Beberapa waktu lalu ngobrol dengan guru les Italia di Pusat Bahasa ITB. Kami lagi sok curhat-curhatan gitu. Tentu saja kami tidak ngobrol dengan bahasa Italia karena nanti guru les itu bisa lumutan nungguin otakku selesai mentranslate apa yang mau aku omongin. Jadi kami menggunakan bahasa persatuan: Bahasa Indonesia. Pria 100% asli Italia itu sedikit cerita awal mula dia mendapat pekerjaan di Indonesia. Katanya, dia datang ke Bandung karena menggantikan guru Bahasa Italia sebelumnya, Daria Fusco.

Hmm Daria, aku sempat sih jadi muridnya waktu di Jakarta. Dan aku pernah membuat tulisan tentang dia. Bukan tulisan yang menyenangkan memang. Ini tulisannya (ada yang kuubah sedikit).

PR Dari Bu Guru yang Tertinggal
detikNews

Jakarta – Tak ada yang menyangka, kehidupannya perempuan Italia itu sangat singkat. Daria Fusco kini terbujur kaku lantaran ditabrak bus TransJakarta.

Daria belum lama tinggal di Jakarta, baru sekitar dua minggu saja. Sebelumnya, sekitar setahun, dia mengajar bahasa Italia di Institut Teknologi Bandung (ITB). “Saya lantas dipanggil ke sini (Jakarta) untuk mengajar di Pusat Kebudayaan Italia,” ujar Daria ketika memperkenalkan diri di hadapan beberapa muridnya yang mengikuti kursus di Pusat Kebudayaan Italia (Istituto Italiano di Cultura) Jakarta pada Selasa 7 Agustus lalu.

Perempuan berkacamata dan berambut sebahu itu sekilas memang tampak pendiam. Namun, dia akan bercerita panjang lebar bila ditanya soal negaranya, ataupun daerah asalnya, Torino.

Ketika mendengar kabar tewasnya Daria, murid-murid bimbingan kursusnya pun tak percaya. Maklum, mereka baru sekitar seminggu mendapat bimbingan kursus dari Daria. “Masak sih Daria itu? Ya ampun, sampai merinding aku. Berarti Kamis (9/8/2007) lalu itu ya ketemu terakhir,” kata salah satu siswa, Agung, kepada detikcom, Selasa (14/8/2007).

Di hari Kamis pekan lalu, tidak ada yang berbeda dari Daria. Perempuan berumur 31 tahun yang masih single itu memang sempat terlihat kesal karena tape recorder bermasalah. Akibatnya, dia tidak bisa memutar kaset percakapan. Di akhir pertemuan kursus, perempuan yang bisa sedikit berbahasa Indonesia itu bahkan sempat memberikan pekerjaan rumah.

“Kita bertemu Selasa depan. Dan yang nomor 5 untuk pekerjaan rumah,” katanya sebelum mempresensi para siswanya satu per satu.

Ternyata, pekerjaan rumah itu tidak akan pernah bisa diperiksa Daria. Sebab, dia terlebih dahulu dipanggil Yang Kuasa. Pada Senin (13/8/2007), Daria turun dari taksi di depan Dephan, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta. Dia dengan tergesa-gesa langsung menyeberang jalan. Diduga kurang waspada, Daria pun ditabrak bus Transjakarta. Dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Kini sosok yang sabar itu telah pergi, membawa secuil kenangan anak-anak didiknya. Ciao la mia insegnante. Selamat jalan Bu Guru…. (nvt/sss)

–Kematian itu begitu dekat dengan hidup. Dan kematian itu pasti–