Tags

, ,

Gara-gara memposting tulisan tentang senjata berjenis senapan, saya jadi kepikiran untuk memposting pengalaman saya dan teman-teman sekelas ketika menyambangi PT Pindad. Di sana, kami berkesempatan menjajal senapan serbu produksi lokal. Tidak hanya itu, kami pun dibolehkan menaiki dan menumpang panser yang ada.

(Menumpang panser)

Sebenarnya pengalaman sehari di Pindad sudah pernah saya tulis. Tapi sekarang saya akan menyertakan sekilas profil senapan serbu buatan anak negeri ini.

Maret tahun lalu, saya dan teman-teman sekelas bertamu ke PT Pindad. Setelah mendapat sedikit penjelasan tentang sejarah PT Pindad, kami diajak berkeliling kawasan tersebut. Pertama, kami berkunjung ke tempat pembuatan kendaraan lapis baja beroda ban atau yang sering disebut panser. Panser buatan Pindad yang merupakan Armored Personal Carrier (APC) telah dibawa dalam sejumlah misi perdamaian PBB bersama dengan Pasukan Garuda.

(Chris menjajal duduk di APC Ambulans)

Usai melihat-lihat proses perakitan panser, plus naik-naik ke atas kendaraan tersebut, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi tembak. Di sana kami dapat melihat berbagai varian senjata serbu (SS) 1 maupun 2, juga dibolehkan memegang pistol P2. Sejumlah amunisi berbagai kaliber pun dapat kami saksikan.

(Konsen membidik target)

Yeah, saatnya mencoba membidik target dengan SS2. Beberapa teman mencoba menembak dengan posisi berdiri. Tapi saya lebih suka menggunakan bantuan penyangga, karena lebih stabil sehingga lebih mudah dalam membidik target, yaitu balon aneka warna yang digantung nun jauh di depan sana.

Untuk melindungi gendang telinga dari dentuman peluru yang demikian keras, kami dipersilakan mengenakan penutup telinga. Satu demi satu penghuni kelas menjajal senapan itu, termasuk Dr Chris Couldrick yang merupakan dosen kami.

(Mendengarkan instruksi sebelum menembak)

Itu pengalaman pertama saya menembak dengan senjata betulan. Sebelumnya saya hanya pernah memegang pistol air dan pistol mainan lainnya. Saya membutuhkan dua peluru untuk ‘menaklukan’ target. Peluru pertama meleset. Nah, baru peluru kedua yang sukses meletuskan balon biru yang digantung beberapa meter di depan kami. Hmm, cukup mudah menggunakan senjata tersebut. Mungkin kalau terus dilatih saya bisa menjadi sniper hebat he he he.

Sebenarnya saya berniat membawa selongsong kosong peluru untuk kenang-kenangan, namun tidak dibolehkan. Karena kalau selongsong itu sampai terjatuh di luar sana dan ditemukan orang bisa menimbulkan dugaan yang tidak-tidak.

SS ini konon terkenal akan akurasinya yang tinggi bila di bandingkan dengan M-16 buatan Amerika dan AK47 buatan Rusia namun daya tahannya masih dibawah AK-47 dan di atas M-16. Meski demikian, kurang mematikan bila dibandingkan AK-47 karena kalibernya yang kecil.

(Gambar SS1: wikipedia.com)

SS1 menggunakan peluru kaliber 5.56 x 45 mm standar NATO dan memiliki berat kosong 4,01 kg. Senapan ini bersama-sama dengan M16, Steyr AUG dan AK-47 menjadi senapan standar TNI dan POLRI, tapi karena diproduksi di Indonesia, senapan ini paling banyak digunakan. SS-1 diproduksi dalam 2 konfigurasi utama, yaitu senapan standard dan karabin pendek. Versi senapan standar disebut SS1-V1 (FNC “Standard” Model 2000) dan karabin disebut SS1-V2 (FNC “Short” Model 7000). Kedua varian diatas dilengkapi dengan barrel yang berisi pelintiran tembakan tangan kanan sepanjang 178 mm (untuk stabilisasi mengantisipasi peluru SS109 belgia yang lebih berat).

Varian SS1

SS1-V1 — Varian dasar bagi SS1. Laras standar dengan popor lipat.
SS1-V2 — Varian pendek dari SS1, larasnya diperpendek.
SS1-V3 — Varian standar dengan popor tetap.
SS1-V4 — Serupa dengan varian V1, ditambah dengan teleskop.
SS1-V5 — Varian terkecil dari semua varian dengan laras 252 mm dan berat 3,37 kg dan popor lipat. Dirancang untuk teknisi, operator artileri, kru tank, pasukan garis belakang, dan pasukan khusus.
SS1-R5 — Sub varian V5 yang dirancang khusus untuk pasukan khusus terbaru TNI Raider. R adalah kependekan dari Raider dan R5 dibuat khusus untuk batalyon ini saja. SS1-R5 memiliki rancangan lebih ramping dan ringan.
SS1 seri M — Dibuat untuk korps Marinir. Dengan proses pengecatan spesial untuk menahan air laut dan tidak mudah berkarat. Varian ini dirancang untuk tetap dapat digunakan setelah masuk lumpur atau pasir. Terdapat tiga varian: M1 dengan laras panjang dan popor lipat; M2 dengan laras pendek dan popor lipat; dan M5 Commando.
Sabhara V1-V2 — Pengembangan varian ini dikhususkan untuk kepolisian, yaitu perlunya kemampuan melumpuhkan bukan membunuh. Varian ini menggunakan peluru 7.62 x 45 mm PT Pindad.

Spesifikasi SS1

Berat: 4,01 kg (kosong)
Panjang: 997 m
Magazen: 5.56 x 45 mm NATO, .223 Remington
Kaliber: 5.56 x 45 mm
Mekanisme: Operasi gas, bolt berputar
Rata-rata tembakan: 700 butir/menit
Kecepatan peluru: 710 m/s
Jarak efektif: 450 m
Amunisi: Magazen box 30-butir
Alat bidik: Bidikan besi

(Gambar ss2: wikipedia.com)

Sedangkan SS2 merupakan generasi kedua dari senapan serbu Pindad sebelumnya, SS1. SS2 diklaim memiliki desain yang lebih ergonomis, tahan terhadap kelembaban tinggi, memiliki berat yang lebih ringan, serta akurasi yang lebih baik. Senapan ini menggunakan peluru kaliber 5.56 x 45 mm standar NATO dan memiliki berat kosong 3,2 kg, sebagai catatan SS1 varian awal memiliki berat kosong 4,01 kg.

Spesifikasi SS2

Berat: 3,2 kg (kosong)
Panjang: 930 mm
Panjang: Laras 460 mm
Magaze: 5.56 x 45 mm NATO, .223 Remington
Kalibe: 5.56 x 45 mm
Mekanisme: Piston gas, bolt berputar
Rata-rata tembakan: 700 butir/menit
Kecepatan peluru: 710 m/s
Jarak efektif: 450 m
Amunisi: Magazen box 30-butir
Alat bidik: Bidikan besi

Sumber: wikipedia