Tidak hanya pada pagi hari, pesona Punclut pun bisa dinikmati di waktu malam. Kala senja menjelang malam, pemandangan lampu-lampu Kota Bandung dapat dinikmati dari Punclut. Suasana dan pemandangan lampu-lampu kota dari ketinggian sangat indah dan romantis. Tidak heran bila setiap malam minggu, banyak pasangan muda-mudi yang datang dan menikmati pesonanya.

Oh ya, salah satu teman saya pernah melakukan pemotretan pre wedding di Punclut. Waktu itu tema mereka adalah pasangan petani di ladang. Rumput yang tinggi dan gubuk yang ada di salah satu spot Punclut sangat mendukung pemotretan tersebut. Dan hasilnya memang keren.

Tips Perjalanan Dari Majalah Travel Club

Untuk mencapai terminal Ciumbeuleuit, wisatawan dapat menggunakan kendaraan angkutan perkotaan. Diteruskan dengan berjalan kaki menanjak sekitar 30 menit. Demikian juga dari arah Lembang, Anda dapat menggunakan kendaraan umum arah terminal Lembang, dilanjutkan berjalan kaki menurun kira-kira 30 menit.

Punclut dapat dicapai dengan kendaraan pribadi. Bila melalui terminal Dago, ada bagian jalan sekitar 2 km yang masih belum teraspal. Demikian juga bila mengambil jalur dari Lembang. Tak perlu cemas, Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan menunggangi kuda sewa atau naik ojek sepeda motor.

Kalau mengambil jalan dari terminal Ciumbeuleuit, perjalanan dengan kendaraan pribadi dapat sampai Punclut dengan mulus. Hanya saja pada hari minggu, jalan ini penuh sesak dengan pengunjung yang berjalan kaki.

Sumber: http://kulinerkita.multiply.com/reviews/item/354

Majalah Travel Club