Tags

Beberapa hari lalu, seorang teman SD meng-invite aku untuk jadi temannya di facebook. Setelah aku konfirmasi permintaannya, dia mengirim pesan yang isinya pemberitahuan salah seorang teman SD kami meninggal karena kanker.

Teman kami itu namanya Lili. Dulu beberapa kali aku main ke rumahnya. Dia itu sosok yang suka ketawa berderai-derai. Meskipun dulu, dia ditinggal ibunya yang meninggal beberapa saat setelah melahirkan adik bungsunya, dia nggak kehilangan keceriannya. Buatku, tentu sangat berat menjadi seorang Lili. Dia yang masih SD harus membantu mengasuh bayi sepulang sekolah. Belum lagi dia harus mengurus adik-adiknya yang lain, beres-beres rumah, dan menyiapkan makanan untuk keluarganya. Maklum, Lili itu anak yang paling besar.

Kalau tidak salah, waktu itu kami masih kelas 3 atau 4 SD. Di umur segitu, pekerjaanku hanya bermain dan belajar. Bahkan, kadang makan saja masih disuapi, mandi masih dimandiin, dan pakai sepatu masih dibantu. Begitu bangun tidur, aku nggak punya keharusan beres-beres rumah atau membantu ibuku memasak. Sedangkan Lili? Dia hebat banget. Dia harus menjadi lebih dewasa dari umurnya.

Aku masih ingat, dia memanggilku ‘Dek.’ Dulu, aku memang paling muda di kelas, jadi ada beberapa orang yang memanggilku adek, termasuk Lili. Padahal aku nggak memanggil dia dengan sebutan ‘Mbak’. Dulu, lucu juga melihat Lili yang selalu dikuntit anak kecil yang baru belajar berjalan. Lili sepertinya sayang sekali sama adik kecilnya itu. Dia sering mengangkat-angkat adiknya ke atas hingga adiknya tertawa kesenangan.

Waktu itu rasanya iri sama Lili. Meskipun aku juga punya adik, tapi aku tidak bisa melakukan seperti yang Lili lakukan. Adikku hampir seumuran sama aku, meskipun dia sering menguntit diriku, tapi tetap saja nggak bisa kugendong-gendong.

Ketika kami les menari, Lili tidak bisa ambil bagian. Padahal kata dia, dia ingin sekali belajar menari. Karena itu dulu beberapa kali aku mengajari Lili menari. He he sok-sokan banget, padahal aku juga payah dalam menari. Ketika kami kelas 6, dia pun tidak bisa ikut les pelajaran sekolah seperti yang aku dan teman-teman lain lakukan. Hebatnya, dia masih selalu memberikan tawanya yang crunchy dan senyumnya yang manis setiap kali berpapasan dengan kami yang pulang les.

Saat aku selalu menemukan bunga di dalam tas sekolahku, aku juga cerita sama Lili. Dasar anak-anak, kami selalu menghubungkannya dengan hal-hal yang mistis. Hingga suatu ketika, bunga-bunga misterius itu kehilangan misterinya.

“Ta, belakangan di tas kamu selalu ada bunga ya?” tanya cimonku suatu hari.
“Iya. Serem banget.”
“Serem?”
“Iya, soalnya itu kan bunga kamboja. Kok bisa ya bunga itu ada di tasku. Serem banget kan.”
“Itu aku yang naroh.”
“Hah? Apa? Kok bunga kamboja sih? Pasti kamu ambil dari kuburan situ ya? Jangan-jangan yang waktu itu naroh batu bara di tasku kamu juga?”
(Kira-kira begitulah dialog yang terjadi.)

Begitu mengetahui rahasia di balik misteri bunga di dalam tasku, Lili tertawa cekakakan. Ternyata orang yang membuat kami takut selama ini adalah si cimon itu.

Ingat juga waktu kami mengagumi burung bangau yang ditangkap tetangga Lili. Juga saat kami menguburkan ayam yang tertabrak bus plus menggelar doa bersama selama 7 hari. Lalu waktu Lili memberiku anak ayam. Ayam itu kusuapi beras tiap hari, kuselimuti setiap saat biar nggak kedinginan, kutaruh di keranjang sepeda yang sudah copot, dan benar-benar kuamankan dari jangkauan Oscar (kucingku saat itu). Tidak lupa ayam itu kumandikan juga. Dulu aku berpikir kalau ayam diasuh layaknya manusia, dia akan berbicara seperti manusia juga (he he kekonyolanku waktu kecil). Eh nggak lama, ayamnya malah mati.

Ah terlalu banyak cerita denganmu, Li. Terimakasih pernah menjadi salah satu teman baikku. Semoga di sana, kamu mendapat tempat yang jauh lebih baik. Tempat yang hangat, yang bisa membuatmu selalu tersenyum dan tertawa. Semoga dijauhkan dari siksa kubur dan neraka. Semoga damai di sisi Allah ya Li….