Tags

Bengawan Solo
Riwayatmu ini
Sedari dulu jadi
Perhatian insani
….

Lagu Bengawan Solo itu demikian populer meski sudah berumur 70 tahun. Lagu yang mengisahkan dengan gaya nostalgic Sungai Bengawan Solo yang mengalir di Jawa Tengah itu tidak hanya dinyanyikan di Indonesia. Setelah Perang Dunia II, pasukan Jepang yang kembali ke negaranya membawa lagu ini bersama mereka. Di sana, lagu ini menjadi populer setelah dinyanyikan berbagai penyanyi, di antaranya Toshi Matsuda.

Bukan hanya Jepang, lagu Bengawan Solo juga mendapat tempat di negara lainnya. Hal itu dibuktikan dengan diterjemahkannya lagu tersebut setidaknya ke dalam 13 bahasa (termasuk bahasa Inggris, bahasa Tionghoa, dan bahasa Jepang).

Gesang Martohartono adalah maestro di balik lagu keroncong yang populer itu. Pria kelahiran Surakarta 1 Oktober 1917 ini mencipta lagu Bengawan Solo di usianya yang 23 tahun. Proses pembuatan lagu itu memakan waktu 6 bulan. Sebenarnya, dia bukanlah pencipta lagu. Inspirasi mencipta lagu itu muncul ketika dia sedang duduk di tepi Sungai Bengawan Solo. Tapi siapa sangka jika lagu tersebut kemudian begitu dikenal seolah tak lekang dimakan jaman. Bahkan Lagu Bengawan Solo digunakan di salah satu film layar lebar Jepang.

Gesang telah berpisah dengan istrinya pada 1962 dan memilih untuk hidup sendiri. Dari pernikahannya, Gesang tidak memiliki anak. Di hari tuanya pria 93 tahun itu tinggal bersama keponakan dan keluarganya, setelah sebelumnya tinggal di rumahnya Perumnas Palur pemberian Walikota Surakarta tahun 1984 selama 20 tahun.

Gesang pada awalnya bukanlah seorang pencipta lagu. Dulu, ia hanya seorang penyanyi lagu-lagu keroncong untuk acara dan pesta kecil-kecilan di kota Solo. Ia juga pernah menciptakan beberapa lagu, seperti Keroncong Roda Dunia, Keroncong si Piatu, dan Sapu Tangan, pada masa PD II. Sayang, ketiga lagu ini kurang mendapat sambutan dari masyarakat.

Jepang mendirikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo sebagai bentuk penghargaan atas jasanya terhadap perkembangan musik keroncong pada tahun 1983. Pengelolaan taman ini didanai oleh Dana Gesang, sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang di Jepang.

Kini sang maestro keroncong itu telah pergi tanpa pesan. Namun dia meninggalkan karya-karyanya sebagai warisan untuk Negeri ini. Bukan hanya lagu Bengawan Solo, tapi juga mahakaryanya yang lain seperi lagu Jembatan Merah, Caping Gunung, dan Pamitan. Gesang menghembuskan nafas terakhirnya pada Kamis 20 Mei 2010 di RS PKU Muhamadiyah, Surakarta.

Gesang mulai dirawat di RS pada Rabu pekan lalu karena keshatannya menurun. Pada 16 Mei dia dipindahkan ke ICU untuk mendapat perawatan yang lebih intensif lantaran kesehatannya yang semakin menurun. Rumah sakit bahkan membentuk sebuah tim untuk menangani kesehatan yang terdiri dari lima dokter spesialis yang berbeda. Namun Gesang tetap pergi memenuhi panggilan-Nya.

Selamat jalan, Maestro…. Semoga damai di sisi-Nya.

-Wikipedia-
-tempointeraktif.com-